alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Pasien Bertambah, Ruangan Krisis, Rumah Sakit Rekrut Nakes Kontrak

MARABAHAN – Kapasitas kesehatan benar-benar teruji di masa pandemi. Rumah Sakit Daerah Idaman (RSDI) Banjarbaru misalnya kekurangan jumlah ruangan untuk Covid-19. Selain itu tenaga kesehatan mulai kewalahan karena banyak kolega mereka yang terjangkit.

Kondisi ini pun memaksa manajemen pihak RSDI Banjarbaru melakukan penutupan layanan. Pelayanan direncanakan ditutup selama sepekan hingga tanggal 8 Agustus. Bahkan akses masuk ke RSDI juga diportal.

“Pengecualian untuk layanan kegawatan kebidanan seperti mau bersalin, keguguran atau pendarahan. Selain itu masih ditutup,” konfirmasi Kabag Tata Usaha RSDI Banjarbaru, Firmansyah.

Pertimbangan lainnya penutupan layanan dipengaruhi oleh banyaknya tenaga kesehatan mereka yang menjalani karantina atau isolasi mandiri gegara tertular Covid-19 saat melalukan pelayanan.

“Jika ditotal sudah ada lebih dari 200 nakes RSD Isaman yang menjalani Isoman sampai sekarang ini. IGD juga sistem buka tutup, untuk kondisi sekarang tutup dulu sampai nanti ada perubahan lagi,” jawabnya.

RSUD H Abdul Aziz Marabahan juga kekurangan satu ruangan dari jumlah Pasien Covid-19 yang dirawat. Untuk sementara, satu pasien ini dirawat di IGD rumah sakit.

“Untuk sementara satu pasien masih di IGD. Ruang penuh dan ruang baru yang disediakan masih dalam proses persiapan,” ujar Supriadi, Supervisor RSUD Abdul Aziz Marabahan kepada Radar Banjarmasin.

Supriadi menambahkan satu pasien yang dirawat di IGD masih berkemungkinan di pindahkan ke ruang isolasi yang disediakan. Hanya saja tidak di dalam ruangan. Mungkin akan dirawat di selasar ruangan.

Dia mengatakan tenaga kesehatan yang diperlukan untuk ruang baru ini sebanyak 13 orang. “Sampai saat ini, sudah terisi 11 orang yang direkrut dari internal dan pendaftar dari luar,” ungkapnya sembari mengatakan masih kurang dua tenaga perawat.

Selain persiapan ruang isolasi baru, kesiapan nakes, dan jumlah bed yang sudah penuh, Supriadi mengaku untuk obat-obatan dapat dikatakan aman. Sejak awal Covid-19, persediaan obat-obatan selalu aman. “Untuk oksigen masih terkendali. Setiap hari ada saja yang datang,” ujarnya.

Di RSUD Brigjend H. Hassan Basry Kandangan, manajemen terus mempersiapkan berbagai kebutuhan mulai dari tenaga kesehatan (Nakes) sampai tempat tidur atau bed.

Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Medik dan Penunjang Medik RSUD Brigjend H.Hasan Basry Kandangan, Ismayanti mengatakan tempat tidur atau bed yang disediakan sementara sebanyak 120 unit. “Dari tempat tidur disediakan sudah terpakai 84 tempat tidur atau bed,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (3/8) kemarin.

Meningkatnya kasus Covid-19 membuat beberapa pelayanan di RSUD Brigjen H Hasan Basry Kandangan yang menjadi rumah sakit rujukan dari Banua Anam sementara ditutup. “Pelayanan yang ditutup sementara ruang RPD yang berada di lantai dua, ruang syaraf, ruang anak dan ruang paru dan ruang VIP” tutur Isma.

RSUD Datu Sanggul Rantau, Milhan mengatakan tidak ada masalah dengan bed. Yang menjadi masalah hanyalah oksigen yang minim. “Hampir rata-rata menggunakan oksigen. Jadi keperluan oksigen yang kritis,” ucapnya.

Setiap hari rumah sakit mengambil ke distributor, jatahnya hanya 30 tabung. “Kalau diambil pagi, sorenya sudah habis dipakai. Kemudian diambil lagi sore, paginya juga habis,” ucapnya seraya mengatakan obat-obatan di RSUD Datu Sanggul masih aman.

Lain halnya dengan RSUD Pambalah Batung di Amuntai. Rumah sakit ini mulai kehabisan obat-obatan untuk keperluan penanganan Covid-19. Direktur RSUD Pambalah Batung Mochammad Yandi mengatakan telah melaporkan permasalahan ini ke Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel.

“Kira-kira sepekan ketersediaan obat sudah datang lagi khusus pasien Covid-19,” lengkapnya. Dia sendiri berniat menyiagakan 134 nakes terdiri 13 tenaga dokter baik umum dan spesialis untuk mengantisipasi lonjakan pasien Covid-19. (rvn/bar/shn/dly/shn/mar/ran/ema)

MARABAHAN – Kapasitas kesehatan benar-benar teruji di masa pandemi. Rumah Sakit Daerah Idaman (RSDI) Banjarbaru misalnya kekurangan jumlah ruangan untuk Covid-19. Selain itu tenaga kesehatan mulai kewalahan karena banyak kolega mereka yang terjangkit.

Kondisi ini pun memaksa manajemen pihak RSDI Banjarbaru melakukan penutupan layanan. Pelayanan direncanakan ditutup selama sepekan hingga tanggal 8 Agustus. Bahkan akses masuk ke RSDI juga diportal.

“Pengecualian untuk layanan kegawatan kebidanan seperti mau bersalin, keguguran atau pendarahan. Selain itu masih ditutup,” konfirmasi Kabag Tata Usaha RSDI Banjarbaru, Firmansyah.

Pertimbangan lainnya penutupan layanan dipengaruhi oleh banyaknya tenaga kesehatan mereka yang menjalani karantina atau isolasi mandiri gegara tertular Covid-19 saat melalukan pelayanan.

“Jika ditotal sudah ada lebih dari 200 nakes RSD Isaman yang menjalani Isoman sampai sekarang ini. IGD juga sistem buka tutup, untuk kondisi sekarang tutup dulu sampai nanti ada perubahan lagi,” jawabnya.

RSUD H Abdul Aziz Marabahan juga kekurangan satu ruangan dari jumlah Pasien Covid-19 yang dirawat. Untuk sementara, satu pasien ini dirawat di IGD rumah sakit.

“Untuk sementara satu pasien masih di IGD. Ruang penuh dan ruang baru yang disediakan masih dalam proses persiapan,” ujar Supriadi, Supervisor RSUD Abdul Aziz Marabahan kepada Radar Banjarmasin.

Supriadi menambahkan satu pasien yang dirawat di IGD masih berkemungkinan di pindahkan ke ruang isolasi yang disediakan. Hanya saja tidak di dalam ruangan. Mungkin akan dirawat di selasar ruangan.

Dia mengatakan tenaga kesehatan yang diperlukan untuk ruang baru ini sebanyak 13 orang. “Sampai saat ini, sudah terisi 11 orang yang direkrut dari internal dan pendaftar dari luar,” ungkapnya sembari mengatakan masih kurang dua tenaga perawat.

Selain persiapan ruang isolasi baru, kesiapan nakes, dan jumlah bed yang sudah penuh, Supriadi mengaku untuk obat-obatan dapat dikatakan aman. Sejak awal Covid-19, persediaan obat-obatan selalu aman. “Untuk oksigen masih terkendali. Setiap hari ada saja yang datang,” ujarnya.

Di RSUD Brigjend H. Hassan Basry Kandangan, manajemen terus mempersiapkan berbagai kebutuhan mulai dari tenaga kesehatan (Nakes) sampai tempat tidur atau bed.

Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Medik dan Penunjang Medik RSUD Brigjend H.Hasan Basry Kandangan, Ismayanti mengatakan tempat tidur atau bed yang disediakan sementara sebanyak 120 unit. “Dari tempat tidur disediakan sudah terpakai 84 tempat tidur atau bed,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (3/8) kemarin.

Meningkatnya kasus Covid-19 membuat beberapa pelayanan di RSUD Brigjen H Hasan Basry Kandangan yang menjadi rumah sakit rujukan dari Banua Anam sementara ditutup. “Pelayanan yang ditutup sementara ruang RPD yang berada di lantai dua, ruang syaraf, ruang anak dan ruang paru dan ruang VIP” tutur Isma.

RSUD Datu Sanggul Rantau, Milhan mengatakan tidak ada masalah dengan bed. Yang menjadi masalah hanyalah oksigen yang minim. “Hampir rata-rata menggunakan oksigen. Jadi keperluan oksigen yang kritis,” ucapnya.

Setiap hari rumah sakit mengambil ke distributor, jatahnya hanya 30 tabung. “Kalau diambil pagi, sorenya sudah habis dipakai. Kemudian diambil lagi sore, paginya juga habis,” ucapnya seraya mengatakan obat-obatan di RSUD Datu Sanggul masih aman.

Lain halnya dengan RSUD Pambalah Batung di Amuntai. Rumah sakit ini mulai kehabisan obat-obatan untuk keperluan penanganan Covid-19. Direktur RSUD Pambalah Batung Mochammad Yandi mengatakan telah melaporkan permasalahan ini ke Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel.

“Kira-kira sepekan ketersediaan obat sudah datang lagi khusus pasien Covid-19,” lengkapnya. Dia sendiri berniat menyiagakan 134 nakes terdiri 13 tenaga dokter baik umum dan spesialis untuk mengantisipasi lonjakan pasien Covid-19. (rvn/bar/shn/dly/shn/mar/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/