alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Sunday, 26 June 2022

Kerajinan Gelang Simpai Banjarmasin, Bertahan Meski Tak Lagi Melapak

Berkunjung ke Kalimantan Selatan, rasanya kurang lengkap jika pulang dengan pergelangan tangan kosong. Tanpa dililit oleh gelang simpai.

— Oleh: TIA LALITA NOVITRI, Banjarmasin

Dulu, gelang simpai hanya dipakai kalangan mahasiswa pencinta alam. Untuk memperolehnya harus mendaki ke pegunungan Meratus. Dianyam langsung di tangan hingga baru bisa dilepas ketika sudah putus.

Favehotel Banjarmasin

Sekarang, simpai bisa dibeli di Banjarmasin sebagai buah tangan.

Usaha itu dirintis Rizky Subakya. Meski sedang PPKM, sampai kemarin, pemuda 22 tahun itu masih mengerjakan orderan.

Dimulai tahun 2017, dulu Rizky dan pengrajin simpai lainnya kerap melapak di kawasan Menara Pandang, Siring Pierre Tendean. Namun, sejak corona mewabah dan objek wisata tepian Sungai Martapura itu ditutup, Rizky harus bermain solo.

“Dulu sama kawan-kawan melapak di siring. Sejak pandemi, saya membuka penjualan online lewat nama Gelang Simpai Banjarmasin,” ujarnya kemarin (29/7).

Simpai adalah aksesori yang sederhana. Dianyam dari akar jengang. Tumbuhan pakis yang tumbuh subur di hutan Kalimantan.

“Bahan mentahnya diambil dari sekitar Marabahan. Jadi memang agak berbeda dengan bahan yang biasa dipakai pengrajin di Loksado,” jelasnya.

Disebut sederhana pun, ternyata tidak mudah. Perlu proses.

Setelah dipilah, akar direndam. Lama perendaman akan mempengaruhi tingkat kepekatan warna.
“Direndam dulu sampai mendapatkan warna yang diinginkan,” ujarnya.

Warna-warna gelang simpai umumnya terdiri atas tiga tone. Cokelat, hitam pekat dan putih. Ini penting, apalagi jika pemesan meminta anyaman bermotif.

“Khusus untuk mendapatkan warna putihnya saya memakai olahan rotan,” tukas Rizky.

Ada banyak motif anyaman yang Rizky kuasai. Seperti panah, anyaman tikar purun, bilah lidi dan masih banyak lagi.

Bertahun-tahun melayani konsumen, Rizky kerap menerima orderan motif gigi haruan dan banyu. Motif ini menjadi populer berkat lekukannya. Lebih tegas dan mencolok saat dikenakan.

“Yang paling laku gelang dua jalur berwarna hitam polos,” sebutnya.

Simpai disukai karena nuansa etniknya. Itulah yang membuat turis menyukainya.

Selain itu, cocok untuk perempuan maupun pria. Bagi anak muda, lebih-lebih karena harganya yang terjangkau.

Rizky pun mematok tarif yang wajar. Yakni Rp20 ribu untuk satu jalur gelang. Dalam sehari ia sanggup membuat anyaman gelang hingga 10 jalur.

Perihal keterampilan ini, tentu tidak instan atau hasil menonton tutorial di YouTube.

Keterampilan ini diperoleh dari tradisi turun-temurun keluarganya. Rizky asli suku Dayak. Berasal dari Mentangai, Kapuas, Kalimantan Tengah.

Menganyam sudah menjadi rutinitas yang ia pelajari sejak kecil. “Di daerah kami, gelang simpai ini disebut gelang bruta,” kisahnya.

Sempat terusik pandemi, Rizky masih yakin untuk menekuni bisnis ini. “Bahkan belakangan semakin ramai, pembeli tidak cuma dari Banjarmasin, tetapi sampai Pulau Jawa,” bebernya.

Khusus untuk pembelian luar pulau, Rizky menyediakan gelang simpai yang bisa dilepas pasang. Dengan memodifikasinya menggunakan penyambung kawat sebagai pengunci.

Sementara yang ingin dibuatkan langsung, bisa mendatangi rumahnya di Kompleks Cempaka Putih, Jalan Kuripan, Banjarmasin. “Info lengkap kunjungi akun Instagram @gelangsimpaibanjarmasin,” ucapnya.

Selain gelang, anyaman simpai juga bisa diolah menjadi cincin, gelang lengan atau kelat bahu, hingga kalung.
“Pesanan paling nyeleneh, seorang turis bule meminta dibikinkan gelang leher,” tutur Rizky.

Jangan ragu soal ketahanan. Gelang ini bisa bertahan hingga lima tahun lebih. Apalagi jika dirawat. Simpel saja, yakni dengan mengolesikan dengan minyak zaitun.

“Oleskan minyak zaitun atau urang aring sepekan tiga kali. Lebih bagus lagi setiap sehabis mandi, biar tidak memutih karena sehabis terkena sabun,” tuntasnya. (fud/ema)

Berkunjung ke Kalimantan Selatan, rasanya kurang lengkap jika pulang dengan pergelangan tangan kosong. Tanpa dililit oleh gelang simpai.

— Oleh: TIA LALITA NOVITRI, Banjarmasin

Dulu, gelang simpai hanya dipakai kalangan mahasiswa pencinta alam. Untuk memperolehnya harus mendaki ke pegunungan Meratus. Dianyam langsung di tangan hingga baru bisa dilepas ketika sudah putus.

Favehotel Banjarmasin

Sekarang, simpai bisa dibeli di Banjarmasin sebagai buah tangan.

Usaha itu dirintis Rizky Subakya. Meski sedang PPKM, sampai kemarin, pemuda 22 tahun itu masih mengerjakan orderan.

Dimulai tahun 2017, dulu Rizky dan pengrajin simpai lainnya kerap melapak di kawasan Menara Pandang, Siring Pierre Tendean. Namun, sejak corona mewabah dan objek wisata tepian Sungai Martapura itu ditutup, Rizky harus bermain solo.

“Dulu sama kawan-kawan melapak di siring. Sejak pandemi, saya membuka penjualan online lewat nama Gelang Simpai Banjarmasin,” ujarnya kemarin (29/7).

Simpai adalah aksesori yang sederhana. Dianyam dari akar jengang. Tumbuhan pakis yang tumbuh subur di hutan Kalimantan.

“Bahan mentahnya diambil dari sekitar Marabahan. Jadi memang agak berbeda dengan bahan yang biasa dipakai pengrajin di Loksado,” jelasnya.

Disebut sederhana pun, ternyata tidak mudah. Perlu proses.

Setelah dipilah, akar direndam. Lama perendaman akan mempengaruhi tingkat kepekatan warna.
“Direndam dulu sampai mendapatkan warna yang diinginkan,” ujarnya.

Warna-warna gelang simpai umumnya terdiri atas tiga tone. Cokelat, hitam pekat dan putih. Ini penting, apalagi jika pemesan meminta anyaman bermotif.

“Khusus untuk mendapatkan warna putihnya saya memakai olahan rotan,” tukas Rizky.

Ada banyak motif anyaman yang Rizky kuasai. Seperti panah, anyaman tikar purun, bilah lidi dan masih banyak lagi.

Bertahun-tahun melayani konsumen, Rizky kerap menerima orderan motif gigi haruan dan banyu. Motif ini menjadi populer berkat lekukannya. Lebih tegas dan mencolok saat dikenakan.

“Yang paling laku gelang dua jalur berwarna hitam polos,” sebutnya.

Simpai disukai karena nuansa etniknya. Itulah yang membuat turis menyukainya.

Selain itu, cocok untuk perempuan maupun pria. Bagi anak muda, lebih-lebih karena harganya yang terjangkau.

Rizky pun mematok tarif yang wajar. Yakni Rp20 ribu untuk satu jalur gelang. Dalam sehari ia sanggup membuat anyaman gelang hingga 10 jalur.

Perihal keterampilan ini, tentu tidak instan atau hasil menonton tutorial di YouTube.

Keterampilan ini diperoleh dari tradisi turun-temurun keluarganya. Rizky asli suku Dayak. Berasal dari Mentangai, Kapuas, Kalimantan Tengah.

Menganyam sudah menjadi rutinitas yang ia pelajari sejak kecil. “Di daerah kami, gelang simpai ini disebut gelang bruta,” kisahnya.

Sempat terusik pandemi, Rizky masih yakin untuk menekuni bisnis ini. “Bahkan belakangan semakin ramai, pembeli tidak cuma dari Banjarmasin, tetapi sampai Pulau Jawa,” bebernya.

Khusus untuk pembelian luar pulau, Rizky menyediakan gelang simpai yang bisa dilepas pasang. Dengan memodifikasinya menggunakan penyambung kawat sebagai pengunci.

Sementara yang ingin dibuatkan langsung, bisa mendatangi rumahnya di Kompleks Cempaka Putih, Jalan Kuripan, Banjarmasin. “Info lengkap kunjungi akun Instagram @gelangsimpaibanjarmasin,” ucapnya.

Selain gelang, anyaman simpai juga bisa diolah menjadi cincin, gelang lengan atau kelat bahu, hingga kalung.
“Pesanan paling nyeleneh, seorang turis bule meminta dibikinkan gelang leher,” tutur Rizky.

Jangan ragu soal ketahanan. Gelang ini bisa bertahan hingga lima tahun lebih. Apalagi jika dirawat. Simpel saja, yakni dengan mengolesikan dengan minyak zaitun.

“Oleskan minyak zaitun atau urang aring sepekan tiga kali. Lebih bagus lagi setiap sehabis mandi, biar tidak memutih karena sehabis terkena sabun,” tuntasnya. (fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/