alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Bisnis Kreatif Florist Banjarmasin: Pandemi Berarti Ekstra Marketing

Berbisnis di bidang non kebutuhan primer, Poppy Florist sudah pasti merasakan dampak ekonomi dari pandemi. (Baca dulu part 1: Bisnis Kreatif Florist Banjarmasin: Mawar dan Baby’s Breath Jadi Primadona)

— Oleh: TIA LALITA NOVITRI, Banjarmasin

Setahun lebih, virus COVID-19 tak menunjukkan tanda-tanda hendak berdamai. Malah Banjarmasin harus memasuki masa darurat lewat PPKM level 4.

Favehotel Banjarmasin

Jelas bukan masa yang mudah bagi toko bunga di Jalan Kampung Melayu Darat dan Jalan Anang Adenansi ini. Penurunan omzet jelas dirasakan.

Apalagi untuk penjualan buket khusus wedding dan papan ucapan. Dua varian produk yang menjadi andalan sebelum pandemi.

“Selama covid, pesanan dua jenis produk ini menurun drastis. Mungkin sampai 50 persen,” tutur Nur Fatimah, karyawan marketing Poppy Florist.

Tak heran, sebab pesta atau hajatan pernikahan memang dibatasi selama pandemi. Lantas, bagaimana triknya untuk bertahan?

Beruntung pesanan rangkaian bunga jenis lainnya tetap berjalan normal. Seperti buket original, flower vas, standing flowers dan sebagainya.

Perbedaan buket original dan wedding ada di bagian penataan. Buket original menggunakan tambahan kertas motif, kertas tisu, jaring kertas, mika dan pita. Sementara buket wedding dirangkai lebih sederhana dengan diikat pita.

“Pesanan buket biasa tetap normal selama pandemi,” ujar Fatimah. Bunga ini kerap dijadikan hadiah untuk orang-orang spesial.

Sementara standing flower dan vas kerap dipesan untuk ucapan selamat kepada kolega bisnis. “Dominan buat ucapan selamat pembukaan perusahaan atau semacamnya,” jelasnya.

Selama pandemi, Poppy Florist lebih mengandalkan penjualan online. Menjangkau tak hanya pembeli dalam kota, tetapi hingga luar kota. Tersedia di berbagai platform, toko ini kerap menerima orderan dari luar pulau.

Mereka harus bekerja ekstra, terutama tim pemasaran. Dengan membagikan brosur, menawarkan produk ke sejumlah perkantoran, bank, perusahaan dan ritel. “Jadi memang harus berpikir ekstra,” ucap Fatimah.

Selain itu media promosi seperti Instagram juga sangat diandalkan. Selain rutin membuat postingan, mereka juga memanfaatkan kekuatan influenser Banua dalam promosi.

“Aktif bikin endorsement, bahkan kami menunjuk Princess Keket sebagai brand ambassador untuk produk Poppy Florist,” beber Fatimah.

Influenser berpengikut 45 ribu itu rutin membuat postingan promosi di Instagram setiap pekannya. Membuat Poppy Florist semakin dikenal.

Dalam sepekan, toko ini menghasilkan setidaknya 20 hingga 30 produk rangkaian bunga aneka ukuran dan varian. Cukup banyak untuk masa sulit ini.

Salah seorang florist toko ini, Ade Syahida (21) mengaku optimis dengan bisnis ini. Meski bukan kebutuhan primer, bunga tetap dibutuhkan saat momen-momen tertentu. Apalagi bisnis ini tak banyak dilakoni, saingannya masih sedikit.

Cara lain agar tetap bertahan adalah dengan menyesuaikan tren. Sebagai contoh, selama pandemi tren bunga kering memang sedang “in”. Selama WFH, orang berlomba menghias ruang menjadi lebih estetis. Salah satunya dengan menyematkan bunga kering di sudut ruangan.

“Di toko kami juga menjual dried flower,” ujar Ade. Jenisnya beragam. Seperti bunga pampas, phalaris, ranting ceker ayam, veronia, bunga jagung, palm leaf dan sebagainya.

Bunga-bunga kering ini tak hanya disukai oleh penikmat ruang estetis. Tetapi juga sejumlah pebisnis. Karena bunga kering cocok dijadika ornamen tambahan untuk foto produk. Baik makanan, kosmetik, aksesori dan lain-lain. “Dried flower juga kerap dibeli oleh pasangan prewedding,” tambah Ade.

Poppy florist juga merambah ke crafting. Seperti merangkai buket flannel, buket uang, kembang palsu dan banyak lagi. “Saya tetap optimis dengan bisnis ini,” tuntas Ade. (fud/ema)

Berbisnis di bidang non kebutuhan primer, Poppy Florist sudah pasti merasakan dampak ekonomi dari pandemi. (Baca dulu part 1: Bisnis Kreatif Florist Banjarmasin: Mawar dan Baby’s Breath Jadi Primadona)

— Oleh: TIA LALITA NOVITRI, Banjarmasin

Setahun lebih, virus COVID-19 tak menunjukkan tanda-tanda hendak berdamai. Malah Banjarmasin harus memasuki masa darurat lewat PPKM level 4.

Favehotel Banjarmasin

Jelas bukan masa yang mudah bagi toko bunga di Jalan Kampung Melayu Darat dan Jalan Anang Adenansi ini. Penurunan omzet jelas dirasakan.

Apalagi untuk penjualan buket khusus wedding dan papan ucapan. Dua varian produk yang menjadi andalan sebelum pandemi.

“Selama covid, pesanan dua jenis produk ini menurun drastis. Mungkin sampai 50 persen,” tutur Nur Fatimah, karyawan marketing Poppy Florist.

Tak heran, sebab pesta atau hajatan pernikahan memang dibatasi selama pandemi. Lantas, bagaimana triknya untuk bertahan?

Beruntung pesanan rangkaian bunga jenis lainnya tetap berjalan normal. Seperti buket original, flower vas, standing flowers dan sebagainya.

Perbedaan buket original dan wedding ada di bagian penataan. Buket original menggunakan tambahan kertas motif, kertas tisu, jaring kertas, mika dan pita. Sementara buket wedding dirangkai lebih sederhana dengan diikat pita.

“Pesanan buket biasa tetap normal selama pandemi,” ujar Fatimah. Bunga ini kerap dijadikan hadiah untuk orang-orang spesial.

Sementara standing flower dan vas kerap dipesan untuk ucapan selamat kepada kolega bisnis. “Dominan buat ucapan selamat pembukaan perusahaan atau semacamnya,” jelasnya.

Selama pandemi, Poppy Florist lebih mengandalkan penjualan online. Menjangkau tak hanya pembeli dalam kota, tetapi hingga luar kota. Tersedia di berbagai platform, toko ini kerap menerima orderan dari luar pulau.

Mereka harus bekerja ekstra, terutama tim pemasaran. Dengan membagikan brosur, menawarkan produk ke sejumlah perkantoran, bank, perusahaan dan ritel. “Jadi memang harus berpikir ekstra,” ucap Fatimah.

Selain itu media promosi seperti Instagram juga sangat diandalkan. Selain rutin membuat postingan, mereka juga memanfaatkan kekuatan influenser Banua dalam promosi.

“Aktif bikin endorsement, bahkan kami menunjuk Princess Keket sebagai brand ambassador untuk produk Poppy Florist,” beber Fatimah.

Influenser berpengikut 45 ribu itu rutin membuat postingan promosi di Instagram setiap pekannya. Membuat Poppy Florist semakin dikenal.

Dalam sepekan, toko ini menghasilkan setidaknya 20 hingga 30 produk rangkaian bunga aneka ukuran dan varian. Cukup banyak untuk masa sulit ini.

Salah seorang florist toko ini, Ade Syahida (21) mengaku optimis dengan bisnis ini. Meski bukan kebutuhan primer, bunga tetap dibutuhkan saat momen-momen tertentu. Apalagi bisnis ini tak banyak dilakoni, saingannya masih sedikit.

Cara lain agar tetap bertahan adalah dengan menyesuaikan tren. Sebagai contoh, selama pandemi tren bunga kering memang sedang “in”. Selama WFH, orang berlomba menghias ruang menjadi lebih estetis. Salah satunya dengan menyematkan bunga kering di sudut ruangan.

“Di toko kami juga menjual dried flower,” ujar Ade. Jenisnya beragam. Seperti bunga pampas, phalaris, ranting ceker ayam, veronia, bunga jagung, palm leaf dan sebagainya.

Bunga-bunga kering ini tak hanya disukai oleh penikmat ruang estetis. Tetapi juga sejumlah pebisnis. Karena bunga kering cocok dijadika ornamen tambahan untuk foto produk. Baik makanan, kosmetik, aksesori dan lain-lain. “Dried flower juga kerap dibeli oleh pasangan prewedding,” tambah Ade.

Poppy florist juga merambah ke crafting. Seperti merangkai buket flannel, buket uang, kembang palsu dan banyak lagi. “Saya tetap optimis dengan bisnis ini,” tuntas Ade. (fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/