alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Sunday, 26 June 2022

Melihat Siswa Masuk Sekolah Lagi: Senang Bertemu Guru dan Teman, Siapkan Vitamin dan Asupan Imun

Pandemi Covid-19 membuat dunia anak terasa sempit. Setelah setahun lebih tak turun sekolah, kini mereka begitu bahagia saat bertemu langung dengan guru dan teman di sekolah.

— Oleh: MUHAMMAD OSCAR FRABY, Banjarmasin

Wajah M Anzalta Nawaf Aymar tampak berseri. Rabu (14/7) kemarin adalah hari ketiga dia masuk kembali ke sekolahnya. Setelah satu tahun lebih dia harus berkutat dengan handphone dan laptop untuk belajar online.

Favehotel Banjarmasin

Bagi Aymar yang akan berusia delapan tahun pada 19 Juli mendatang, pembelajaran tatap muka (PTM) seperti mendapat hadiah ulang tahun spesial. Wajar saja, kerinduan dengan sekolah, para guru terlebih kawan-kawannya sudah sangat besar. “Saya sudah kangen dan ingin sekali masuk sekolah,” tuturnya kemarin.

Pada saat sekolah online lalu, dia hanya bisa bertemu dengan kawan-kawan sekolahnya melalui daring. Itu pun tak bisa maksimal saling sapa. “Pokoknya senang sekali. Tak bisa diucapkan dengan kata-kata,” ucapnya.

Aymar sekolah di SDIT Ukhuwah Banjarmasin, yang dikenal sebagai sekolah swasta kelas wahid. Penerapan protokol kesehatan di sekolah ini pun sangat ketat. Tak hanya wajib masker, semua siswa diperiksa suhu tubuh dan mencuci tangan sebelum masuk kelas.

Aymar mengaku, meski harus selalu memakai masker yang membuat napasnya tak nyaman, dirinya tetap senang karena bisa bertemu dengan kawan sekolahnya. “Belajar juga lebih enak. Karena langsung dijelaskan di kelas,” katanya.

Berbeda saat online lalu, meski masih bisa menyerap pembelajaran. Karena waktu yang sangat terbatas, masih ada pembahasan yang belum bisa dipahami dengan jelas. “Ada senangnya juga saat online. Tapi bosan kelamaan,” tutur penyuka lego itu.

Meski PTM, Aymar hanya masuk tiga hari dalam sepekan, dari Senin sampai Rabu. Sisanya dilaksanakan dengan online seperti sebelumnya. Menurutnya, meski hanya tiga hari, sudah lebih dari cukup. “Senang sekali rasanya. Kalau bisa tiap hari, tapi tak bisa,” selorohnya.

Bagi sang Ibu, Sarah Syarkawi, sudah bisa tatap muka untuk anaknya sudah ditunggunya sejak lama. Tak ada perasaan was-was terpapar Covid-19 bagi dia dan Aymar. Penerapan protokol kesehatan yang ketat dan nama besar sekolah, menurutnya menjadi alasan penting dia mengizinkan PTM.

Meski demikian, dia tetap saja menambah asupan gizi dan meningkatkan imunitas sang anak saat PTM dilaksanakan. “Meski yakin sekolah akan menjaga ketat. Saya tetap memberikan multivitamin kepada anak saya,” ujarnya.

Baginya, PTM sangat penting sekali dilaksanakan. Menurutnya, anak-anak seumuran Aymar masih banyak yang kesusahan menangkap pembelajaran tanpa tatap muka. “Saya yakin semua orang tua ingin anaknya sekolah. Ini demi tumbuh kembang sang anak dan mentalnya,” tandas Sarah.

Pandemi Covid-19 membuat dunia anak terasa sempit. Setelah setahun lebih tak turun sekolah, kini mereka begitu bahagia saat bertemu langung dengan guru dan teman di sekolah.

— Oleh: MUHAMMAD OSCAR FRABY, Banjarmasin

Wajah M Anzalta Nawaf Aymar tampak berseri. Rabu (14/7) kemarin adalah hari ketiga dia masuk kembali ke sekolahnya. Setelah satu tahun lebih dia harus berkutat dengan handphone dan laptop untuk belajar online.

Favehotel Banjarmasin

Bagi Aymar yang akan berusia delapan tahun pada 19 Juli mendatang, pembelajaran tatap muka (PTM) seperti mendapat hadiah ulang tahun spesial. Wajar saja, kerinduan dengan sekolah, para guru terlebih kawan-kawannya sudah sangat besar. “Saya sudah kangen dan ingin sekali masuk sekolah,” tuturnya kemarin.

Pada saat sekolah online lalu, dia hanya bisa bertemu dengan kawan-kawan sekolahnya melalui daring. Itu pun tak bisa maksimal saling sapa. “Pokoknya senang sekali. Tak bisa diucapkan dengan kata-kata,” ucapnya.

Aymar sekolah di SDIT Ukhuwah Banjarmasin, yang dikenal sebagai sekolah swasta kelas wahid. Penerapan protokol kesehatan di sekolah ini pun sangat ketat. Tak hanya wajib masker, semua siswa diperiksa suhu tubuh dan mencuci tangan sebelum masuk kelas.

Aymar mengaku, meski harus selalu memakai masker yang membuat napasnya tak nyaman, dirinya tetap senang karena bisa bertemu dengan kawan sekolahnya. “Belajar juga lebih enak. Karena langsung dijelaskan di kelas,” katanya.

Berbeda saat online lalu, meski masih bisa menyerap pembelajaran. Karena waktu yang sangat terbatas, masih ada pembahasan yang belum bisa dipahami dengan jelas. “Ada senangnya juga saat online. Tapi bosan kelamaan,” tutur penyuka lego itu.

Meski PTM, Aymar hanya masuk tiga hari dalam sepekan, dari Senin sampai Rabu. Sisanya dilaksanakan dengan online seperti sebelumnya. Menurutnya, meski hanya tiga hari, sudah lebih dari cukup. “Senang sekali rasanya. Kalau bisa tiap hari, tapi tak bisa,” selorohnya.

Bagi sang Ibu, Sarah Syarkawi, sudah bisa tatap muka untuk anaknya sudah ditunggunya sejak lama. Tak ada perasaan was-was terpapar Covid-19 bagi dia dan Aymar. Penerapan protokol kesehatan yang ketat dan nama besar sekolah, menurutnya menjadi alasan penting dia mengizinkan PTM.

Meski demikian, dia tetap saja menambah asupan gizi dan meningkatkan imunitas sang anak saat PTM dilaksanakan. “Meski yakin sekolah akan menjaga ketat. Saya tetap memberikan multivitamin kepada anak saya,” ujarnya.

Baginya, PTM sangat penting sekali dilaksanakan. Menurutnya, anak-anak seumuran Aymar masih banyak yang kesusahan menangkap pembelajaran tanpa tatap muka. “Saya yakin semua orang tua ingin anaknya sekolah. Ini demi tumbuh kembang sang anak dan mentalnya,” tandas Sarah.

Most Read

Artikel Terbaru

/