alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Sunday, 26 June 2022

Protes Karena Syarat Vaksin, Para Sopir Diberi Dispensasi Agar Bisa Naik Kapal

BANJARMASIN – Para sopir angkutan logistik menggelar aksi protes di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin Rabu (14/7) petang. Mereka protes ketika hendak menaiki kapal menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, mereka diminta menunjukkan surat keterangan bahwa sudah divaksin.

Padahal sebelumnya merujuk aturan yang dikeluarkan oleh Pj Gubernur Kalsel Safrizal ZA, para sopir hanya perlu menujukkan surat keterangan bebas Covid-19. Bisa melalui hasil rapid test antigen negatif, atau pun swab test dengan hasil negatif.

“Kami ini sudah berulang kali di-swab. Tiap berlabuh selalu di-swab. Tiba-tiba sekarang justru harus menunjukkan surat sudah divaksin dulu,” ucap salah seorang perwakilan sopir, Ketut Wiranata. Alhasil, lantaran diminta surat vaksinasi, hingga pukul 20.00 wita tadi malam, para sopir tak kunjung bisa menaikkan muatan ke kapal.

Favehotel Banjarmasin

Mencuat isu, pihak sopir angkutan logistik menolak menjalani vaksinasi. Terkait hal ini, Ketut membantahnya. Ia mengatakan, pihak sopir tidak menolak vaksin. Tapi sekali lagi, pihaknya hanya ingin dimudahkan untuk menaiki kapal.

Padahal, ujarnya, kalau sesuai yang disyaratkan harus sudah divaksin, ia baru mendapat giliran divaksin pada bulan September mendatang di daerah asalnya Singaraja, Bali. “Tanggal 9 September baru giliran saya,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Hasan, sopir angkutan logistik lainnya. Ia menuturkan, dalam sebulan saja hidungnya bisa sampai sepuluh kali dicolok untuk rapid test atau pun swab test. “Itu saja sudah sangat menyakitkan. Tidak hanya selalu mengeluarkan uang, tapi juga sakit di hidung. Lama-lama bukannya terhindar corona, hidung kami yang infeksi,” ketusnya.

Hasan pun berharap ada keringanan dari pihak pelabuhan agar bisa segera bisa menaikkan truknya ke dalam kapal. “Kami ini lebih banyak berdiam di truk atau kapal ketimbang membaur dengan masyarakat. Jadi semestinya pihak pelabuhan memahami hal itu. Cukup rapid test antigen atau swab yang menjadi persyaratan,” harapnya.

Menanggapi aksi protes itu, Kapolsek Kawasan Pelabuhan dan Laut atau KPL, AKP Ariansyah sudah menyampaikan bahwa ada perubahan aturan di Surabaya. Dijelaskannya, pihak pelabuhan di Surabaya mewajibkan siapa saja yang datang mesti menujukkan surat bahwa sudah divaksin.

“Tapi, tadi sudah kami komunikasikan dengan pihak pelabuhan di Surabaya. Ada kebijaksanaan. Jadi para sopir di sini bisa berangkat ke sana,” ucapnya. Kendati masih bisa berangkat, Ariansyah menegaskan bahwa pihak sopir angkutan logistik mesti menjalani vaksinasi. Entah itu saat mereka berada di Surabaya, atau pun saat berada di Banjarmasin.

“Jadi, mereka bisa beristirahat kalau khawatir setelah divaksin justru sakit,” ucapnya. “Kita mesti mendukung program vaksinasi dari pemerintah agar semuanya selamat. Kawan-kawan sopir ini pejuang di jalan, pahlawan. Kalau mereka mogok ya lumpuh perekonomian,” katanya. (war/tof/ema)

BANJARMASIN – Para sopir angkutan logistik menggelar aksi protes di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin Rabu (14/7) petang. Mereka protes ketika hendak menaiki kapal menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, mereka diminta menunjukkan surat keterangan bahwa sudah divaksin.

Padahal sebelumnya merujuk aturan yang dikeluarkan oleh Pj Gubernur Kalsel Safrizal ZA, para sopir hanya perlu menujukkan surat keterangan bebas Covid-19. Bisa melalui hasil rapid test antigen negatif, atau pun swab test dengan hasil negatif.

“Kami ini sudah berulang kali di-swab. Tiap berlabuh selalu di-swab. Tiba-tiba sekarang justru harus menunjukkan surat sudah divaksin dulu,” ucap salah seorang perwakilan sopir, Ketut Wiranata. Alhasil, lantaran diminta surat vaksinasi, hingga pukul 20.00 wita tadi malam, para sopir tak kunjung bisa menaikkan muatan ke kapal.

Favehotel Banjarmasin

Mencuat isu, pihak sopir angkutan logistik menolak menjalani vaksinasi. Terkait hal ini, Ketut membantahnya. Ia mengatakan, pihak sopir tidak menolak vaksin. Tapi sekali lagi, pihaknya hanya ingin dimudahkan untuk menaiki kapal.

Padahal, ujarnya, kalau sesuai yang disyaratkan harus sudah divaksin, ia baru mendapat giliran divaksin pada bulan September mendatang di daerah asalnya Singaraja, Bali. “Tanggal 9 September baru giliran saya,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Hasan, sopir angkutan logistik lainnya. Ia menuturkan, dalam sebulan saja hidungnya bisa sampai sepuluh kali dicolok untuk rapid test atau pun swab test. “Itu saja sudah sangat menyakitkan. Tidak hanya selalu mengeluarkan uang, tapi juga sakit di hidung. Lama-lama bukannya terhindar corona, hidung kami yang infeksi,” ketusnya.

Hasan pun berharap ada keringanan dari pihak pelabuhan agar bisa segera bisa menaikkan truknya ke dalam kapal. “Kami ini lebih banyak berdiam di truk atau kapal ketimbang membaur dengan masyarakat. Jadi semestinya pihak pelabuhan memahami hal itu. Cukup rapid test antigen atau swab yang menjadi persyaratan,” harapnya.

Menanggapi aksi protes itu, Kapolsek Kawasan Pelabuhan dan Laut atau KPL, AKP Ariansyah sudah menyampaikan bahwa ada perubahan aturan di Surabaya. Dijelaskannya, pihak pelabuhan di Surabaya mewajibkan siapa saja yang datang mesti menujukkan surat bahwa sudah divaksin.

“Tapi, tadi sudah kami komunikasikan dengan pihak pelabuhan di Surabaya. Ada kebijaksanaan. Jadi para sopir di sini bisa berangkat ke sana,” ucapnya. Kendati masih bisa berangkat, Ariansyah menegaskan bahwa pihak sopir angkutan logistik mesti menjalani vaksinasi. Entah itu saat mereka berada di Surabaya, atau pun saat berada di Banjarmasin.

“Jadi, mereka bisa beristirahat kalau khawatir setelah divaksin justru sakit,” ucapnya. “Kita mesti mendukung program vaksinasi dari pemerintah agar semuanya selamat. Kawan-kawan sopir ini pejuang di jalan, pahlawan. Kalau mereka mogok ya lumpuh perekonomian,” katanya. (war/tof/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/