alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Sunday, 3 July 2022

PTM di Zona Oranye Ditunda, Satu SD dan 6 SMP di Banjarmasin Batal Dibuka

Kasus positif COVID-19 di Kalsel kembali bertambah. Daerah tetangga seperti Kota Banjarbaru dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) pun menunda pembukaan sekolah. Lalu, mengapa Kota Banjarmasin berkeras?

BANJARMASIN – Dinas Pendidikan Banjarmasin memutuskan bahwa sekolah yang berada di zona oranye tidak diizinkan menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM).

Favehotel Banjarmasin

Demikian pula dengan siswa yang tinggal di zona oranye. Meski sekolahnya berada di zona hijau, siswa yang bersangkutan tak dibolehkan kembali ke sekolah.

Artinya, masih harus mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar Dari Rumah (BDR).

“Saya sudah berkoordinasi dengan pak wali kota. Hasilnya, PTM di zona oranye ditunda dulu. Tapi kalau di zona kuning atau hijau, tetap melaksanakan PTM,” kata Kepala Disdik Banjarmasin, Totok Agus Daryanto, kemarin (11/7).

Pembukaan sekolah itu menyusul, ketika status zona oranye berubah menjadi zona kuning atau hijau.

Pada 9 Juli lalu, Satgas Penanganan COVID-19 Banjarmasin merilis data di mana sejumlah rukun tetangga (RT) berstatus zona oranye.

Rinciannya yakni RT 14, RT 26 dan RT 27 di Kelurahan Sungai Miai. Lalu RT 9, RT 15 dan RT 68 di Kelurahan Sungai Andai. Kemudian RT 31 di Kelurahan Surgi Mufti. Terus RT 34 di Kelurahan Pekapuran Raya. Terakhir RT 23 di Kelurahan Tanjung Pagar.

Kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin, Machli Riyadi meminta sekolah atau pelajar yang berada di RT-RT tersebut untuk kembali bersabar.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Bina SD di Disdik Banjarmasin, Nuryadi menjelaskan, dari hasil evaluasi terakhir, hanya satu SD yang berada di zona oranye.

“Yakni SDN Benua Anyar 9 di Jalan Sungai Gampa RT 15. Sisanya, berada di zona hijau dan kuning,” singkatnya.

Lantas, bagaimana dengan SMP? Kepala Bidang Bina SMP, Sahnan menambahkan, ada enam SMP yang berada di zona oranye. Yaitu SMPN 35, SMPN 24, SMPN 23, SMPN 19, SMPN 8 dan SMPN 18 Banjarmasin.

“Sesuai arahan kadisdik, maka pelaksanaan PTM-nya ditunda. Siswa yang bertempat tinggal di kawasan zona oranye juga harus kembali belajar daring,” tutupnya.

Dalam rencana awal, hari ini (12/7) SD dan SMP negeri di bawah Disdik kembali dibuka. Selama dua hari orientasi penerapan prokes, lusa (14/7) pembelajaran tahun ajaran baru 2021/2022 dimulai.

Khawatir Terjadi Krisis Pendidikan

Kepala Disdik Banjarmasin, Totok Agus Daryanto memiliki alasan mengapa sekolah harus dibuka di tengah pandemi. Ia khawatir, terus-menerus belajar daring akan membuat siswa mengalami krisis kurikulum.

“Contoh, anak-anak kelas II. Belum tentu bisa membaca, menulis dan berhitung. Kenapa? Karena dalam satu tahun terakhir hanya belajar jarak jauh,” ungkapnya.

Ditegaskanya, tak ada yang lebih efektif dari belajar di kelas bersama guru. Dan kemampuan dasar seperti membaca, menulis dan berhitung sulit diperoleh tanpa pembelajaran yang intens.

Apalagi kemampuan orang tua dalam membimbing anaknya belajar di rumah tidak merata.

“Kecuali orang tua bisa memberikan bimbingan tambahan. Atau menambah pelajaran tambahan dengan memberikan les privat di rumah. Tapi, tidak semua orang tua bisa seperti itu,” tambahnya.

Maka Totok menegaskan, Disdik tidak akan menunggu pandemi usai untuk membuka sekolah.

“Posisi Banjarmasin saat ini tidak berada di zona merah. Kalau kita menunggu-nunggu, tidak ada kepastian dan jaminan kapan covid mereda,” tambahnya.

Lantas, bagaimana bila ternyata Banjarmasin berubah menjadi zona merah atau oranye? Menjawab itu, Totok bersedia menunda PTM. Dan membukanya kembali bila keadaan sudah membaik.

Diakuinya, keberanian pemko menjalankan PTM kerap dikritik pakar atau pengamat dunia pendidikan.

Tapi ia mengingatkan, pelajar SD dan SMP bukan seperti mahasiswa yang sudah mapan secara psikologis. “Berbeda dengan siswa PAUD dan SD, interaksi adalah hal wajib dalam pembelajaran mereka,” ujarnya.

“Makanya, pada waktu rapat bersama satgas, tak sekalipun terdengar penolakan. Dengan catatan penerapan disiplin protokol kesehatan yang ketat,” ungkapnya.

Dan ia cukup yakin dengan hasil simulasi-simulasi sebelumnya. “Secara perlahan PTM dimulai,” tutupnya.

Diwartakan sebelumnya, guru yang mengikuti PTM harus mengantongi surat keterangan sudah divaksin. Minimal hasil negatif dari tes PCR. Lalu, siswa yang sakit dilarang kembali ke kelas. Bagi orang tua yang masih khawatir, anaknya tetap boleh mengikuti belajar daring.

Selain pembatasan jumlah rombel, pembelajaran juga digilirkan antara PTM dan PJJ. Terakhir, jika muncul penularan di sekolah, maka sekolah akan kembali ditutup sampai batas waktu yang ditentukan satgas. (war/fud/ema)

Kasus positif COVID-19 di Kalsel kembali bertambah. Daerah tetangga seperti Kota Banjarbaru dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) pun menunda pembukaan sekolah. Lalu, mengapa Kota Banjarmasin berkeras?

BANJARMASIN – Dinas Pendidikan Banjarmasin memutuskan bahwa sekolah yang berada di zona oranye tidak diizinkan menggelar Pembelajaran Tatap Muka (PTM).

Favehotel Banjarmasin

Demikian pula dengan siswa yang tinggal di zona oranye. Meski sekolahnya berada di zona hijau, siswa yang bersangkutan tak dibolehkan kembali ke sekolah.

Artinya, masih harus mengikuti Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar Dari Rumah (BDR).

“Saya sudah berkoordinasi dengan pak wali kota. Hasilnya, PTM di zona oranye ditunda dulu. Tapi kalau di zona kuning atau hijau, tetap melaksanakan PTM,” kata Kepala Disdik Banjarmasin, Totok Agus Daryanto, kemarin (11/7).

Pembukaan sekolah itu menyusul, ketika status zona oranye berubah menjadi zona kuning atau hijau.

Pada 9 Juli lalu, Satgas Penanganan COVID-19 Banjarmasin merilis data di mana sejumlah rukun tetangga (RT) berstatus zona oranye.

Rinciannya yakni RT 14, RT 26 dan RT 27 di Kelurahan Sungai Miai. Lalu RT 9, RT 15 dan RT 68 di Kelurahan Sungai Andai. Kemudian RT 31 di Kelurahan Surgi Mufti. Terus RT 34 di Kelurahan Pekapuran Raya. Terakhir RT 23 di Kelurahan Tanjung Pagar.

Kepala Dinas Kesehatan Banjarmasin, Machli Riyadi meminta sekolah atau pelajar yang berada di RT-RT tersebut untuk kembali bersabar.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Bina SD di Disdik Banjarmasin, Nuryadi menjelaskan, dari hasil evaluasi terakhir, hanya satu SD yang berada di zona oranye.

“Yakni SDN Benua Anyar 9 di Jalan Sungai Gampa RT 15. Sisanya, berada di zona hijau dan kuning,” singkatnya.

Lantas, bagaimana dengan SMP? Kepala Bidang Bina SMP, Sahnan menambahkan, ada enam SMP yang berada di zona oranye. Yaitu SMPN 35, SMPN 24, SMPN 23, SMPN 19, SMPN 8 dan SMPN 18 Banjarmasin.

“Sesuai arahan kadisdik, maka pelaksanaan PTM-nya ditunda. Siswa yang bertempat tinggal di kawasan zona oranye juga harus kembali belajar daring,” tutupnya.

Dalam rencana awal, hari ini (12/7) SD dan SMP negeri di bawah Disdik kembali dibuka. Selama dua hari orientasi penerapan prokes, lusa (14/7) pembelajaran tahun ajaran baru 2021/2022 dimulai.

Khawatir Terjadi Krisis Pendidikan

Kepala Disdik Banjarmasin, Totok Agus Daryanto memiliki alasan mengapa sekolah harus dibuka di tengah pandemi. Ia khawatir, terus-menerus belajar daring akan membuat siswa mengalami krisis kurikulum.

“Contoh, anak-anak kelas II. Belum tentu bisa membaca, menulis dan berhitung. Kenapa? Karena dalam satu tahun terakhir hanya belajar jarak jauh,” ungkapnya.

Ditegaskanya, tak ada yang lebih efektif dari belajar di kelas bersama guru. Dan kemampuan dasar seperti membaca, menulis dan berhitung sulit diperoleh tanpa pembelajaran yang intens.

Apalagi kemampuan orang tua dalam membimbing anaknya belajar di rumah tidak merata.

“Kecuali orang tua bisa memberikan bimbingan tambahan. Atau menambah pelajaran tambahan dengan memberikan les privat di rumah. Tapi, tidak semua orang tua bisa seperti itu,” tambahnya.

Maka Totok menegaskan, Disdik tidak akan menunggu pandemi usai untuk membuka sekolah.

“Posisi Banjarmasin saat ini tidak berada di zona merah. Kalau kita menunggu-nunggu, tidak ada kepastian dan jaminan kapan covid mereda,” tambahnya.

Lantas, bagaimana bila ternyata Banjarmasin berubah menjadi zona merah atau oranye? Menjawab itu, Totok bersedia menunda PTM. Dan membukanya kembali bila keadaan sudah membaik.

Diakuinya, keberanian pemko menjalankan PTM kerap dikritik pakar atau pengamat dunia pendidikan.

Tapi ia mengingatkan, pelajar SD dan SMP bukan seperti mahasiswa yang sudah mapan secara psikologis. “Berbeda dengan siswa PAUD dan SD, interaksi adalah hal wajib dalam pembelajaran mereka,” ujarnya.

“Makanya, pada waktu rapat bersama satgas, tak sekalipun terdengar penolakan. Dengan catatan penerapan disiplin protokol kesehatan yang ketat,” ungkapnya.

Dan ia cukup yakin dengan hasil simulasi-simulasi sebelumnya. “Secara perlahan PTM dimulai,” tutupnya.

Diwartakan sebelumnya, guru yang mengikuti PTM harus mengantongi surat keterangan sudah divaksin. Minimal hasil negatif dari tes PCR. Lalu, siswa yang sakit dilarang kembali ke kelas. Bagi orang tua yang masih khawatir, anaknya tetap boleh mengikuti belajar daring.

Selain pembatasan jumlah rombel, pembelajaran juga digilirkan antara PTM dan PJJ. Terakhir, jika muncul penularan di sekolah, maka sekolah akan kembali ditutup sampai batas waktu yang ditentukan satgas. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/