alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Didemo karena Konflik Pengurus Makam Sultan Tak Kunjung Usai, Doyo: Harusnya Mereka yang Intropeksi

BANJARMASIN – Bukannya mendekati titik temu, sengketa pengelolaan kompleks makam Sultan Suriansyah di Jalan Kuin Utara justru semakin kusut.

Kemarin (8/7) pagi, salah satu kubu pengurus yang mengklaim berhak mengurusi makam Raja Banjar tersebut, berunjuk rasa di Siring RE Martadinata. Persis di seberang kantor Wali Kota Banjarmasin.

Puluhan pendemo itu menuntut mediator dari Pemko Banjarmasin, yakni Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setdako Banjarmasin, Doyo Pudjadi untuk diganti.

Favehotel Banjarmasin

Massa dikomando Haji Maulana. Ia menilai, penyelesaian konflik berjalan lamban. Konflik sudah memanas sejak sebelum pandemi.

Baginya, persoalannya sungguh sepele. Tinggal membentuk kepengurusan yang mewakili ketiga kubu yang saling klaim, menampung aspirasi mereka, lalu pemko mengambil keputusan.

“Cukup lambat. Walaupun kami bisa memaklumi, pemko juga harus menghadapi masalah banjir dan covid,” ujarnya.

Ditekankannya, jika saling klaim kepengurusan itu menyoal tentang zuriah (garis keturunan), maka tinggal dibuktikan saja. Persoalannya, baginya pembuktikan zuriah takkan menyelesaikan masalah.

Maulana lebih sreg untuk mengelola makam itu bersama-sama secara kekeluargaan. Tanpa ada kubu yang dikalahkan.

Pengunjuk rasa kemudian diterima Wakil Wali Kota Banjarmasin, Arifin Noor di Aula Kayuh Baimbai, Balai Kota.

Arifin hanya mengisyaratkan menampung aspirasi mereka tanpa menjanjikan apapun. “Kami menghormati upaya mereka, demi pembangunan kota juga,” ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, sebagai ketua mediasi, Doyo tampak tak tertarik untuk membela diri.

“Mereka meminta saya dicopot. Tak apa-apa, silakan saja. Tapi keputusan itu ada di tangan wali kota,” tegas Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Banjarmasin tersebut.

Jika ditanya mengapa tak kunjung tuntas, menurutnya, justru ketiga kubu yang harus introspeksi. Ia melihat, masing-masing berkeras ingin menguasai sendiri situs bersejarah tersebut.

“Jadi, saya doakan mereka (pendemo) untuk selalu diberikan kesehatan. Semoga segera mendapatkan solusi terbaik yang cepat,” sindirnya.

Pada 15 Juni lalu, ketiga kubu bersepakat untuk membentuk tim formatur. Tugasnya menyusun kepengurusan yang mewakili semua pihak yang berpolemik.

Sayangnya, pada pertemuan berikutnya 30 Juni, saat diminta usulan dan saran, ketiga kubu malah bungkam. Rapat tak menghasilkan apa-apa, buntu.

Terakhir, dalam rapat 7 Juli yang difasilitasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, ketiga kubu menyatakan menunggu saja keputusan dari pemko.

“Saya melihat sendiri, masing-maisng kubu yang hadir membubuhkan tanda tangan. Eh, tiba-tiba malah berdemo. Saya jadi bingung,” keluhnya.

Jika pemko dituding lamban, Doyo menuding balik, mengapa mereka begitu keras kepala. “Saya rasa, siapapun yang memediasi, pasti kesulitan menanganinya,” tutupnya. (war/at/fud)

BANJARMASIN – Bukannya mendekati titik temu, sengketa pengelolaan kompleks makam Sultan Suriansyah di Jalan Kuin Utara justru semakin kusut.

Kemarin (8/7) pagi, salah satu kubu pengurus yang mengklaim berhak mengurusi makam Raja Banjar tersebut, berunjuk rasa di Siring RE Martadinata. Persis di seberang kantor Wali Kota Banjarmasin.

Puluhan pendemo itu menuntut mediator dari Pemko Banjarmasin, yakni Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setdako Banjarmasin, Doyo Pudjadi untuk diganti.

Favehotel Banjarmasin

Massa dikomando Haji Maulana. Ia menilai, penyelesaian konflik berjalan lamban. Konflik sudah memanas sejak sebelum pandemi.

Baginya, persoalannya sungguh sepele. Tinggal membentuk kepengurusan yang mewakili ketiga kubu yang saling klaim, menampung aspirasi mereka, lalu pemko mengambil keputusan.

“Cukup lambat. Walaupun kami bisa memaklumi, pemko juga harus menghadapi masalah banjir dan covid,” ujarnya.

Ditekankannya, jika saling klaim kepengurusan itu menyoal tentang zuriah (garis keturunan), maka tinggal dibuktikan saja. Persoalannya, baginya pembuktikan zuriah takkan menyelesaikan masalah.

Maulana lebih sreg untuk mengelola makam itu bersama-sama secara kekeluargaan. Tanpa ada kubu yang dikalahkan.

Pengunjuk rasa kemudian diterima Wakil Wali Kota Banjarmasin, Arifin Noor di Aula Kayuh Baimbai, Balai Kota.

Arifin hanya mengisyaratkan menampung aspirasi mereka tanpa menjanjikan apapun. “Kami menghormati upaya mereka, demi pembangunan kota juga,” ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, sebagai ketua mediasi, Doyo tampak tak tertarik untuk membela diri.

“Mereka meminta saya dicopot. Tak apa-apa, silakan saja. Tapi keputusan itu ada di tangan wali kota,” tegas Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Banjarmasin tersebut.

Jika ditanya mengapa tak kunjung tuntas, menurutnya, justru ketiga kubu yang harus introspeksi. Ia melihat, masing-masing berkeras ingin menguasai sendiri situs bersejarah tersebut.

“Jadi, saya doakan mereka (pendemo) untuk selalu diberikan kesehatan. Semoga segera mendapatkan solusi terbaik yang cepat,” sindirnya.

Pada 15 Juni lalu, ketiga kubu bersepakat untuk membentuk tim formatur. Tugasnya menyusun kepengurusan yang mewakili semua pihak yang berpolemik.

Sayangnya, pada pertemuan berikutnya 30 Juni, saat diminta usulan dan saran, ketiga kubu malah bungkam. Rapat tak menghasilkan apa-apa, buntu.

Terakhir, dalam rapat 7 Juli yang difasilitasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, ketiga kubu menyatakan menunggu saja keputusan dari pemko.

“Saya melihat sendiri, masing-maisng kubu yang hadir membubuhkan tanda tangan. Eh, tiba-tiba malah berdemo. Saya jadi bingung,” keluhnya.

Jika pemko dituding lamban, Doyo menuding balik, mengapa mereka begitu keras kepala. “Saya rasa, siapapun yang memediasi, pasti kesulitan menanganinya,” tutupnya. (war/at/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

Dua Dibekuk, Satu DPO

Karyawati Gelapkan Uang Perusahaan

Jasad Itu Ternyata Masinis Kapal

Giliran Anak Wahid Jadi Saksi

/