alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Saturday, 28 May 2022

Dokumen Tak Cukup Syarat, Calon Siswa Pindah Jalur

BANJARMASIN – Wajah Suparno terlihat was-was. Anak bungsunya, Zaskia Hilan Azizah ditolak saat mendaftar secara online di penerimaan peserta didik baru (PPDB) jenjang SMA kemarin. Dia sengaja datang ke SMAN 5 Banjarmasin memastikan penyebabnya.

Anaknya sendiri mendaftar di jalur zonasi. Rupanya dokumen yang dimilikinya tak memenuhi syarat. Meski dia punya surat keterangan dari kelurahan yang menerangkan dia berdomisili di sana. Namun, surat keterangan tersebut baru keluar di bulan ini atau baru 11 Juni lalu.

Di aturan, untuk siswa yang mendaftar di jalur zonasi, minimal harus keluar surat keterangan tersebut minimal 6 bulan sebelum PPDB dibuka. Sedangkan untuk kartu keluarga, minimal satu tahun dikeluarkan oleh Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil. Padahal di surat keterangan dari kelurahan yang dimilikinya, dijelaskan bahwa Zaskia sejak dia SD tahun 2015 sudah berdomisili di Komplek Mandiri Permai.

Alamat dia secara resmi sendiri adalah di Margosanten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Menurut sang ayah, dia sejak tahun lalu ingin mengurus identitas sang anak atau memindah ke alamat Banjarmasin. Namun, karena pandemi dia pun tak bisa leluasa mengurus.

Terlebih Suparno adalah seorang sopir yang tak mempunyai waktu luang mengurus identitas sang anak. Dia sebelumnya sangat yakin, dengan hanya bermodal surat keterangan, masih bisa mendaftarkan sang anak. “Dia sejak SD sudah di Banjarmasin, SMP juga di Banjarmasin yakni di SMP 15 Banjarmasin. Bingung juga kenapa ditolak sistem,” ucapnya kemarin.

Lantaran takut tak bisa menyekolahkan sang anak, dia pun memindah jalur PPDB dari zonasi ke jalur prestasi. Untungnya, nilai yang dimiliki sang anak cukup tinggi. “Terpaksa pindah jalur ke prestasi. Padahal kalau dengan zonasi, cukup dekat dengan sekolah,” terangnya.

Di hari pertama PPDB kemarin, meski dilakukan secara online atau bisa di rumah saja. Namun, masih banyak orang tua dan calon siswa yang datang ke sekolah. Alasannya karena tak mengerti dan belum mahir menggunakan handphone. “Daripada salah dan ditolak sistem, mending saya datang langsung ke sekolah,” tutur Mahdian, salah seorang orang tua siswa.

Belum lagi sebutnya, handphone yang dimilikinya sudah tua dan agak susah membuka website PPDB. “Gagal terus. Sudah berapa kali dicoba tak mau masuk-masuk ke sistem,” ucapnya.

SMAN 5 Banjarmasin sendiri menyiapkan dua orang petugas informasi untuk memfasilitasi hal ini. Bahkan bagi yang tak punya perangkat telepon pintar, mereka menyediakan komputer untuk menginput dokumen calon siswa. “Ada sekitar 50 an yang datang. Kebanyakan dengan alasan tak memahami dan minim informasi,” ujar Kepala SMAN 5 Banjarmasin, Mukhlis Takwin kemarin.

Memastikan calon siswa terfasilitasi, di sekolah ini juga disiapkan satu petugas yang mengkonfirmasi langsung kepada orang tua siswa yang ditengarai ada masalah. “Kami juga menyediakan tutorial cara mendaftar. Dua layar kami sediakan,” sebutnya.

Kuota di SMAN 5 Banjarmasin tahun ini jumlahnya sebanyak 288 siswa dengan 9 rombongan belajar. Jumlah itu sama dengan siswa kelas XII tahun lalu. “Antusias tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun lalu,” terang Mukhlis.

Sampai kemarin, pelamar di SMAN 5 Banjarmasin jumlahnya sudah mencapai 339 orang. Dari jumlah itu paling banyak pelamar melalui zonasi sebanyak 249, disusul jalur afirmasi sebanyak 45 orang, prestasi akademik 37 orang, prestasi non akademik 6 orang dan jalur perpindahan orang tua sebanyak 2 orang.

Diterangkan Mukhlis, dari 339 pelamar itu, sebanyak 127 orang yang belum diverifikasi atau ditolak sementara dengan berbagai alasan. “Ada yang tidak melampirkan berkas asli, kartu keluarga kurang dari 1 tahun dan surat pernyataan tanggung jawab mutlak (SPTJM) tak sesuai format yang disediakan,” bebernya. (mof/ran/ema)

BANJARMASIN – Wajah Suparno terlihat was-was. Anak bungsunya, Zaskia Hilan Azizah ditolak saat mendaftar secara online di penerimaan peserta didik baru (PPDB) jenjang SMA kemarin. Dia sengaja datang ke SMAN 5 Banjarmasin memastikan penyebabnya.

Anaknya sendiri mendaftar di jalur zonasi. Rupanya dokumen yang dimilikinya tak memenuhi syarat. Meski dia punya surat keterangan dari kelurahan yang menerangkan dia berdomisili di sana. Namun, surat keterangan tersebut baru keluar di bulan ini atau baru 11 Juni lalu.

Di aturan, untuk siswa yang mendaftar di jalur zonasi, minimal harus keluar surat keterangan tersebut minimal 6 bulan sebelum PPDB dibuka. Sedangkan untuk kartu keluarga, minimal satu tahun dikeluarkan oleh Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil. Padahal di surat keterangan dari kelurahan yang dimilikinya, dijelaskan bahwa Zaskia sejak dia SD tahun 2015 sudah berdomisili di Komplek Mandiri Permai.

Alamat dia secara resmi sendiri adalah di Margosanten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Menurut sang ayah, dia sejak tahun lalu ingin mengurus identitas sang anak atau memindah ke alamat Banjarmasin. Namun, karena pandemi dia pun tak bisa leluasa mengurus.

Terlebih Suparno adalah seorang sopir yang tak mempunyai waktu luang mengurus identitas sang anak. Dia sebelumnya sangat yakin, dengan hanya bermodal surat keterangan, masih bisa mendaftarkan sang anak. “Dia sejak SD sudah di Banjarmasin, SMP juga di Banjarmasin yakni di SMP 15 Banjarmasin. Bingung juga kenapa ditolak sistem,” ucapnya kemarin.

Lantaran takut tak bisa menyekolahkan sang anak, dia pun memindah jalur PPDB dari zonasi ke jalur prestasi. Untungnya, nilai yang dimiliki sang anak cukup tinggi. “Terpaksa pindah jalur ke prestasi. Padahal kalau dengan zonasi, cukup dekat dengan sekolah,” terangnya.

Di hari pertama PPDB kemarin, meski dilakukan secara online atau bisa di rumah saja. Namun, masih banyak orang tua dan calon siswa yang datang ke sekolah. Alasannya karena tak mengerti dan belum mahir menggunakan handphone. “Daripada salah dan ditolak sistem, mending saya datang langsung ke sekolah,” tutur Mahdian, salah seorang orang tua siswa.

Belum lagi sebutnya, handphone yang dimilikinya sudah tua dan agak susah membuka website PPDB. “Gagal terus. Sudah berapa kali dicoba tak mau masuk-masuk ke sistem,” ucapnya.

SMAN 5 Banjarmasin sendiri menyiapkan dua orang petugas informasi untuk memfasilitasi hal ini. Bahkan bagi yang tak punya perangkat telepon pintar, mereka menyediakan komputer untuk menginput dokumen calon siswa. “Ada sekitar 50 an yang datang. Kebanyakan dengan alasan tak memahami dan minim informasi,” ujar Kepala SMAN 5 Banjarmasin, Mukhlis Takwin kemarin.

Memastikan calon siswa terfasilitasi, di sekolah ini juga disiapkan satu petugas yang mengkonfirmasi langsung kepada orang tua siswa yang ditengarai ada masalah. “Kami juga menyediakan tutorial cara mendaftar. Dua layar kami sediakan,” sebutnya.

Kuota di SMAN 5 Banjarmasin tahun ini jumlahnya sebanyak 288 siswa dengan 9 rombongan belajar. Jumlah itu sama dengan siswa kelas XII tahun lalu. “Antusias tahun ini lebih banyak dibandingkan tahun lalu,” terang Mukhlis.

Sampai kemarin, pelamar di SMAN 5 Banjarmasin jumlahnya sudah mencapai 339 orang. Dari jumlah itu paling banyak pelamar melalui zonasi sebanyak 249, disusul jalur afirmasi sebanyak 45 orang, prestasi akademik 37 orang, prestasi non akademik 6 orang dan jalur perpindahan orang tua sebanyak 2 orang.

Diterangkan Mukhlis, dari 339 pelamar itu, sebanyak 127 orang yang belum diverifikasi atau ditolak sementara dengan berbagai alasan. “Ada yang tidak melampirkan berkas asli, kartu keluarga kurang dari 1 tahun dan surat pernyataan tanggung jawab mutlak (SPTJM) tak sesuai format yang disediakan,” bebernya. (mof/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/