alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Thursday, 26 May 2022

Siapa yang Semburannya Paling Kencang..? Begini Cara Relawan Damkar Menghabiskan Akhir Pekan

Raung mesin pompa terdengar nyaring. Air keluar deras dari selang pemadam. Menyembur jauh, hampir menyentuh bibir siring di seberang Sungai Martapura.

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Mesin pompa memerlukan pemanasan. Agar ketika dibutuhkan tak malah ngadat.

Di Siring Pierre Tendean kemarin (27/6) sore, puluhan armada relawan barisan pemadam kebakaran (BPK) merubung.

Masing-masing grup relawan ‘penakluk api’ itu mengeluarkan senjatanya: mesin pompa lengkap dengan selangnya.

Diletakkan di Dermaga Pasar Terapung, ketika mulai dihidupkan, mesin-mesin pompa beragam ukuran itu mulai meraung.

Dari mulut selang yang terpasang, air menyembur deras. Saking derasnya hampir menyentuh bibir siring di seberangnya.

Pengecekan ringan itu rutin. Biasanya pada akhir pekan. Dimulai sekira jam empat sore dan berhenti mendekati maghrib.

Sedikitnya ada lebih dari 20 armada yang berkumpul di situ. Tentub belum seberapa bila dibandingkan jumlah armada BPK yang mencapai ratusan.

Salah seorang relawan BPK, Rizal Baihaqi menjelaskan, selain di siring, ada juga yang berkumpul di Jalan Jafri Zamzam.

“Tapi yang paling ramai memang di sini,” ujarnya. “Kalau tidak rutin dicek, khawatirnya ketika pas dibutuhkan malah kurang prima,” tambah anggota BPK Gunsar (Gunung Sari) tersebut.

Senada dengan Ahmad Haikal, relawan dari BPK Star 10 asal Jalan Kelayan B.

Ada dua unit mesin berukuran besar yang dibawa kesatuannya. “Alhamdulillah, keduanya normal. Tak ada kendala,” ucapnya seraya mengacungkan jempol.

Menurutnya, tak mudah untuk memiliki mesin pompa air. Harganya terbilang mahal dan mesti rajin-rajin dirawat.

Disebutkannya, satu unit pompa saja harganya mencapai Rp15 juta. Padahal mereka membeli mesin bekas yang sudah rusak.

“Belum termasuk biaya bahan bakar. Latihan atau pengecekan seperti ini, bisa menghabiskan 10 liter bensin yang dicampur oli samping,” tambahnya.

Ditanya bagaimana performanya, ia menunjukkan daya semburnya. “Belum digas full lho,” ujarnya terkekeh.

Ditanya kendala yang kerap dihadapi kesatuannya di lapangan, Haikal mengaku hanya kesulitan menjangkau lokasi kebakaran. Menurutnya, saat terjadi kebakaran, ada banyak masyarakat yang memilih untuk sekadar menonton.

Dan hal ini, tentu sedikit banyaknya menyulitkan gerak relawan BPK ketika ingin memadamkan api. Ia pun lantas berharap, masyarakat bisa mengerti dan memahami kondisi relawan BPK di lapangan.

“Selain itu, alhamdulillah tak ada kendala. Pun demikian dengan kendala teknis. Misalnya mesin malah macet, tak pernah kami temukan,” tambahnya.

Di sisi lain di Dermaga Pasar Terapung, ada Alfin. Ia dari kesatuan BPK Hipsi Kampung Gedang, Gang Silaturahim.

Ia bersama belasan personelnya juga tampak sibuk mengecek mesin. Kepada penulis, dibeberkannya, selama bertugas ia belum pernah menemui kendala teknis. Lancar-lancar saja.

“Kalau pun ada kendala, hanya sulitnya menemukan titik air. Ketika datang, kita tidak tahu apakah dekat dengan sumber air atau tidak,” jelasnya.

Terlepas itu, aksi relawan BPK itu mengundang perhatian pengunjung yang mampir di Siring Pierre Tendean. Tak sedikit dari pengunjung yang merekam aksi tersebut.

Bagi pengunjung, aksi para relawan BPK tersebut menjadi tontonan yang cukup mengasyikkan.

“Asyik mas. Unik,” ucap Zulfadli. Warga Banjarbaru itu mengaku baru pertama kali melihat relawan BPK berkumpul untuk “unjuk gigi”.

Senada dengan pengunjung lain, Mega. Warga Jalan Sultan Adam itu asyik merekam dengan kameranya. Bahkan, ia terpikir untuk membuat film dokumenter tentang kegigihan relawan BPK. “Sepertinya asyik kalau ada yang memfilmkannya,” tutupnya. (fud/ema)

Raung mesin pompa terdengar nyaring. Air keluar deras dari selang pemadam. Menyembur jauh, hampir menyentuh bibir siring di seberang Sungai Martapura.

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Mesin pompa memerlukan pemanasan. Agar ketika dibutuhkan tak malah ngadat.

Di Siring Pierre Tendean kemarin (27/6) sore, puluhan armada relawan barisan pemadam kebakaran (BPK) merubung.

Masing-masing grup relawan ‘penakluk api’ itu mengeluarkan senjatanya: mesin pompa lengkap dengan selangnya.

Diletakkan di Dermaga Pasar Terapung, ketika mulai dihidupkan, mesin-mesin pompa beragam ukuran itu mulai meraung.

Dari mulut selang yang terpasang, air menyembur deras. Saking derasnya hampir menyentuh bibir siring di seberangnya.

Pengecekan ringan itu rutin. Biasanya pada akhir pekan. Dimulai sekira jam empat sore dan berhenti mendekati maghrib.

Sedikitnya ada lebih dari 20 armada yang berkumpul di situ. Tentub belum seberapa bila dibandingkan jumlah armada BPK yang mencapai ratusan.

Salah seorang relawan BPK, Rizal Baihaqi menjelaskan, selain di siring, ada juga yang berkumpul di Jalan Jafri Zamzam.

“Tapi yang paling ramai memang di sini,” ujarnya. “Kalau tidak rutin dicek, khawatirnya ketika pas dibutuhkan malah kurang prima,” tambah anggota BPK Gunsar (Gunung Sari) tersebut.

Senada dengan Ahmad Haikal, relawan dari BPK Star 10 asal Jalan Kelayan B.

Ada dua unit mesin berukuran besar yang dibawa kesatuannya. “Alhamdulillah, keduanya normal. Tak ada kendala,” ucapnya seraya mengacungkan jempol.

Menurutnya, tak mudah untuk memiliki mesin pompa air. Harganya terbilang mahal dan mesti rajin-rajin dirawat.

Disebutkannya, satu unit pompa saja harganya mencapai Rp15 juta. Padahal mereka membeli mesin bekas yang sudah rusak.

“Belum termasuk biaya bahan bakar. Latihan atau pengecekan seperti ini, bisa menghabiskan 10 liter bensin yang dicampur oli samping,” tambahnya.

Ditanya bagaimana performanya, ia menunjukkan daya semburnya. “Belum digas full lho,” ujarnya terkekeh.

Ditanya kendala yang kerap dihadapi kesatuannya di lapangan, Haikal mengaku hanya kesulitan menjangkau lokasi kebakaran. Menurutnya, saat terjadi kebakaran, ada banyak masyarakat yang memilih untuk sekadar menonton.

Dan hal ini, tentu sedikit banyaknya menyulitkan gerak relawan BPK ketika ingin memadamkan api. Ia pun lantas berharap, masyarakat bisa mengerti dan memahami kondisi relawan BPK di lapangan.

“Selain itu, alhamdulillah tak ada kendala. Pun demikian dengan kendala teknis. Misalnya mesin malah macet, tak pernah kami temukan,” tambahnya.

Di sisi lain di Dermaga Pasar Terapung, ada Alfin. Ia dari kesatuan BPK Hipsi Kampung Gedang, Gang Silaturahim.

Ia bersama belasan personelnya juga tampak sibuk mengecek mesin. Kepada penulis, dibeberkannya, selama bertugas ia belum pernah menemui kendala teknis. Lancar-lancar saja.

“Kalau pun ada kendala, hanya sulitnya menemukan titik air. Ketika datang, kita tidak tahu apakah dekat dengan sumber air atau tidak,” jelasnya.

Terlepas itu, aksi relawan BPK itu mengundang perhatian pengunjung yang mampir di Siring Pierre Tendean. Tak sedikit dari pengunjung yang merekam aksi tersebut.

Bagi pengunjung, aksi para relawan BPK tersebut menjadi tontonan yang cukup mengasyikkan.

“Asyik mas. Unik,” ucap Zulfadli. Warga Banjarbaru itu mengaku baru pertama kali melihat relawan BPK berkumpul untuk “unjuk gigi”.

Senada dengan pengunjung lain, Mega. Warga Jalan Sultan Adam itu asyik merekam dengan kameranya. Bahkan, ia terpikir untuk membuat film dokumenter tentang kegigihan relawan BPK. “Sepertinya asyik kalau ada yang memfilmkannya,” tutupnya. (fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/