alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Omzet Pedagang Sepatu Turun

BANJARMASIN – Dampak pandemi Covid-19 di Kalsel juga dirasakan oleh para pedagang sepatu. Betapa tidak, selama setahun lebih pandemi ini melanda Kalsel, para pedagang sepatu mengalami penurunan omzet yang cukup signifikan. Bahkan, beberapa diantaranya harus gulung tikar dan berganti menekuni bisnis lain.

Ihsan, salah satu pedagang sepatu di Banjarmasin tak menampik penurunan omzet lantaran pandemi Covid-19 tersebut. “Kalau dipersentasi, mungkin penurunan omzet mencapai 70 persen. Pasokan dari distributor juga tak lagi sebanyak dulu, karena pandemi juga berimbas pada sektor hulunya, yakni pabrik-pabrik sepatu yang ada di Pulau Jawa,” ujarnya.

Ditambahkan Ihsan, konsumen utama penjualan sepatu adalah pelajar. “Sejak sekolah diliburkan karena Corona, pendapatan kami semakin menurun. Biasanya, kalau tahun ajaran baru, sepatu banyak laris dicari pelajar,” sambungnya.

Untuk saat ini, Ihsan hanya mengandalkan stok dagangan yang ada. “Selain jualan di toko, saya juga memaksimalkan penjualan secara online. Harga sepatu juga dibikin lebih miring, untuk menyesuaikan kondisi ekonomi saat ini yang memang sedang lesu,” urainya.

Diceritakan Ihsan, harga sepatu yang dijualnya bervariasi. “Yang saya jual sepatu produksi dalam negeri. Jadi, harganya murah meriah. Mulai Rp150 ribuan, hingga Rp300 ribuan ke atas. Saat ini, yang paling banyak membeli sepatu adalah dari kalangan pekerja kantoran dan mahasiswa,” tandasnya. (oza/bin/ema)

BANJARMASIN – Dampak pandemi Covid-19 di Kalsel juga dirasakan oleh para pedagang sepatu. Betapa tidak, selama setahun lebih pandemi ini melanda Kalsel, para pedagang sepatu mengalami penurunan omzet yang cukup signifikan. Bahkan, beberapa diantaranya harus gulung tikar dan berganti menekuni bisnis lain.

Ihsan, salah satu pedagang sepatu di Banjarmasin tak menampik penurunan omzet lantaran pandemi Covid-19 tersebut. “Kalau dipersentasi, mungkin penurunan omzet mencapai 70 persen. Pasokan dari distributor juga tak lagi sebanyak dulu, karena pandemi juga berimbas pada sektor hulunya, yakni pabrik-pabrik sepatu yang ada di Pulau Jawa,” ujarnya.

Ditambahkan Ihsan, konsumen utama penjualan sepatu adalah pelajar. “Sejak sekolah diliburkan karena Corona, pendapatan kami semakin menurun. Biasanya, kalau tahun ajaran baru, sepatu banyak laris dicari pelajar,” sambungnya.

Untuk saat ini, Ihsan hanya mengandalkan stok dagangan yang ada. “Selain jualan di toko, saya juga memaksimalkan penjualan secara online. Harga sepatu juga dibikin lebih miring, untuk menyesuaikan kondisi ekonomi saat ini yang memang sedang lesu,” urainya.

Diceritakan Ihsan, harga sepatu yang dijualnya bervariasi. “Yang saya jual sepatu produksi dalam negeri. Jadi, harganya murah meriah. Mulai Rp150 ribuan, hingga Rp300 ribuan ke atas. Saat ini, yang paling banyak membeli sepatu adalah dari kalangan pekerja kantoran dan mahasiswa,” tandasnya. (oza/bin/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/