alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Senin, 16 Mei 2022

Neraca Perdagangan Kalsel Surplus USD640 Juta

BANJARBARU – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Selatan mencatat, neraca perdagangan (ekspor impor) Kalimantan Selatan mengalami surplus USD640,09 juta pada bulan Mei 2021.

Hal tersebut disebabkan meningkatnya ekspor dengan nilai USD671,15 juta atau naik 28,42 persen, dibanding bulan sebelumnya sebesar USD522,61 juta.

Kepala BPS Kalsel, Yos Rusdiansyah mengatakan dibandingkan dengan nilai ekspor bulan Mei 2020 yang mencapai USD363,57 juta, nilai ekspor bulan Mei 2021 juga naik sebesar 84,60 persen.

Adapun kelompok komoditas barang yang paling banyak diekspor kata dia, kelompok bahan bakar mineral yakni sebesar USD524,60 juta. “Sedangkan negara tujuan ekspor terbesar adalah Tiongkok dengan nilai USD274,00 juta,” ujar Yos.

Di sisi lain, meskipun mengalami kenaikan, nilai impor Kalimantan Selatan tidak sebesar capaian ekspor, dengan mencatatkan USD31,06 juta pada bulan Mei 2021.

“Jika dibandingkan dengan nilai impor bulan Mei 2020, nilai tersebut naik sebesar 55,10 persen yang pada saat itu nilainya mencapai USD20,03 juta,” papar Yos.

Dia menyebutkan, negara importir tertinggi untuk Kalsel, yakni Korea Selatan dengan nilai USD21,34 juta, yang naik sebesar 8,49 persen dibandingkan pada April 2021.

“Diikuti oleh impor dari Malaysia yang mencapai USD3,57 juta. Berikutnya adalah impor dari Tiongkok dengan nilai USD3,49 juta yang juga mengalami kenaikan sebesar 46,13 persen,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kalsel, Birhasani membenarkan jika ada kenaikan neraca perdagangan Kalsel pada Mei 2021. “Ini disebabkan lebih besar ekspor, dibandingkan impor,” bebernya.

Kondisi ini menurutnya, perlu menjadi perhatian para pelaku usaha untuk terus meningkatkan produksi dan perbaikan kualitas produk. “Mengingat saat ini permintaan pasar dunia semakin tinggi, terutama terhadap komoditi dan produk pertambangan serta kelapa sawit/CPO,” ujarnya.

Terlebih saat ini kata dia, harga kedua komoditi tersebut sedang mengalami kenaikan di pasar dunia. Begitu pula produk lainnya, seperti karet alam, kayu maupun rotan.

“Pelaku usaha harus memanfaatkan momentum ini dengan sebaik-baiknya untuk turut serta memperbaiki pertumbuhan ekonomi Kalsel dan Indonesia pada umumnya,” ucapnya.

Sedangkan pemerintah menurutnya harus semakin memperbaiki pelayanan terhadap upaya-upaya peningkatan perekonomian dengan memberikan kemudahan untuk para pelaku usaha. “Pelayanan yang cepat serta tepat sangat diperlukan, agar terjalin kerjasama yang baik dan harmonis dengan pelaku usaha,” pungkasnya. (ris/ran/ema)

BANJARBARU – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Selatan mencatat, neraca perdagangan (ekspor impor) Kalimantan Selatan mengalami surplus USD640,09 juta pada bulan Mei 2021.

Hal tersebut disebabkan meningkatnya ekspor dengan nilai USD671,15 juta atau naik 28,42 persen, dibanding bulan sebelumnya sebesar USD522,61 juta.

Kepala BPS Kalsel, Yos Rusdiansyah mengatakan dibandingkan dengan nilai ekspor bulan Mei 2020 yang mencapai USD363,57 juta, nilai ekspor bulan Mei 2021 juga naik sebesar 84,60 persen.

Adapun kelompok komoditas barang yang paling banyak diekspor kata dia, kelompok bahan bakar mineral yakni sebesar USD524,60 juta. “Sedangkan negara tujuan ekspor terbesar adalah Tiongkok dengan nilai USD274,00 juta,” ujar Yos.

Di sisi lain, meskipun mengalami kenaikan, nilai impor Kalimantan Selatan tidak sebesar capaian ekspor, dengan mencatatkan USD31,06 juta pada bulan Mei 2021.

“Jika dibandingkan dengan nilai impor bulan Mei 2020, nilai tersebut naik sebesar 55,10 persen yang pada saat itu nilainya mencapai USD20,03 juta,” papar Yos.

Dia menyebutkan, negara importir tertinggi untuk Kalsel, yakni Korea Selatan dengan nilai USD21,34 juta, yang naik sebesar 8,49 persen dibandingkan pada April 2021.

“Diikuti oleh impor dari Malaysia yang mencapai USD3,57 juta. Berikutnya adalah impor dari Tiongkok dengan nilai USD3,49 juta yang juga mengalami kenaikan sebesar 46,13 persen,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kalsel, Birhasani membenarkan jika ada kenaikan neraca perdagangan Kalsel pada Mei 2021. “Ini disebabkan lebih besar ekspor, dibandingkan impor,” bebernya.

Kondisi ini menurutnya, perlu menjadi perhatian para pelaku usaha untuk terus meningkatkan produksi dan perbaikan kualitas produk. “Mengingat saat ini permintaan pasar dunia semakin tinggi, terutama terhadap komoditi dan produk pertambangan serta kelapa sawit/CPO,” ujarnya.

Terlebih saat ini kata dia, harga kedua komoditi tersebut sedang mengalami kenaikan di pasar dunia. Begitu pula produk lainnya, seperti karet alam, kayu maupun rotan.

“Pelaku usaha harus memanfaatkan momentum ini dengan sebaik-baiknya untuk turut serta memperbaiki pertumbuhan ekonomi Kalsel dan Indonesia pada umumnya,” ucapnya.

Sedangkan pemerintah menurutnya harus semakin memperbaiki pelayanan terhadap upaya-upaya peningkatan perekonomian dengan memberikan kemudahan untuk para pelaku usaha. “Pelayanan yang cepat serta tepat sangat diperlukan, agar terjalin kerjasama yang baik dan harmonis dengan pelaku usaha,” pungkasnya. (ris/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/