alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Thursday, 26 May 2022

WASPADA..! BMKG Prediksi Kemarau Tahun Ini di Atas Normal

BANJARBARU – Tahun ini potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) nampaknya harus benar-benar diantisipasi. Sebab, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas I Banjarbaru memprediksi, sifat panas pada musim kemarau 2021 berada di atas normal.

“Tahun ini musim kemarau secara umum di atas normal dibandingkan biasanya (normalnya). Jika dibandingkan, tahun 2020 masih lebih basah,” kata Staf Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Banjarbaru, Khairullah.

Saat ini kata dia, beberapa wilayah Kalimantan Selatan telah memasuki musim kemarau. Hal ini sesuai dengan prakiraan mereka, bahwa awal musim kemarau di sebagian besar wilayah dimulai pada awal Juni sampai akhir Juni 2021.

Disinggung masih adanya hujan deras dalam beberapa hari terakhir, Khairullah menyebut hal itu disebabkan oleh adanya daerah pertemuan angin (konvergensi) di sekitar wilayah Kalsel. “Ini didukung oleh labilitas lokal yang kuat berpotensi menumbuhkan banyak awan,” sebutnya.

Selain itu, dia menjelaskan, nilai kelembapan udara atas yang tinggi di sekitar wilayah Kalsel juga semakin mendukung proses pertumbuhan awan-awan konvektif yang berpotensi menghasilkan hujan sedang hingga lebat disertai kilat atau petir. Serta angin kencang.

Sementara itu, untuk Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia telah menjalin kerjasama dengan International tropical timber organization (ITTO).

Koordinator Proyek Kegiatan Kerjasama ITTO Irfan Malik Setiabudi mengatakan, sasaran dalam kerja sama tersebut ialah seluruh elemen masyarakat dan instansi pengendali karhutla.

“Antara lain Manggala Agni, masyarakat peduli api, masyarakat lokal, serta instansi pengendali api di tingkat kabupaten dan provinsi,” ujarnya di Tahura Sultan Adam, Mandiangin, kemarin (15/6).

Dia menuturkan, kerjasama dilakukan dengan tiga provinsi yang rawan terjadi kebakaran hutan. Yakni, Sumatera Selatan, Kalimantan tengah dan Kalimantan Selatan.

Di sisi lain, Plt Kasi Kebakaran Hutan dan Lahan Balai PPIKHL Wilayah Kalimantan, Tri Setiawan menambahkan, tantangan terberat dalam penanganan karhutla adalah upaya pencegahan. “Masalah utama yaitu bagaimana memberikan kesadaran kepada masyarakat yang masih melakukan pembakaran lahan,” tambahnya.

Menurutnya, peningkatan sumber daya manusia di internal Manggala Agni sudah lama tidak dilakukan. “Sehingga, tiga hari ini mereka akan diberikan materi baru, selain pengendalian karhutla ada juga keselamatan kerja dan evakuasi satwa yang sangat penting bagi mereka ketika di lapangan,” ucapnya.

Dirinya mengimbau pada masyarakat, agar sama-sama menjaga bumi dan lingkungan serta jangan membakar lahan. “Karena api sekecil apapun bisa jadi musuh bagi kita,” tandasnya. (ris/ran/ema)

BANJARBARU – Tahun ini potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) nampaknya harus benar-benar diantisipasi. Sebab, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas I Banjarbaru memprediksi, sifat panas pada musim kemarau 2021 berada di atas normal.

“Tahun ini musim kemarau secara umum di atas normal dibandingkan biasanya (normalnya). Jika dibandingkan, tahun 2020 masih lebih basah,” kata Staf Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Banjarbaru, Khairullah.

Saat ini kata dia, beberapa wilayah Kalimantan Selatan telah memasuki musim kemarau. Hal ini sesuai dengan prakiraan mereka, bahwa awal musim kemarau di sebagian besar wilayah dimulai pada awal Juni sampai akhir Juni 2021.

Disinggung masih adanya hujan deras dalam beberapa hari terakhir, Khairullah menyebut hal itu disebabkan oleh adanya daerah pertemuan angin (konvergensi) di sekitar wilayah Kalsel. “Ini didukung oleh labilitas lokal yang kuat berpotensi menumbuhkan banyak awan,” sebutnya.

Selain itu, dia menjelaskan, nilai kelembapan udara atas yang tinggi di sekitar wilayah Kalsel juga semakin mendukung proses pertumbuhan awan-awan konvektif yang berpotensi menghasilkan hujan sedang hingga lebat disertai kilat atau petir. Serta angin kencang.

Sementara itu, untuk Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia telah menjalin kerjasama dengan International tropical timber organization (ITTO).

Koordinator Proyek Kegiatan Kerjasama ITTO Irfan Malik Setiabudi mengatakan, sasaran dalam kerja sama tersebut ialah seluruh elemen masyarakat dan instansi pengendali karhutla.

“Antara lain Manggala Agni, masyarakat peduli api, masyarakat lokal, serta instansi pengendali api di tingkat kabupaten dan provinsi,” ujarnya di Tahura Sultan Adam, Mandiangin, kemarin (15/6).

Dia menuturkan, kerjasama dilakukan dengan tiga provinsi yang rawan terjadi kebakaran hutan. Yakni, Sumatera Selatan, Kalimantan tengah dan Kalimantan Selatan.

Di sisi lain, Plt Kasi Kebakaran Hutan dan Lahan Balai PPIKHL Wilayah Kalimantan, Tri Setiawan menambahkan, tantangan terberat dalam penanganan karhutla adalah upaya pencegahan. “Masalah utama yaitu bagaimana memberikan kesadaran kepada masyarakat yang masih melakukan pembakaran lahan,” tambahnya.

Menurutnya, peningkatan sumber daya manusia di internal Manggala Agni sudah lama tidak dilakukan. “Sehingga, tiga hari ini mereka akan diberikan materi baru, selain pengendalian karhutla ada juga keselamatan kerja dan evakuasi satwa yang sangat penting bagi mereka ketika di lapangan,” ucapnya.

Dirinya mengimbau pada masyarakat, agar sama-sama menjaga bumi dan lingkungan serta jangan membakar lahan. “Karena api sekecil apapun bisa jadi musuh bagi kita,” tandasnya. (ris/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/