alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Senin, 16 Mei 2022

Pentingnya Belajar dari Pengalaman; Janji-Janji Harus Diingat, Kalau Perlu Tagih..!!

BANJARMASIN – Janji-janji Ibnu Sina dan Arifin Noor harus diingat-ingat. Kalau perlu ditagih.

Setidaknya, ada 20 kegiatan pembangunan yang disampaikan pada masa kampanye lalu.

Diberi slogan Baiman Jilid II, sebenarnya lanjutan dan kembangan saja dari periode sebelumnya. Contoh pembangunan trotoar di jalan protokol, normalisasi dan pariwisata sungai. Lalu pengembangan kawasan industri di Mantuil dan Alalak.

Yang baru, sebut saja pembangunan museum sungai dan pembangunan mall pelayanan publik.

Bagi dosen FISIP Universitas Lambung Mangkurat, Arif Rahman Hakim, pengalaman Ibnu Sina pada lima tahun terakhir merupakan pengalaman berharga.

Ia mengingatkan, ada beberapa kekurangan yang sebaiknya jangan diulangi.

Pertama, mengabaikan pemberdayaan masyarakat. “Terlalu terpaku pada pembangunan infrastuktur,” ujarnya, Kamis (10/6). Padahal, pemberdayaan masyarakat itu penting, apalagi di tengah pandemi.

Ia menyayangkan trotoar yang mahal dan bagus tapi malah menjadi tempat parkir atau lapak dagangan.

Kedua, jangan terjebak pada penciptaan ikon-ikon kota. “Ikon yang abadi bukan lah bangunan-bangunan, tapi sumber daya orangnya,” tegasnya.

Bisa dimulai dari edukasi sampai ke level rukun tetangga. Tak melulu harus pelatihan keterampilan kerja.

Soal pelatihan ke komunitas atau kelompok juga kurang diawasi. Akibatnya, keuntungan hanya dinikmati segelintir orang tersebut. Tidak menular ke tengah masyarakat.

Terakhir, ia menyoroti kabar miring yang kerap terdengar dari Balai Kota. Antar pejabat kerap berpolemik. Jelas mengganggu pembangunan dan bukan teladan yang baik untuk masyarakat.

“Wajar bila muncul perbedaaan pendapat di tataran pimpinan. Tapi hanya sebatas perbedaan pemikiran atau program. Ranah perdebatan cukup sampai di situ. Jangan sampai ada kepentingan lain yang ujung-ujungnya malah merusak,” tutupnya. (war/fud/ema)

BANJARMASIN – Janji-janji Ibnu Sina dan Arifin Noor harus diingat-ingat. Kalau perlu ditagih.

Setidaknya, ada 20 kegiatan pembangunan yang disampaikan pada masa kampanye lalu.

Diberi slogan Baiman Jilid II, sebenarnya lanjutan dan kembangan saja dari periode sebelumnya. Contoh pembangunan trotoar di jalan protokol, normalisasi dan pariwisata sungai. Lalu pengembangan kawasan industri di Mantuil dan Alalak.

Yang baru, sebut saja pembangunan museum sungai dan pembangunan mall pelayanan publik.

Bagi dosen FISIP Universitas Lambung Mangkurat, Arif Rahman Hakim, pengalaman Ibnu Sina pada lima tahun terakhir merupakan pengalaman berharga.

Ia mengingatkan, ada beberapa kekurangan yang sebaiknya jangan diulangi.

Pertama, mengabaikan pemberdayaan masyarakat. “Terlalu terpaku pada pembangunan infrastuktur,” ujarnya, Kamis (10/6). Padahal, pemberdayaan masyarakat itu penting, apalagi di tengah pandemi.

Ia menyayangkan trotoar yang mahal dan bagus tapi malah menjadi tempat parkir atau lapak dagangan.

Kedua, jangan terjebak pada penciptaan ikon-ikon kota. “Ikon yang abadi bukan lah bangunan-bangunan, tapi sumber daya orangnya,” tegasnya.

Bisa dimulai dari edukasi sampai ke level rukun tetangga. Tak melulu harus pelatihan keterampilan kerja.

Soal pelatihan ke komunitas atau kelompok juga kurang diawasi. Akibatnya, keuntungan hanya dinikmati segelintir orang tersebut. Tidak menular ke tengah masyarakat.

Terakhir, ia menyoroti kabar miring yang kerap terdengar dari Balai Kota. Antar pejabat kerap berpolemik. Jelas mengganggu pembangunan dan bukan teladan yang baik untuk masyarakat.

“Wajar bila muncul perbedaaan pendapat di tataran pimpinan. Tapi hanya sebatas perbedaan pemikiran atau program. Ranah perdebatan cukup sampai di situ. Jangan sampai ada kepentingan lain yang ujung-ujungnya malah merusak,” tutupnya. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/