alexametrics
32.1 C
Banjarmasin
Wednesday, 25 May 2022

Gepeng Bikin Dinsos Kewalahan, Psikolog: Ini Berawal dari Kemalasan

Serbuan gelandangan dan pengemis membuat Dinas Sosial Banjarmasin kewalahan. Tim khusus segera dibentuk.

BANJARMASIN – Di setiap perempatan dan pertigaan jalan Kota Seribu Sungai, selalu ada gepeng. Fakta itu rupanya mengganggu Kepala Dinsos Banjarmasin, Iwan Ristianto.

Dia kini intens berembuk dengan Satpol PP. Idenya, harus ada tim khusus untuk menangani masalah sosial ini.

“Tugasnya monitoring di lapangan. Lalu, merespons aduan masyarakat,” ujarnya kemarin (10/6).

“Siapa pegawai yang bisa dan mau, silakan. Kami akan siapkan sarananya. Tentang anggaran, itu soal kesekian saja,” tegas Iwan.

Sasarannya bukan hanya gepeng. Tapi juga anjal (anak jalanan) dan ODGJ (orang dengan gangguan jiwa).

“Saya tak ingin sarana ala kadarnya, nanti malah menjadi masalah baru. Jangan sampai niatnya baik malah dilihat masyarakat tidak baik,” tambahnya.

Iwan menjamin, bukan hanya eksekusi, tim juga akan menangani pembinaan. Contoh, bila yang diamankan ternyata ODGJ, maka akan dirujuk ke Rumah Sakit Sambang Lihum, langsung didampingi tim.

Selama ini, gepeng hanya ditangani dengan razia dan razia melulu. Akhirnya, masalahnya tak selesai-selesai.

Sepengetahuannya, mereka yang tertangkap dan dibawa ke rumah singgah Dinsos, ternyata mayoritas sudah masuk dalam Data Terpadu Kesejahtetaan Sosial (DTKS). Artinya, sebagai warga miskin, rata-rata mereka sudah dibantu pemerintah.

Ditanya tentang contoh pembinaan, Iwan menyebutkan, salah satunya adalah pelatihan kewirausahaan. Ini sudah lama ia rencanakan, tapi tertunda akibat pandemi.

Tantangannya jelas besar. Terkadang, bantuan apapun yang diberikan, kembali lagi kepada yang dibantu, mau berubah atau tidak.

“Tinggal yang bersangkutan, mau atau tidak. Punya semangat untuk maju atau tidak. Karena bekerja dipandang lebih susah ketimbang meminta-minta. Jadi menanganinya harus pelan-pelan,” tutupnya.

Berawal dari Kemalasan

Bagi dosen di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, Dyta Setiawati Hariyono, masalah gepeng berawal dari masalah mental.

Yakni kemalasan, ingin hidup enak, tapi tak mau capek-capek bekerja.

Maka, solusinya tak cukup dengan merazia. Tapi juga perlu ada pemberian latihan kerja, plus pendampingan. “Itulah yang belum optimal dari pemerintah,” ujarnya kemarin (10/6).

Dijabarkannya, malas adalah ciri mental yang tidak sehat. Sebaliknya, yang sehat selalu menyimpan motivasi untuk memperbaiki hidupnya.

Imbasnya, tak merasa masalah dengan penghasilan yang rendah tak menentu.

Persoalannya tentu bukan sekadar mengemis di jalan. Kemalasan juga akan mengundang masalah sosial lain. Seperti perilaku yang cenderung melawan aturan dan norma yang berlaku di tengah masyarakatnya.

“Hidup gepeng yang cenderung bebas, tak disiplin waktu dan semaunya, membuat mentalitasnya semakin buruk. Mereka merasa nyaman dengan cara hidup bergantung dari belas kasihan orang lain,” tambahnya.

Semakin miris bila gaya hidup malas itu ditiru anak-anak. Maka jangan heran bila menemui gepeng komplet satu keluarga.

“Ditambah latar belakang pendidikan yang rendah, semakin membuat gepeng kesulitan dalam menembus persaingan kerja,” tutup Dyta. (war/jy/fud)

Serbuan gelandangan dan pengemis membuat Dinas Sosial Banjarmasin kewalahan. Tim khusus segera dibentuk.

BANJARMASIN – Di setiap perempatan dan pertigaan jalan Kota Seribu Sungai, selalu ada gepeng. Fakta itu rupanya mengganggu Kepala Dinsos Banjarmasin, Iwan Ristianto.

Dia kini intens berembuk dengan Satpol PP. Idenya, harus ada tim khusus untuk menangani masalah sosial ini.

“Tugasnya monitoring di lapangan. Lalu, merespons aduan masyarakat,” ujarnya kemarin (10/6).

“Siapa pegawai yang bisa dan mau, silakan. Kami akan siapkan sarananya. Tentang anggaran, itu soal kesekian saja,” tegas Iwan.

Sasarannya bukan hanya gepeng. Tapi juga anjal (anak jalanan) dan ODGJ (orang dengan gangguan jiwa).

“Saya tak ingin sarana ala kadarnya, nanti malah menjadi masalah baru. Jangan sampai niatnya baik malah dilihat masyarakat tidak baik,” tambahnya.

Iwan menjamin, bukan hanya eksekusi, tim juga akan menangani pembinaan. Contoh, bila yang diamankan ternyata ODGJ, maka akan dirujuk ke Rumah Sakit Sambang Lihum, langsung didampingi tim.

Selama ini, gepeng hanya ditangani dengan razia dan razia melulu. Akhirnya, masalahnya tak selesai-selesai.

Sepengetahuannya, mereka yang tertangkap dan dibawa ke rumah singgah Dinsos, ternyata mayoritas sudah masuk dalam Data Terpadu Kesejahtetaan Sosial (DTKS). Artinya, sebagai warga miskin, rata-rata mereka sudah dibantu pemerintah.

Ditanya tentang contoh pembinaan, Iwan menyebutkan, salah satunya adalah pelatihan kewirausahaan. Ini sudah lama ia rencanakan, tapi tertunda akibat pandemi.

Tantangannya jelas besar. Terkadang, bantuan apapun yang diberikan, kembali lagi kepada yang dibantu, mau berubah atau tidak.

“Tinggal yang bersangkutan, mau atau tidak. Punya semangat untuk maju atau tidak. Karena bekerja dipandang lebih susah ketimbang meminta-minta. Jadi menanganinya harus pelan-pelan,” tutupnya.

Berawal dari Kemalasan

Bagi dosen di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, Dyta Setiawati Hariyono, masalah gepeng berawal dari masalah mental.

Yakni kemalasan, ingin hidup enak, tapi tak mau capek-capek bekerja.

Maka, solusinya tak cukup dengan merazia. Tapi juga perlu ada pemberian latihan kerja, plus pendampingan. “Itulah yang belum optimal dari pemerintah,” ujarnya kemarin (10/6).

Dijabarkannya, malas adalah ciri mental yang tidak sehat. Sebaliknya, yang sehat selalu menyimpan motivasi untuk memperbaiki hidupnya.

Imbasnya, tak merasa masalah dengan penghasilan yang rendah tak menentu.

Persoalannya tentu bukan sekadar mengemis di jalan. Kemalasan juga akan mengundang masalah sosial lain. Seperti perilaku yang cenderung melawan aturan dan norma yang berlaku di tengah masyarakatnya.

“Hidup gepeng yang cenderung bebas, tak disiplin waktu dan semaunya, membuat mentalitasnya semakin buruk. Mereka merasa nyaman dengan cara hidup bergantung dari belas kasihan orang lain,” tambahnya.

Semakin miris bila gaya hidup malas itu ditiru anak-anak. Maka jangan heran bila menemui gepeng komplet satu keluarga.

“Ditambah latar belakang pendidikan yang rendah, semakin membuat gepeng kesulitan dalam menembus persaingan kerja,” tutup Dyta. (war/jy/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/