alexametrics
33.1 C
Banjarmasin
Senin, 16 Mei 2022

Siap Tatap Muka, Sudah 200 Sekolah Melapor

BANJARBARU – Pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) tingkat SMA dan SMK di Kalsel hingga kini belum ada kepastian. Sebab, Pemprov Kalsel masih mendata sekolah-sekolah yang layak melaksanakannya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel, M Yusuf Effendi menyampaikan, dari 354 SMA/SMK dan SLB sudah ada 200 sekolah yang menyerahkan laporan kesiapan melaksanakan PTM. “Jadi 60 persen sekolah yang sudah melapor,” katanya kepada Radar Banjarmasin.

Dia mengungkapkan, awalnya cuma 78 sekolah yang melaporkan kesiapan PTM. Namun setelah pihaknya mengimbau, satuan pendidikan tidak diperkenankan melaksanakan PTM apabila tidak menyerahkan laporan, semakin banyak sekolah yang menyampaikan kesiapan. “Dari 78 sekolah, berkembang jadi 100. Lalu sekarang sudah 200 sekolah,” ungkapnya.

Disampaikannya, bahan laporan yang diserahkan satuan pendidikan berisikan tentang syarat-syarat pelaksanaan PTM. “Seperti persetujuan orang tua, kesiapan protokol kesehatan dan keterangan dari Satgas Covid-19 mengenai posisi sekolah berada dalam zona apa,” tuturnya.

Saat ini kata Yusuf, pihaknya masih menunggu laporan dari sekolah lainnya. Selanjutnya, mereka akan membahas satu per satu sekolah yang layak melaksanakan PTM. “Kami bahas dulu di internal dinas. Kemudian dibahas lebih lanjut dengan melibatkan dinas terkait lainnya, termasuk PGRI dan Satgas Covid-19,” paparnya.

Setelah sudah menentukan sekolah mana saja yang layak melaksanakan PTM, selanjutnya dilakukan simulasi belajar tatap muka di masing-masing sekolah. “Kalau dalam simulasi memang memenuhi syarat, baru kami meminta persetujuan pelaksanaan PTM ke gubernur. Jadi, tergantung gubernur setuju atau tidak,” beber Yusuf.

Lanjutnya, pihaknya menargetkan akhir Juni data sekolah yang layak melaksanakan PTM sudah diajukan ke Gubernur Kalsel. “Jika disetujui, maka awal tahun ajaran baru 2021-2022 Juli nanti sudah ada sekolah yang melaksanakan PTM secara terbatas,” ujarnya.

Dia menegaskan, sekolah yang mau melaksanakan belajar tatap muka harus melihat zonasi pemukiman siswa, guru dan tenaga pendidiknya. Kalau berada di zona hijau dan kuning maka sekolah diperkenankan buka. “Tapi kalau zona merah dan orange, sekolah tidak dibolehkan buka,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Banjarbaru Finna Rahmiati menyampaikan, sejumlah persiapan tengah mereka lakukan agar bisa melaksanakan belajar tatap muka.

Di antaranya, mempersiapkan perangkat protokol kesehatan serta membuat kesepatan dengan komite sekolah dan orang tua siswa.

“Untuk persetujuan orang tua, belum kami bagikan ke orang tua. Jadi belum tahu berapa banyak yang setuju pelaksanaan belajar tatap muka,” ucapnya.

Namun dia mengungkapkan, kalaupun nanti ada yang tidak setuju, orang tua boleh meminta anaknya tetap belajar secara daring. “Sesuai kesepakatan komite, tahun ajaran baru nanti sekolah akan dibuka. Tapi bagi orang tua yang tidak setuju, anaknya boleh tetap ikut belajar online,” ungkapnya. (ris/ran/ema)

BANJARBARU – Pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) tingkat SMA dan SMK di Kalsel hingga kini belum ada kepastian. Sebab, Pemprov Kalsel masih mendata sekolah-sekolah yang layak melaksanakannya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel, M Yusuf Effendi menyampaikan, dari 354 SMA/SMK dan SLB sudah ada 200 sekolah yang menyerahkan laporan kesiapan melaksanakan PTM. “Jadi 60 persen sekolah yang sudah melapor,” katanya kepada Radar Banjarmasin.

Dia mengungkapkan, awalnya cuma 78 sekolah yang melaporkan kesiapan PTM. Namun setelah pihaknya mengimbau, satuan pendidikan tidak diperkenankan melaksanakan PTM apabila tidak menyerahkan laporan, semakin banyak sekolah yang menyampaikan kesiapan. “Dari 78 sekolah, berkembang jadi 100. Lalu sekarang sudah 200 sekolah,” ungkapnya.

Disampaikannya, bahan laporan yang diserahkan satuan pendidikan berisikan tentang syarat-syarat pelaksanaan PTM. “Seperti persetujuan orang tua, kesiapan protokol kesehatan dan keterangan dari Satgas Covid-19 mengenai posisi sekolah berada dalam zona apa,” tuturnya.

Saat ini kata Yusuf, pihaknya masih menunggu laporan dari sekolah lainnya. Selanjutnya, mereka akan membahas satu per satu sekolah yang layak melaksanakan PTM. “Kami bahas dulu di internal dinas. Kemudian dibahas lebih lanjut dengan melibatkan dinas terkait lainnya, termasuk PGRI dan Satgas Covid-19,” paparnya.

Setelah sudah menentukan sekolah mana saja yang layak melaksanakan PTM, selanjutnya dilakukan simulasi belajar tatap muka di masing-masing sekolah. “Kalau dalam simulasi memang memenuhi syarat, baru kami meminta persetujuan pelaksanaan PTM ke gubernur. Jadi, tergantung gubernur setuju atau tidak,” beber Yusuf.

Lanjutnya, pihaknya menargetkan akhir Juni data sekolah yang layak melaksanakan PTM sudah diajukan ke Gubernur Kalsel. “Jika disetujui, maka awal tahun ajaran baru 2021-2022 Juli nanti sudah ada sekolah yang melaksanakan PTM secara terbatas,” ujarnya.

Dia menegaskan, sekolah yang mau melaksanakan belajar tatap muka harus melihat zonasi pemukiman siswa, guru dan tenaga pendidiknya. Kalau berada di zona hijau dan kuning maka sekolah diperkenankan buka. “Tapi kalau zona merah dan orange, sekolah tidak dibolehkan buka,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Banjarbaru Finna Rahmiati menyampaikan, sejumlah persiapan tengah mereka lakukan agar bisa melaksanakan belajar tatap muka.

Di antaranya, mempersiapkan perangkat protokol kesehatan serta membuat kesepatan dengan komite sekolah dan orang tua siswa.

“Untuk persetujuan orang tua, belum kami bagikan ke orang tua. Jadi belum tahu berapa banyak yang setuju pelaksanaan belajar tatap muka,” ucapnya.

Namun dia mengungkapkan, kalaupun nanti ada yang tidak setuju, orang tua boleh meminta anaknya tetap belajar secara daring. “Sesuai kesepakatan komite, tahun ajaran baru nanti sekolah akan dibuka. Tapi bagi orang tua yang tidak setuju, anaknya boleh tetap ikut belajar online,” ungkapnya. (ris/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/