alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Monday, 23 May 2022

Somasi Jegal Revitalisasi Pasar Sudimampir, Pedagang Pertanyakan Rencana Relokasi

BANJARMASIN – Peremajaan bangunan Pasar Ujung Murung dan Pasar Sudimampir Baru dipastikan takkan terlaksana dalam waktu dekat.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Banjarmasin menghadapi hambatan. Berupa somasi dari paguyuban pedagang Pasar Sudimampir Baru.

Intinya, pedagang menolak rencana revitalisasi pasar di Banjarmasin Tengah tersebut.

Dasar somasi, bahwa pemko seharusnya menunggu sampai HGB (Hak Guna Bangunan) milik pedagang berakhir pada tahun 2025 mendatang.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disperdagin Banjarmasin, Ichrom M Tezar menyebutkan, somasi bahkan dilayangkan sampai dua kali.

Pertama, saat rapat revitalisasi digelar. Kedua, saat Disperdagin hendak mendata sertifikat HGB (hak guna bangunan) milik pedagang.

Padahal, menurutnya tak semua HGB pedagang berlaku sampai empat tahun mendatang. Karena ada beberapa pedagang yang lalai memperpanjangnya.

“Belum diketahui jumlah rincinya, tapi kami bisa memastikan, ada kios yang HGB-nya sudah mati. Tapi tetap saja digunakan pedagang sampai sekarang,” beber Tezar.

Dari data awal, ada 403 kios di pasar di Jalan Pangeran Samudera tersebut.

Maka, inilah pentingnya pendataan tersebut. Guna mencari tahu mana HGB yang masih berlaku dan mana yang sudah kedaluwarsa.

Tezar menjamin, somasi takkan mengubah pendirian pemko. Pihaknya akan tetap melancarkan pendekatan persuasif kepada pedagang.

Perlu diketahui, rencana ini bahkan sudah terdengar sejak zaman wali kota sebelumnya. Masalahnya menjadi pelik karena status tanah pasar tak sepenuhnya milik pemko.

“Ada yang SHM (Sertifikat Hak Milik), HGB dan juga milik pemko. Di situ kesulitannya. Sampai sekarang belum ada titik temu,” tukasnya.

Desain bangunan yang baru pun sudah ditunjukkan kepada pedagang. “Kalau ada pedagang yang tak mengetahui, mungkin karena tak mengikuti pertemuan. Atau memang sengaja enggan mau melihatnya,” pungkasnya.

Diwawancara terpisah, Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Sudimampir Baru, Ahmad Fauzie membenarkan perihal somasi tersebut.

Menurutnya, bangunan pasar masih layak untuk digunakan. Lalu, HGB yang masih panjang sampai 2025 nanti. Tapi, alasan utama adalah perkara relokasi. Pemko tak memiliki rencana matang untuk menampung pedagang selama proyek revitalisasi berjalan.

“Kalau dimulai, pemko toh tidak memiliki tempat untuk penampungan sementara pedagang,” ujarnya kemarin.

Memang ada tawaran untuk menggunakan kawasan Mitra Plaza di Jalan Pangeran Antasari. Atau menempati halaman parkir Pasar Sudimampir.

“Kedua tempat itu tidak memungkinkan. Contoh di halaman pasar, sudah tentu diprotes para pemilik toko. Ke mana pengunjung parkir? Kalau Mitra Plaza, tanahnya kan bukan milik pemko,” cecarnya.

Dia menyarankan, agar pemko mendahulukan revitalisasi Pasar Ujung Murung. Di sana keadaannya lebih memungkinkan. “Sementara untuk Sudimampir Baru, menunggu sampai 2025 tiba. Baru nanti, silakan nego-nego lagi,” tutup Fauzie. (war/fud/ema)

BANJARMASIN – Peremajaan bangunan Pasar Ujung Murung dan Pasar Sudimampir Baru dipastikan takkan terlaksana dalam waktu dekat.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Banjarmasin menghadapi hambatan. Berupa somasi dari paguyuban pedagang Pasar Sudimampir Baru.

Intinya, pedagang menolak rencana revitalisasi pasar di Banjarmasin Tengah tersebut.

Dasar somasi, bahwa pemko seharusnya menunggu sampai HGB (Hak Guna Bangunan) milik pedagang berakhir pada tahun 2025 mendatang.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disperdagin Banjarmasin, Ichrom M Tezar menyebutkan, somasi bahkan dilayangkan sampai dua kali.

Pertama, saat rapat revitalisasi digelar. Kedua, saat Disperdagin hendak mendata sertifikat HGB (hak guna bangunan) milik pedagang.

Padahal, menurutnya tak semua HGB pedagang berlaku sampai empat tahun mendatang. Karena ada beberapa pedagang yang lalai memperpanjangnya.

“Belum diketahui jumlah rincinya, tapi kami bisa memastikan, ada kios yang HGB-nya sudah mati. Tapi tetap saja digunakan pedagang sampai sekarang,” beber Tezar.

Dari data awal, ada 403 kios di pasar di Jalan Pangeran Samudera tersebut.

Maka, inilah pentingnya pendataan tersebut. Guna mencari tahu mana HGB yang masih berlaku dan mana yang sudah kedaluwarsa.

Tezar menjamin, somasi takkan mengubah pendirian pemko. Pihaknya akan tetap melancarkan pendekatan persuasif kepada pedagang.

Perlu diketahui, rencana ini bahkan sudah terdengar sejak zaman wali kota sebelumnya. Masalahnya menjadi pelik karena status tanah pasar tak sepenuhnya milik pemko.

“Ada yang SHM (Sertifikat Hak Milik), HGB dan juga milik pemko. Di situ kesulitannya. Sampai sekarang belum ada titik temu,” tukasnya.

Desain bangunan yang baru pun sudah ditunjukkan kepada pedagang. “Kalau ada pedagang yang tak mengetahui, mungkin karena tak mengikuti pertemuan. Atau memang sengaja enggan mau melihatnya,” pungkasnya.

Diwawancara terpisah, Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Sudimampir Baru, Ahmad Fauzie membenarkan perihal somasi tersebut.

Menurutnya, bangunan pasar masih layak untuk digunakan. Lalu, HGB yang masih panjang sampai 2025 nanti. Tapi, alasan utama adalah perkara relokasi. Pemko tak memiliki rencana matang untuk menampung pedagang selama proyek revitalisasi berjalan.

“Kalau dimulai, pemko toh tidak memiliki tempat untuk penampungan sementara pedagang,” ujarnya kemarin.

Memang ada tawaran untuk menggunakan kawasan Mitra Plaza di Jalan Pangeran Antasari. Atau menempati halaman parkir Pasar Sudimampir.

“Kedua tempat itu tidak memungkinkan. Contoh di halaman pasar, sudah tentu diprotes para pemilik toko. Ke mana pengunjung parkir? Kalau Mitra Plaza, tanahnya kan bukan milik pemko,” cecarnya.

Dia menyarankan, agar pemko mendahulukan revitalisasi Pasar Ujung Murung. Di sana keadaannya lebih memungkinkan. “Sementara untuk Sudimampir Baru, menunggu sampai 2025 tiba. Baru nanti, silakan nego-nego lagi,” tutup Fauzie. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/