alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Rabu, 18 Mei 2022

Curhat Warga di Batas Kota: Mungkin Hanya Dikira Hutan

Sebagai peringatan kepada pengendara, di bagian jalan yang mengalami abrasi, ditancapi tongkat yang pada ujungnya diikat kantong plastik warna putih. Seperti bendera tanda menyerah.

BANJARMASIN – Sudah bertahun-tahun jalan di Murung Selong, Banjarmasin Timur, dibiarkan rusak parah. Korbannya juga sudah banyak.

“Mungkin kawasan ini dikira hutan belantara. Jadi tak terlalu diperhatikan pemerintah,” kata warga setempat Hj Raudah, kemarin (2/6) siang.

Jalan lingkungan itu berada di RT 12 Kelurahan Sungai Lulut, di perbatasan antara Banjarmasin dan Kabupaten Banjar. Panjangnya cuma 100 meter, tapi korbannya tak sedikit.

Tanah yang dicor semen itu amblas, mengalami abrasi lantaran kerap dihantam gelombang sungai. Kian diperparah oleh banjir yang melanda awal Januari lalu.

“Sudah banyak yang terperosok atau terjatuh. Dari pengayuh sepeda sampai pengendara motor,” tambah perempuan 38 tahun itu.

Dia masih mengingat dengan jelas peristiwa yang menimpa warga beberapa bulan lalu. Kala itu, pada malam hari, seorang pengendara bersama motor matic yang dikendarainya tercebur ke sungai. Ia rupanya tak melihat ada lubang menganga di pinggir jalan.

“Saya kaget melihat ia berenang dengan mengenakan helm motor. Beruntung, si pengendara tak mengalami luka serius,” kisahnya.

Senada dengan warga lainnya, Mahdiah. Kalau dibiarkan rusak, bukan hanya orang dewasa, anak kecil juga bisa menjadi korban.

“Anak-anak sering bermain, berlari-lari di jalan ini. Kami khawatir anak-anak terjatuh ke sungai,” ungkap perempuan 50 tahun itu.

Sebagai peringatan, mencegah korban jiwa, warga memberi penanda di bagian jalan yang paling rusak. “Kami berharap ada perhatian dari pemerintah,” tegas Mahdiah.

Dikonfirmasi terpisah, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin, Doyo Pudjadi mengaku sudah melihat kerusakan jalan di sana.

Diakuinya, bila dibiarkan berlarut-larut, kerusakan itu bakal semakin menjadi-jadi.

Namun, pejabat yang juga merangkap sebagai Asisten I Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setdako Banjarmasin itu mengatakan, anggaran dinasnya sangat terbatas.

Apalagi permohonan perbaikan jalan di Murung Selong sudah dilayangkan lewat lurah, camat, dan DPRD. “Kami masih mempelajari, apakah bisa menggeser anggaran yang ada. Agar tak harus menunggu sampai tahun 2022,” kata Doyo.

Bukan Hanya Murung Selong

Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin, Doyo Pudjadi menyebut ada banyak keluhan warga terkait kerusakan infrastruktur.

“Tidak hanya Murung Selong. Beberapa di antaranya ada di wilayah PSU itu, di Kecamatan Banjarmasin Selatan,” bebernya.

Tapi keluhan itu terpaksa masuk daftar antrean. “Kalau anggarannya ada, kapan pun kami siap memperbaiki,” tambah Doyo.

Berapa angkanya? Doyo menyebutkan, untuk APBD 2021, PUPR membuat usulan Rp440 miliar. Tapi hanya separuh yang dikabulkan, Rp220 miliar saja.

“Jadi, bagaimana bisa kami memberikan pelayanan prima? Persoalannya di situ,” tukasnya.

Dia berjanji akan melobi lebih giat. “Apalagi kebutuhan infrastruktur erat kaitannya dengan lalu lintas ekonomi masyarakat, termasuk prioritas,” tegasnya.

“”Mestinya, anggaran yang dimiliki PUPR itu dua kali lipat dari usulan. Dengan porsi anggaran yang lebih, usulan perbaikan dadakan bisa dengan mudah diselesaikan,” tutupnya. (war/fud/ema)

Sebagai peringatan kepada pengendara, di bagian jalan yang mengalami abrasi, ditancapi tongkat yang pada ujungnya diikat kantong plastik warna putih. Seperti bendera tanda menyerah.

BANJARMASIN – Sudah bertahun-tahun jalan di Murung Selong, Banjarmasin Timur, dibiarkan rusak parah. Korbannya juga sudah banyak.

“Mungkin kawasan ini dikira hutan belantara. Jadi tak terlalu diperhatikan pemerintah,” kata warga setempat Hj Raudah, kemarin (2/6) siang.

Jalan lingkungan itu berada di RT 12 Kelurahan Sungai Lulut, di perbatasan antara Banjarmasin dan Kabupaten Banjar. Panjangnya cuma 100 meter, tapi korbannya tak sedikit.

Tanah yang dicor semen itu amblas, mengalami abrasi lantaran kerap dihantam gelombang sungai. Kian diperparah oleh banjir yang melanda awal Januari lalu.

“Sudah banyak yang terperosok atau terjatuh. Dari pengayuh sepeda sampai pengendara motor,” tambah perempuan 38 tahun itu.

Dia masih mengingat dengan jelas peristiwa yang menimpa warga beberapa bulan lalu. Kala itu, pada malam hari, seorang pengendara bersama motor matic yang dikendarainya tercebur ke sungai. Ia rupanya tak melihat ada lubang menganga di pinggir jalan.

“Saya kaget melihat ia berenang dengan mengenakan helm motor. Beruntung, si pengendara tak mengalami luka serius,” kisahnya.

Senada dengan warga lainnya, Mahdiah. Kalau dibiarkan rusak, bukan hanya orang dewasa, anak kecil juga bisa menjadi korban.

“Anak-anak sering bermain, berlari-lari di jalan ini. Kami khawatir anak-anak terjatuh ke sungai,” ungkap perempuan 50 tahun itu.

Sebagai peringatan, mencegah korban jiwa, warga memberi penanda di bagian jalan yang paling rusak. “Kami berharap ada perhatian dari pemerintah,” tegas Mahdiah.

Dikonfirmasi terpisah, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin, Doyo Pudjadi mengaku sudah melihat kerusakan jalan di sana.

Diakuinya, bila dibiarkan berlarut-larut, kerusakan itu bakal semakin menjadi-jadi.

Namun, pejabat yang juga merangkap sebagai Asisten I Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setdako Banjarmasin itu mengatakan, anggaran dinasnya sangat terbatas.

Apalagi permohonan perbaikan jalan di Murung Selong sudah dilayangkan lewat lurah, camat, dan DPRD. “Kami masih mempelajari, apakah bisa menggeser anggaran yang ada. Agar tak harus menunggu sampai tahun 2022,” kata Doyo.

Bukan Hanya Murung Selong

Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin, Doyo Pudjadi menyebut ada banyak keluhan warga terkait kerusakan infrastruktur.

“Tidak hanya Murung Selong. Beberapa di antaranya ada di wilayah PSU itu, di Kecamatan Banjarmasin Selatan,” bebernya.

Tapi keluhan itu terpaksa masuk daftar antrean. “Kalau anggarannya ada, kapan pun kami siap memperbaiki,” tambah Doyo.

Berapa angkanya? Doyo menyebutkan, untuk APBD 2021, PUPR membuat usulan Rp440 miliar. Tapi hanya separuh yang dikabulkan, Rp220 miliar saja.

“Jadi, bagaimana bisa kami memberikan pelayanan prima? Persoalannya di situ,” tukasnya.

Dia berjanji akan melobi lebih giat. “Apalagi kebutuhan infrastruktur erat kaitannya dengan lalu lintas ekonomi masyarakat, termasuk prioritas,” tegasnya.

“”Mestinya, anggaran yang dimiliki PUPR itu dua kali lipat dari usulan. Dengan porsi anggaran yang lebih, usulan perbaikan dadakan bisa dengan mudah diselesaikan,” tutupnya. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/