alexametrics
24.1 C
Banjarmasin
Sunday, 29 May 2022

Tembaki Warga di Warung Biliar, Aksi Koboy Jalanan Hantui Warga Tanah Bumbu

 

BATULICIN – Seperti malam yang lain. Petang hari, lampu-lampu warung biliar di kawasan pal 7 Desa Sarigadung Kecamatan Simpang Empat ramai warna-warni.

Jalan ini lumayan ramai. Jalan poros dari Batulicin ke Mantewe, tembus Kandangan. Biasa supir truk, mampir ngopo, dan cuci mata godain penjaga warung.

Warung Mama Aulia juga ramai. Ibu muda ini berparas ayu. Berasal dari Kotabaru. Tapi sudah pindah domisi di Tanah Bumbu. Dia nyewa rumah di tepi jalan bersama suaminya, pemuda asal Kandangan. Rumah itu disulap jadi warung biliar.

Baru dua bulan belakangan ini Mama Aulia kedatangan rekan. Raudah namanya. Juga ibu muda. Dua perempuan ramah itu berhasil menambah pelanggan dari hari ke hari.

Gaji di warung biliar lumayan. Bunga, bukan nama sebenarnya, juga dari Kotabaru belum lama tadi kerja di salah satu warung biliar.”Saya lihat ada tawaran kerja di FB. Jaga warung. Gaji pokoknya Rp1,5 juta,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin, Rabu petang kemarin.

Alangkah gembiranya Bunga, ketika gajian dia dapat uang pokok Rp2 juta. Belum tambah bonus ini dan itu. Lumayan katanya, hanya duduk dan susun bola biliar, serta membuat kopi atau mie rebus pesanan tamu.

Di malam naas itu, sekitar tengah malam. Datang empat pemuda ke Warung Mama Aulia. Tampak seorang membawa senapan, dan meletakannya di kursi, di dalam warung. Tidak terlihat dari luar.

Seperti hukum tidak tertulis. Jika sudah ada beberapa pria nongkrong di warung biliar, pria lain biasanya enggan mampir, dan memilih mencari warung sepi lainnya. “Hukum” ini rupanya yang membuat si tamu berani meletakkan senjata di warung.

Empat pemuda itu meminta teko. Mereka mengoplos miras di sana. Diduga tuak dicampur alkohol gajah duduk. Botol-botol gajah duduk berwarna hijau terlihat di samping warung.

Dengan ramah Mama Aulia dan Raudah melayani. Bergantian menyusun bola biliar. Malam semakin larut. Para pemuda semakin asyik. Pengaruh miras mulai terlihat. Obrolan sudah tidak tertata.

“Dulu ada juga saya ketemu yang suka mabuk. Habis ditantangnya orang kelahi. Saya lapor ke bos. Orang itu ditegur, dan gak datang lagi sekarang,” kata Bunga.

Dari cerita mulut ke mulut warga di sana. Saat waktu sudah masuk dini hari. Mama Aulia masuk ke kamar, menyusul suaminya. Mereka tidur. Meninggalkan Raudah sendirian di luar.

Jelang pukul 03.00, warung perlahan ditutup. Suami Raudah, Hendri Jaya baru berusia 24 tahun datang dengan roda dua. Seperti biasa dia menjemput sang istri. Mereka tinggal di Desa Baroqah, sekitar 12 kilometer arah ke pusat kota.

Halus Raudah meminta para tamu pulang. Subuh sudah hampir tiba. Warung-warung lain sudah hampir semua tutup. Tapi seorang pemuda menolak. Dia marah. Dan meminta lagi sebuah teko, untuk mengoplos miras.

Raudah menolak. Pemuda makin marah, dan menyiram air miras dari gelas yang dia pegang ke tubuh Raudah. Melihat itu, Hendri yang sudah jengkel akhirnya naik pitam. Dia marah. Dan terjadilah perkelahian di dalam warung.

Bak buk bak, entah siapa memukul siapa. Yang jelas suami Mama Aulia terbangun karena warung bergetar, dan juga teriakan Raudah.

Dan tibalah kejadian di luar nalar itu. Cepat tanpa diduga. Seorang pemuda lainnya mengambil senjata laras panjang, menembakkannya ke tubuh Hendri.

Pemuda malang yang bekerja jadi buruh harian itu mencoba kabur. Tapi di luar warung, di pinggir jalan dia kembali ditembak. Warga mendengar ada lima kali ledakan memekakkan telinga terdengar.”Nyaring sekali. Tapi saya tidak berani ke luar (karena tahu itu suara senjata api),” kata seorang tetangga Mama Aulia.

Usai menembak, pemuda itu lantas berteriak: “ayo, kita kabur!” Saksi mata melihat ada dua sepeda motor kabur ke kegelapan.

Raudah menangis dan menjerit. Bersama warga dia membawa tubuh bersimbah darah Hendri ke Mapolsek Simpang Empat. Entah panik atau tidak tahu harus berbuat apa. Padahal sebelum Mapolsek ada RS Marina Permata, walau beda arah.

Sampai di Mapolsek Simpang Empat, polisi yang piket segera melarikan korban ke RS milik pemerintah Andi Abdurrahman Noor, lebih jauh jaraknya daripada RS swasta Marina Permata. Sampai di Andi Abdurrahman, Hendri dinyatakan meninggal.

Polisi bergerak cepat ke TKP. Banyak pria berpakaian preman. Juga terlihat intel-intel dari tentara. Wajah-wajah pucat warga terlihat. Semua takut memberikan keterangan kepada wartawan.

Dari informan Radar Banjarmasin ada lima selongsong peluru ditemukan. Jenis kaliber 5,56. Jenis peluru yang biasa digunakan untuk senapan serbu seperti Mk 12 dan SS1.

“Gila itu kalibar 5,56. Harusnya orang itu ke Palestina. Bantu saudara kita di sana. Ini malah nembaki warga sipil,” kata Agus warga yang tinggal di Batu Benawa.

Kapolres Tanah Bumbu AKBP Himawan Saragih melalui Humas AKP H I Made Rasa membenarkan ada kejadian itu. “Pelaku masih dalam pengejaran,” ujarnya kemarin.

Sementara itu warganet ramai di sosial media. Meminta aparat segera menemukan pelaku. “Kan setiap peluru ada nomor serinya. Kami minta pelaku segera ditangkap. Ini meresahkan,” ujar Iwan warga Batulicin. (zal/ran/ema)

TEROR DI WARUNG BILIAR

1) Empat pemuda main biliar di warung Mama Aulia Km 7 Sarigadung, sekitar 17 kilometer dari pusat kota Tanah Bumbu. Selain main bola sodok, mereka diduga menenggak miras oplosan

2) Jelang pukul 03.00 dini hari, Rabu (2/6) Mama Aulia masuk kamar bersama suaminya. Tinggal di luar pembantunya Raudah.

3) Raudah kemudian meminta tamu pulang, karena sudah tutup. Dan suaminya Hendri Jaya juga sudah menunggu di luar warung.

4) Seorang pemuda memaksa terus di sana, dan meminta teko lagi untuk miras oplosan, Raudah menolak. Si pemuda marah dan menyiram Raudah dengan miras.

5) Melihat istrinya dikasari, Hendri jaya marah. DIa masuk dan berkelahi dengan seorang pemuda. Seorang rekan pemuda itu lantas mengambil senjata laras panjang, menembak tubuh Hendri Jaya.

 

BATULICIN – Seperti malam yang lain. Petang hari, lampu-lampu warung biliar di kawasan pal 7 Desa Sarigadung Kecamatan Simpang Empat ramai warna-warni.

Jalan ini lumayan ramai. Jalan poros dari Batulicin ke Mantewe, tembus Kandangan. Biasa supir truk, mampir ngopo, dan cuci mata godain penjaga warung.

Warung Mama Aulia juga ramai. Ibu muda ini berparas ayu. Berasal dari Kotabaru. Tapi sudah pindah domisi di Tanah Bumbu. Dia nyewa rumah di tepi jalan bersama suaminya, pemuda asal Kandangan. Rumah itu disulap jadi warung biliar.

Baru dua bulan belakangan ini Mama Aulia kedatangan rekan. Raudah namanya. Juga ibu muda. Dua perempuan ramah itu berhasil menambah pelanggan dari hari ke hari.

Gaji di warung biliar lumayan. Bunga, bukan nama sebenarnya, juga dari Kotabaru belum lama tadi kerja di salah satu warung biliar.”Saya lihat ada tawaran kerja di FB. Jaga warung. Gaji pokoknya Rp1,5 juta,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin, Rabu petang kemarin.

Alangkah gembiranya Bunga, ketika gajian dia dapat uang pokok Rp2 juta. Belum tambah bonus ini dan itu. Lumayan katanya, hanya duduk dan susun bola biliar, serta membuat kopi atau mie rebus pesanan tamu.

Di malam naas itu, sekitar tengah malam. Datang empat pemuda ke Warung Mama Aulia. Tampak seorang membawa senapan, dan meletakannya di kursi, di dalam warung. Tidak terlihat dari luar.

Seperti hukum tidak tertulis. Jika sudah ada beberapa pria nongkrong di warung biliar, pria lain biasanya enggan mampir, dan memilih mencari warung sepi lainnya. “Hukum” ini rupanya yang membuat si tamu berani meletakkan senjata di warung.

Empat pemuda itu meminta teko. Mereka mengoplos miras di sana. Diduga tuak dicampur alkohol gajah duduk. Botol-botol gajah duduk berwarna hijau terlihat di samping warung.

Dengan ramah Mama Aulia dan Raudah melayani. Bergantian menyusun bola biliar. Malam semakin larut. Para pemuda semakin asyik. Pengaruh miras mulai terlihat. Obrolan sudah tidak tertata.

“Dulu ada juga saya ketemu yang suka mabuk. Habis ditantangnya orang kelahi. Saya lapor ke bos. Orang itu ditegur, dan gak datang lagi sekarang,” kata Bunga.

Dari cerita mulut ke mulut warga di sana. Saat waktu sudah masuk dini hari. Mama Aulia masuk ke kamar, menyusul suaminya. Mereka tidur. Meninggalkan Raudah sendirian di luar.

Jelang pukul 03.00, warung perlahan ditutup. Suami Raudah, Hendri Jaya baru berusia 24 tahun datang dengan roda dua. Seperti biasa dia menjemput sang istri. Mereka tinggal di Desa Baroqah, sekitar 12 kilometer arah ke pusat kota.

Halus Raudah meminta para tamu pulang. Subuh sudah hampir tiba. Warung-warung lain sudah hampir semua tutup. Tapi seorang pemuda menolak. Dia marah. Dan meminta lagi sebuah teko, untuk mengoplos miras.

Raudah menolak. Pemuda makin marah, dan menyiram air miras dari gelas yang dia pegang ke tubuh Raudah. Melihat itu, Hendri yang sudah jengkel akhirnya naik pitam. Dia marah. Dan terjadilah perkelahian di dalam warung.

Bak buk bak, entah siapa memukul siapa. Yang jelas suami Mama Aulia terbangun karena warung bergetar, dan juga teriakan Raudah.

Dan tibalah kejadian di luar nalar itu. Cepat tanpa diduga. Seorang pemuda lainnya mengambil senjata laras panjang, menembakkannya ke tubuh Hendri.

Pemuda malang yang bekerja jadi buruh harian itu mencoba kabur. Tapi di luar warung, di pinggir jalan dia kembali ditembak. Warga mendengar ada lima kali ledakan memekakkan telinga terdengar.”Nyaring sekali. Tapi saya tidak berani ke luar (karena tahu itu suara senjata api),” kata seorang tetangga Mama Aulia.

Usai menembak, pemuda itu lantas berteriak: “ayo, kita kabur!” Saksi mata melihat ada dua sepeda motor kabur ke kegelapan.

Raudah menangis dan menjerit. Bersama warga dia membawa tubuh bersimbah darah Hendri ke Mapolsek Simpang Empat. Entah panik atau tidak tahu harus berbuat apa. Padahal sebelum Mapolsek ada RS Marina Permata, walau beda arah.

Sampai di Mapolsek Simpang Empat, polisi yang piket segera melarikan korban ke RS milik pemerintah Andi Abdurrahman Noor, lebih jauh jaraknya daripada RS swasta Marina Permata. Sampai di Andi Abdurrahman, Hendri dinyatakan meninggal.

Polisi bergerak cepat ke TKP. Banyak pria berpakaian preman. Juga terlihat intel-intel dari tentara. Wajah-wajah pucat warga terlihat. Semua takut memberikan keterangan kepada wartawan.

Dari informan Radar Banjarmasin ada lima selongsong peluru ditemukan. Jenis kaliber 5,56. Jenis peluru yang biasa digunakan untuk senapan serbu seperti Mk 12 dan SS1.

“Gila itu kalibar 5,56. Harusnya orang itu ke Palestina. Bantu saudara kita di sana. Ini malah nembaki warga sipil,” kata Agus warga yang tinggal di Batu Benawa.

Kapolres Tanah Bumbu AKBP Himawan Saragih melalui Humas AKP H I Made Rasa membenarkan ada kejadian itu. “Pelaku masih dalam pengejaran,” ujarnya kemarin.

Sementara itu warganet ramai di sosial media. Meminta aparat segera menemukan pelaku. “Kan setiap peluru ada nomor serinya. Kami minta pelaku segera ditangkap. Ini meresahkan,” ujar Iwan warga Batulicin. (zal/ran/ema)

TEROR DI WARUNG BILIAR

1) Empat pemuda main biliar di warung Mama Aulia Km 7 Sarigadung, sekitar 17 kilometer dari pusat kota Tanah Bumbu. Selain main bola sodok, mereka diduga menenggak miras oplosan

2) Jelang pukul 03.00 dini hari, Rabu (2/6) Mama Aulia masuk kamar bersama suaminya. Tinggal di luar pembantunya Raudah.

3) Raudah kemudian meminta tamu pulang, karena sudah tutup. Dan suaminya Hendri Jaya juga sudah menunggu di luar warung.

4) Seorang pemuda memaksa terus di sana, dan meminta teko lagi untuk miras oplosan, Raudah menolak. Si pemuda marah dan menyiram Raudah dengan miras.

5) Melihat istrinya dikasari, Hendri jaya marah. DIa masuk dan berkelahi dengan seorang pemuda. Seorang rekan pemuda itu lantas mengambil senjata laras panjang, menembak tubuh Hendri Jaya.

Most Read

Artikel Terbaru

/