alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Sunday, 22 May 2022

Anang Abdul Hamidhan

DI KAMAR tidur, hanya ada satu pigura. Bukan ijazah sarjana atau foto pernikahan yang dibingkai. Melainkan kartu pers Soeara Kalimantan.

— Oleh: Muhammad Syarafuddin

Bentuknya sederhana. Karton segi empat yang dicetak dengan tinta hitam. Warnanya sudah menguning dan berbau apak.

Kartu antik itu hadiah dari Dr Siti Fauziah. Kami bertemu tahun 2012 silam. Bu dokter adalah putri Anang Abdul Hamidhan.

Hamidhan adalah pendiri surat kabar pribumi pertama di Banjarmasin. Sebelumnya hanya beredar koran milik orang Belanda.

Lahir di Tapin pada Februari 1909, Hamidhan bersekolah di Samarinda. Di sana ia belajar jurnalistik.

Maret 1930, ia mendirikan Soeara Kalimantan. Akibat berita-berita yang ditulisnya, Hamidhan tiga kali dijebloskan Hindia Belanda ke penjara. Terjerat persdelict pada tahun 1930, 1932 dan 1936.

Ketika Jepang datang, terjadi kerusuhan besar di Banjarmasin. Kantor Hamidhan turut dirusak. Ia lalu dipaksa memimpin Borneo Shimboen, media propaganda milik Dai Nippon.

Tahun 1942, riwayat Soeara Kalimantan tamat, tapi tidak dengan perjuangan Hamidhan.

Mendekati kemerdekaan, ia berangkat ke Jakarta sebagai anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) untuk mewakili provinsi Borneo.

Hamidhan turut menyaksikan pembacaan proklamasi oleh Bung Karno dan Bung Hatta di Jalan Pegangsaan Timur No 56.

Dua hari kemudian, 19 Agustus 1945, ia ditawari jabatan Gubernur Kalimantan. Hamidhan menolak, menyarankan agar Pangeran Mohammad Noor saja yang ditunjuk. Alasannya, ia lebih cocok menjadi wartawan.

Beberapa hari kemudian, ia bergegas pulang ke Banjarmasin bersama adiknya AA Rivai. Misinya, menyiarkan berita bahwa republik yang baru lahir itu sedang terancam.

Masih di tahun yang sama, Jenderal Hasan Basry memintanya mencetak poster dan pamflet kemerdekaan untuk dikirim ke Amuntai.

Setelah keadaan tenang, baru Hamidhan kembali ke bisnis koran. Istrinya Siti Aisyah membantu penerjemahan siaran kantor berita asing. Aisyah memang menguasai banyak bahasa.

Ruang redaksi dan percetakan bertempat di rumahnya di Jalan Kalimantan (sekarang berganti nama menjadi Jalan S Parman, dekat Mapolda Kalsel).

Menjelang kejatuhan Orde Lama, tahun 1961, Hamidhan memutuskan menjual alat percetakannya. Sebabnya, kecewa dengan pemerintah yang semakin ganas menekan kebebasan pers.

Kembali ke tahun 2012, saya pertama kali mendengar cerita tentang Hamidhan dari Pak Asmuni, kepala biro Radar Banjarmasin yang sudah pensiun.

Semasa masih reporter, setiap Hari Pers Nasional tiba, beliau sowan ke rumah Hamidhan. Hingga Hamidhan tutup usia pada tahun 1997. Panjang umur sampai 88 tahun.

Bermodal sekeping informasi tersebut, saya memberanikan diri mengetuk rumah Fauziah. Permintaan wawancara ditolak.

Setelah bolak-balik menelepon dan berkunjung, akhirnya, saya boleh menulis tentang Hamidhan dari kesaksian anaknya.

Berkat internet, feature itu dibaca pegawai Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Menteng. Mereka tertarik untuk menggelar pameran tentang Hamidhan.

Begitu tim dari Jakarta datang, saya pun berlagak sebagai pemandu sejarah yang sok tahu. Kami mengumpulkan data dan barang yang bisa dipamerkan.

Maka saat pameran itu digelar dan saya tak bisa berangkat, rasanya ingin menangis.

Jadi, mengapa menulis cerita lawas ini? Bukan karena peringatan Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni. Tapi lantaran melihat spanduk ‘DIJUAL’ di teras rumah Hamidhan.

Mau dijual atau dihuni, tentu hak ahli waris. Tak ada yang bisa melarang. Persoalannya bukan itu.

Motif saya jauh lebih sederhana. Bahwa cerita AA Hamidhan penting untuk diingat-ingat, terutama saat wartawan muda Banua kehilangan sosok panutan. (*)

DI KAMAR tidur, hanya ada satu pigura. Bukan ijazah sarjana atau foto pernikahan yang dibingkai. Melainkan kartu pers Soeara Kalimantan.

— Oleh: Muhammad Syarafuddin

Bentuknya sederhana. Karton segi empat yang dicetak dengan tinta hitam. Warnanya sudah menguning dan berbau apak.

Kartu antik itu hadiah dari Dr Siti Fauziah. Kami bertemu tahun 2012 silam. Bu dokter adalah putri Anang Abdul Hamidhan.

Hamidhan adalah pendiri surat kabar pribumi pertama di Banjarmasin. Sebelumnya hanya beredar koran milik orang Belanda.

Lahir di Tapin pada Februari 1909, Hamidhan bersekolah di Samarinda. Di sana ia belajar jurnalistik.

Maret 1930, ia mendirikan Soeara Kalimantan. Akibat berita-berita yang ditulisnya, Hamidhan tiga kali dijebloskan Hindia Belanda ke penjara. Terjerat persdelict pada tahun 1930, 1932 dan 1936.

Ketika Jepang datang, terjadi kerusuhan besar di Banjarmasin. Kantor Hamidhan turut dirusak. Ia lalu dipaksa memimpin Borneo Shimboen, media propaganda milik Dai Nippon.

Tahun 1942, riwayat Soeara Kalimantan tamat, tapi tidak dengan perjuangan Hamidhan.

Mendekati kemerdekaan, ia berangkat ke Jakarta sebagai anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) untuk mewakili provinsi Borneo.

Hamidhan turut menyaksikan pembacaan proklamasi oleh Bung Karno dan Bung Hatta di Jalan Pegangsaan Timur No 56.

Dua hari kemudian, 19 Agustus 1945, ia ditawari jabatan Gubernur Kalimantan. Hamidhan menolak, menyarankan agar Pangeran Mohammad Noor saja yang ditunjuk. Alasannya, ia lebih cocok menjadi wartawan.

Beberapa hari kemudian, ia bergegas pulang ke Banjarmasin bersama adiknya AA Rivai. Misinya, menyiarkan berita bahwa republik yang baru lahir itu sedang terancam.

Masih di tahun yang sama, Jenderal Hasan Basry memintanya mencetak poster dan pamflet kemerdekaan untuk dikirim ke Amuntai.

Setelah keadaan tenang, baru Hamidhan kembali ke bisnis koran. Istrinya Siti Aisyah membantu penerjemahan siaran kantor berita asing. Aisyah memang menguasai banyak bahasa.

Ruang redaksi dan percetakan bertempat di rumahnya di Jalan Kalimantan (sekarang berganti nama menjadi Jalan S Parman, dekat Mapolda Kalsel).

Menjelang kejatuhan Orde Lama, tahun 1961, Hamidhan memutuskan menjual alat percetakannya. Sebabnya, kecewa dengan pemerintah yang semakin ganas menekan kebebasan pers.

Kembali ke tahun 2012, saya pertama kali mendengar cerita tentang Hamidhan dari Pak Asmuni, kepala biro Radar Banjarmasin yang sudah pensiun.

Semasa masih reporter, setiap Hari Pers Nasional tiba, beliau sowan ke rumah Hamidhan. Hingga Hamidhan tutup usia pada tahun 1997. Panjang umur sampai 88 tahun.

Bermodal sekeping informasi tersebut, saya memberanikan diri mengetuk rumah Fauziah. Permintaan wawancara ditolak.

Setelah bolak-balik menelepon dan berkunjung, akhirnya, saya boleh menulis tentang Hamidhan dari kesaksian anaknya.

Berkat internet, feature itu dibaca pegawai Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Menteng. Mereka tertarik untuk menggelar pameran tentang Hamidhan.

Begitu tim dari Jakarta datang, saya pun berlagak sebagai pemandu sejarah yang sok tahu. Kami mengumpulkan data dan barang yang bisa dipamerkan.

Maka saat pameran itu digelar dan saya tak bisa berangkat, rasanya ingin menangis.

Jadi, mengapa menulis cerita lawas ini? Bukan karena peringatan Hari Kelahiran Pancasila 1 Juni. Tapi lantaran melihat spanduk ‘DIJUAL’ di teras rumah Hamidhan.

Mau dijual atau dihuni, tentu hak ahli waris. Tak ada yang bisa melarang. Persoalannya bukan itu.

Motif saya jauh lebih sederhana. Bahwa cerita AA Hamidhan penting untuk diingat-ingat, terutama saat wartawan muda Banua kehilangan sosok panutan. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

Madam dan Mudik

Majas, Bukan Poster Seksis

Politisi dan Air Mata Tak Terbukti

Organisasi Kepemudaan

/