alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Saturday, 28 May 2022

Ajari Anak dengan Hati

Anak stres? Orang tua pun stres? Sementara zona belajar tatap muka yang kondusif belumlah terealisasi. Akankah sekolah menggunakan belajar tatap muka atau tetap dari rumah saja? Sedangkan orang tua sudah mulai merasa kepayahan dan anak sering mendapatkan tekanan ketika harus menyelesaikan berbagai tugas. Beban kehidupan mereka makin berat saat menjadi guru dadakan tanpa modal keilmuan sedikit pun.

==========================
Oleh: Rozaqiyah Husaeni, S. Pd
Guru SDN Sungai Lembu
==========================

Anak usia sekolah dasar mungkin sebagian sudah terbiasa memegang handphone, tetapi kalau dikaitkan dengan pelajaran. Apakah anak mampu mandiri belajar sendiri? Sedangkan anak usia sekolah menengah saja kadang masih perlu bimbingan dan kontrol yang ketat. Bila terlalu sering menggunakan handphone bermain akan membuat anak tak tertarik lagi dengan belajar. Jika direnungkan dalam-dalam, mungkin hanya hitungan jari saja anak yang mampu belajar mandiri dengan androidnya. Belajar dengan sungguh- sungguh dan penuh tanggung jawab terhadap tugar BDR yang diberikan.

Memang tidaklah mudah membimbing anak belajar di rumah dengan jangka waktu yang lama dan monoton tanpa bekal keilmuan. Banyaknya aktivitas dan pekerjaan orang tua di rumah kadang membuat kurang sabar dalam mendampingi anak dalam belajar. Apalagi jika di hati sudah menolak dan beranggapan bahwa belajar dan pendidikan adalah tanggung jawab sekolah. Begitu juga si anak yang tiap hari bersama orang tuanya, kadang membuat enggan, bosan, dan bahkan tak menghiraukan ucapan mereka. Karena yang sering terdengar hanya perintah dan bukan bimbingan.

Sebenarnya ada sesuatu yang bisa menjadi penghubung komunikasi antara anak dan orang tua selama BDR yaitu hati yang berkaitan erat dengan bahasa cinta anak. Menurut Dr. Chapman ada lima komponen bahasa cinta yang yang bisa diterapkan.

Pertama dengan sentuhan (physical touch) yang bisa dipenuhi dengan membelai kepalanya, memeluk, mencium, membelai pipi, duduk berdekatan, menggendong, atau menggandeng sehingga merasa disayangi.

Kedua menggunakan kata-kata penegasan (words of affirmation) bisa berwujud ucapan sayang, pujian, motivasi, atau bimbingan dengan kalimat dalam bentuk apresiasi.

Ketiga meluangkan waktu yang berkualitas (quality time), yaitu dengan perhatian yang khusus untuk berbagi fokus membimbing tugas dengannya, dan memberikan suasana belajar yang santai tapi serius.

Keempat, memberikan hadiah (receiving gift) dengan wujud yang tanpa disertai alasan. Hadiah diberikan bukan adanya “karena sudah begini atau begitu” dan tidak harus menunggu waktu istimewa.

Kelima, pelayanan maksimal (act of service), yaitu dengan melayani yang disesuaikan dengan tingkatan usianya. Misalnya membantu menyiapkan makanan untuk bekal sekolahnya atau membantu masalah dalam pembelajarannya, bukan menjawabkan soal-soalnya.

Nah, kita sebagai orang tua apakah sudah mengenali bahasa cinta anak ? Orang tua mestinya mau mencari tahu bahasa cinta tersebut. Setelah kita tahu bahasa cintanya, maka kita akan mampu mengisinya dengan tepat dan penuh. Sehingga terbentuk kepercayaan pada anak bahwa mereka dicintai dan akhirnya menjadi penurut atau lebih kooperatif serta bisa diarahkan untuk belajar dengan lebih damai.

Ah, teori! Mungkin itu yang terbersit dan tersuarakan di hati kita. Nah, ini yang membuat pemutus jembatan kasih kita kepada anak sehingga kita sulit untuk selalu mendampingi dan membersamai anak dalam belajar. Dan teori ini takkan berguna jika hanya dibaca saja tanpa dipraktikkan. Karena kekuatan teori mungkin hanya 5% saja dan yang menjadi modal utama adalah bersedia melakukannya. Sudah capek teriak-teriak. Sudah habis tenaga buat ngomel-ngomel. Sudah banyak energi terbuang, tapi anak tetap saja tak mau mendengarkan. Malah kadang lebih sering memancing emosi. Apa yang perlu kita perbaiki? Tentunya orang tua harus memahami bahasa cinta.

Ketika bahasa cinta anak sudah terpenuhi, maka pada akhirnya anak akan merasa dicintai. Dan rasa dicintai ini akan memberikan dampak positif seperti anak akan merasa bahagia dan tidak mudah frustasi sehingga jika ada soal-soal pembelajaran tidak akan merasa terbebani.

Secara fisik anak juga akan lebih sehat karena perkembangan otak dan daya ingat meningkat pesat. Hormon Ositosin sedang ON membuat anak mudah konsentrasi dan memahami sesuatu termasuk dalam belajar. Anak merasa dekat dengan orang tua sehingga akan lebih mudah diarahkan. Anak juga percaya diri dan punya harga diri yang ditumbuhkan dari sikap positif orang tuanya.

Yuk, ayah bunda, luangkan waktu sejenak tuk evaluasi diri demi anak-anak kita. Karena anak adalah hadiah dan amanah kita yang paling utama. Aset yang paling berharga kita. Bagaimana pendidikannya, karakternya, itu adalah tanggungjawab kita. Karena bagaimana karakter anak adalah cerminan diri kita. Ayah dan Bunda adalah tim yang solid dalam mendidik anak dalam keluarga.

Maka, mari berperan maksimal. Rasanya tidaklah mungkin kita sampai tidak ada waktu untuk merenungkan ini demi kemajuan masa depan anak kita.

Jika orang tua sudah mulai merubah sikap dan mengamalkan bahasa cinta, maka akan berdampak positif pula bagi anak. Orang tua akan makin mengerti dan memahami akan kebutuhan anak dan selalu bersikap empaty. Orang tua yang mengajari anak dengan hati akan mengurangi rasa beban BDR. Sehingga lambat laun rasa stres yang dialami orang tua maupun anak akan berkurang. Meski semua perlu proses tapi kalau bukan kita, siapa lagi. Dan kita tak tau kapan BDR berakhir maka kalau tidak sekarang, kapan lagi.

Anak stres? Orang tua pun stres? Sementara zona belajar tatap muka yang kondusif belumlah terealisasi. Akankah sekolah menggunakan belajar tatap muka atau tetap dari rumah saja? Sedangkan orang tua sudah mulai merasa kepayahan dan anak sering mendapatkan tekanan ketika harus menyelesaikan berbagai tugas. Beban kehidupan mereka makin berat saat menjadi guru dadakan tanpa modal keilmuan sedikit pun.

==========================
Oleh: Rozaqiyah Husaeni, S. Pd
Guru SDN Sungai Lembu
==========================

Anak usia sekolah dasar mungkin sebagian sudah terbiasa memegang handphone, tetapi kalau dikaitkan dengan pelajaran. Apakah anak mampu mandiri belajar sendiri? Sedangkan anak usia sekolah menengah saja kadang masih perlu bimbingan dan kontrol yang ketat. Bila terlalu sering menggunakan handphone bermain akan membuat anak tak tertarik lagi dengan belajar. Jika direnungkan dalam-dalam, mungkin hanya hitungan jari saja anak yang mampu belajar mandiri dengan androidnya. Belajar dengan sungguh- sungguh dan penuh tanggung jawab terhadap tugar BDR yang diberikan.

Memang tidaklah mudah membimbing anak belajar di rumah dengan jangka waktu yang lama dan monoton tanpa bekal keilmuan. Banyaknya aktivitas dan pekerjaan orang tua di rumah kadang membuat kurang sabar dalam mendampingi anak dalam belajar. Apalagi jika di hati sudah menolak dan beranggapan bahwa belajar dan pendidikan adalah tanggung jawab sekolah. Begitu juga si anak yang tiap hari bersama orang tuanya, kadang membuat enggan, bosan, dan bahkan tak menghiraukan ucapan mereka. Karena yang sering terdengar hanya perintah dan bukan bimbingan.

Sebenarnya ada sesuatu yang bisa menjadi penghubung komunikasi antara anak dan orang tua selama BDR yaitu hati yang berkaitan erat dengan bahasa cinta anak. Menurut Dr. Chapman ada lima komponen bahasa cinta yang yang bisa diterapkan.

Pertama dengan sentuhan (physical touch) yang bisa dipenuhi dengan membelai kepalanya, memeluk, mencium, membelai pipi, duduk berdekatan, menggendong, atau menggandeng sehingga merasa disayangi.

Kedua menggunakan kata-kata penegasan (words of affirmation) bisa berwujud ucapan sayang, pujian, motivasi, atau bimbingan dengan kalimat dalam bentuk apresiasi.

Ketiga meluangkan waktu yang berkualitas (quality time), yaitu dengan perhatian yang khusus untuk berbagi fokus membimbing tugas dengannya, dan memberikan suasana belajar yang santai tapi serius.

Keempat, memberikan hadiah (receiving gift) dengan wujud yang tanpa disertai alasan. Hadiah diberikan bukan adanya “karena sudah begini atau begitu” dan tidak harus menunggu waktu istimewa.

Kelima, pelayanan maksimal (act of service), yaitu dengan melayani yang disesuaikan dengan tingkatan usianya. Misalnya membantu menyiapkan makanan untuk bekal sekolahnya atau membantu masalah dalam pembelajarannya, bukan menjawabkan soal-soalnya.

Nah, kita sebagai orang tua apakah sudah mengenali bahasa cinta anak ? Orang tua mestinya mau mencari tahu bahasa cinta tersebut. Setelah kita tahu bahasa cintanya, maka kita akan mampu mengisinya dengan tepat dan penuh. Sehingga terbentuk kepercayaan pada anak bahwa mereka dicintai dan akhirnya menjadi penurut atau lebih kooperatif serta bisa diarahkan untuk belajar dengan lebih damai.

Ah, teori! Mungkin itu yang terbersit dan tersuarakan di hati kita. Nah, ini yang membuat pemutus jembatan kasih kita kepada anak sehingga kita sulit untuk selalu mendampingi dan membersamai anak dalam belajar. Dan teori ini takkan berguna jika hanya dibaca saja tanpa dipraktikkan. Karena kekuatan teori mungkin hanya 5% saja dan yang menjadi modal utama adalah bersedia melakukannya. Sudah capek teriak-teriak. Sudah habis tenaga buat ngomel-ngomel. Sudah banyak energi terbuang, tapi anak tetap saja tak mau mendengarkan. Malah kadang lebih sering memancing emosi. Apa yang perlu kita perbaiki? Tentunya orang tua harus memahami bahasa cinta.

Ketika bahasa cinta anak sudah terpenuhi, maka pada akhirnya anak akan merasa dicintai. Dan rasa dicintai ini akan memberikan dampak positif seperti anak akan merasa bahagia dan tidak mudah frustasi sehingga jika ada soal-soal pembelajaran tidak akan merasa terbebani.

Secara fisik anak juga akan lebih sehat karena perkembangan otak dan daya ingat meningkat pesat. Hormon Ositosin sedang ON membuat anak mudah konsentrasi dan memahami sesuatu termasuk dalam belajar. Anak merasa dekat dengan orang tua sehingga akan lebih mudah diarahkan. Anak juga percaya diri dan punya harga diri yang ditumbuhkan dari sikap positif orang tuanya.

Yuk, ayah bunda, luangkan waktu sejenak tuk evaluasi diri demi anak-anak kita. Karena anak adalah hadiah dan amanah kita yang paling utama. Aset yang paling berharga kita. Bagaimana pendidikannya, karakternya, itu adalah tanggungjawab kita. Karena bagaimana karakter anak adalah cerminan diri kita. Ayah dan Bunda adalah tim yang solid dalam mendidik anak dalam keluarga.

Maka, mari berperan maksimal. Rasanya tidaklah mungkin kita sampai tidak ada waktu untuk merenungkan ini demi kemajuan masa depan anak kita.

Jika orang tua sudah mulai merubah sikap dan mengamalkan bahasa cinta, maka akan berdampak positif pula bagi anak. Orang tua akan makin mengerti dan memahami akan kebutuhan anak dan selalu bersikap empaty. Orang tua yang mengajari anak dengan hati akan mengurangi rasa beban BDR. Sehingga lambat laun rasa stres yang dialami orang tua maupun anak akan berkurang. Meski semua perlu proses tapi kalau bukan kita, siapa lagi. Dan kita tak tau kapan BDR berakhir maka kalau tidak sekarang, kapan lagi.

Most Read

Artikel Terbaru

/