alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Monday, 27 June 2022

MENCARI NILAI PANCASILA PADA MASYARAKAT BANJAR MODERN

1 Juni merupakan peringatan Hari Lahir Pancasila di Indonesia. Pidato Presiden Soekarno pada 1 Juni 1945 dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang mengemukakan konsep awal Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Seberapa dekat nilai-nilai Pancasila bagi masyarakat Banjar?

—-

Sepanjang perjalanan sejarah, Pancasila sebagai landasan normatif telah mengakar begitu kuat. Namun di tengah era modernisasi ini, nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila di dalamnya kurang diterapkan .

Favehotel Banjarmasin

Hal itu diungkapkan Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Banjarmasin, S Basoeki kepada Radar Banjarmasin, kemarin (30/5) siang.

“Saya melihat nilai-nilai Pancasila masih dijalankan di jaman sekarang, tapi kurang diamalkan, penghayatan dan pengamalannya saja yang mulai luntur,” kata pria berusia 82 tahun ini.

Pensiunan TNI ini mencotohkan hal sederhana, gotong royong. Dulu hal ini selalu dilakukan oleh rakyat Indonesia. Tak mengenal latar belakang suku, agama, semuanya bergotong royong demi satu tujuan. Tapi hal sekarang sudah mulai jarang ditemui.

Menurutnya, hal ini lantaran kurangnya sosialisasi tentang pengamalan dan penghayatan mengenai nilai-nilai Pancasila. Masa orde baru, ketika anak-anak masuk sekolah tingkat pertama, mereka diajarkan tentang nilai-nilai Pancasila. “Sekarang tidak ada lagi,” ujarnya.

Padahal melalui pendidikan P4, anak-anak paham bagaimana cara penghayatan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. “P4 itu harusnya tetap dijalankan di era sekarang, sehingga ada penghayatan dan pengamalan yang seragam dari para generasi muda,” ucapnya.

Budayawan Kalimantan Selatan Iberamsyah Barbary menyatakan, nilai-nilai di dalam Pancasila sangat terlihat di budaya masyarakat Banjar.

Pada sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa misalnya, menurutnya sejak dulu orang Banjar dikenal sebagai masyarakat yang religius.

“Ciri-ciri orang Banjar itu religius, artinya masyarakat yang berketuhanan, serta berdampingan dengan segala kepercayaan dan agama,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin, kemarin.

Apalagi berkaitan dengan musyawarah yang ada dalam sila keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat, kebijaksanaan, dalam permusyawaratan/perwakilan, dia menyebut ini sudah menjadi ciri masyarakat Banjar sejak dulu.”Apabila mau menggelar acara besar keagamaan atau perayaan 17 Agustus pasti dimusyawarahkan. Biasanya di langgar atau musala,” ujar Iberamsyah.

Dalam musyarawah kata dia juga dilakukan dengan adil, tidak ada yang mau menang sendiri. Ini merupakan nilai dalam sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. “Jadi perilaku sehari-hari masyarakat Banjar sangat selaras dengan nilai Pancasila. Sampai sekarang masih terlihat,” pungkasnya.

Pengamat sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin Syaharuddin melihat nilai dan filosofi Pancasila sangat dibutuhkan, apalagi di tengah pandemi yang melanda setahun lebih ini.

“Karena diperlukan sikap gotong royong dalam konsep nilai budaya Banjar disebut Gawi Sabumi dan Kayuh Baimbai dan Kayuh Baimbai untuk sama-sama melawan dan mengatasi pandemi,” ujarnya.

Meski kondisi saat ini masyarakat cenderung individualis dan pragmatis, Syaharuddin mengatakan nilai-nilai Pancasila masih relevan. Kondisi ini justru menjadi tantangan untuk meyakinkan bahwa Pancasila menjadi solusi perekat dan pemersatu bangsa.

Caranya, harus dilakukan secara berkelanjutan di seluruh aspek kehidupan, khususnya aspek pendidikan, baik formal maupun informal. Namun perlu digali formulasi baru untuk mengenalkan Pancasila kepada generasi Milenial. Disini dibutuhkan peran orang tua, guru dan seluruh masyarakat untuk meyakinkan, bahwa Pancasila adalah solusinya, perspektif lain seperti agama juga penting yang notabene sudah terdapat dalam sila pertama.

Untuk mengembalikan semangat nilai Pancasila bagi generasi milenial, tambahnya, perlu digali formulasi yang lebih cair tidak kaku. Intinya Pancasila sebagai ideologi harus hadir dalam kehidupan mereka dalam berbagai bentuk.“Tidak perlu menghadirkan cara lama untuk membumikan Pancasila melalui P4 dan BP7 atau membentuk lembaga/badan pengamalan Pancasila,” ujarnya.

Ia melihat, generasi muda saat ini sebagian besar sudah melaksanakan nilai-nilai Pancasila. Misalnya membangun kerjasama dengan berkolaborasi untuk mencapai harapan-harapannya.

Indikasi itu terlihat dari menjamurnya ekonomi kreatif, baik secara offline maupun online yang lagi trend belakangan ini. Ini menandakan jiwa kewirausahaan mereka muncul. Mereka tidak lagi tergantung dengan orangtua.

Contoh lain, dalam bidang pendidikan, semangat menuntut Ilmu dan berinovasi dalam bidang teknologi informasi sudah tampak. Berbagai hasil kompetisi nasional maupun internasional baik jenjang SMA mau perguruan tinggi. Semua itu adalah gambaran implementasi nilai-nilai Pancasila, yakni nilai persatuan dan nasionalisme.

Lantas bagaimana menjadikan Pancasila sebagai nafas dan pandangan berbangsa bagi semua warga negara? Pancasila sebagai lambang negara dan ideologi bangsa, sudah seharusnya dijadikan nafas dalam berkehidupan berbangsa melalui berbagai aktivitas sosial. Misalnya menolong korban bencana, saling menghargai berbagai perbedaan. “Pancasila itu dipraktikkan, bukan sekadar diajarkan,” pintanya.

Lahir Bermula dari Kekalahan Jepang

Setiap 1 Juni merupakan peringatan Hari Lahir Pancasila di Indonesia. Pidato Presiden Soekarno pada 1 Juni 1945 dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang mengemukakan konsep awal Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

Pancasila sendiri merupakan dasar ideologi yang menyatukan pandangan hidup masyarakat di Indonesia. Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu Panca berarti lima dan Sila berarti asas atau prinsip. Lalu bagaimana sejarah lahirnya Pancasila?

Dihimpun dari portal Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI, sejarah kelahiran Pancasila bermula dari kekalahan Jepang pada perang pasifik. Mereka kemudian berusaha mendapatkan hati masyarakat dengan menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia dan membentuk sebuah lembaga yang tugasnya untuk mempersiapkan hal tersebut.

Lembaga itu dinamai Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pada sidang pertamanya tanggal 29 Mei 1945 di Gedung Chuo Sangi In (sekarang Gedung Pancasila), para anggota membahas mengenai tema dasar negara.

Sidang pun berjalan sekitar 5 hari, kemudian pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno menyampaikan ide serta gagasannya terkait dasar negara Indonesia, yang dinamai “Pancasila”. Panca artinya lima, sedangkan sila artinya prinsip atau asas.

Pada saat itu Bung Karno menyebutkan lima dasar untuk negara Indonesia, yakni Sila pertama “Kebangsaan”, sila kedua “Internasionalisme atau Perikemanusiaan”, sila ketiga “Demokrasi”, sila keempat “Keadilan sosial”, dan sila kelima “Ketuhanan yang Maha Esa”.

Untuk menyempurnakan rumusan Pancasila dan membuat Undang-Undang Dasar yang berlandaskan kelima asas tersebut, maka Dokuritsu Junbi Cosakai membentuk sebuah panitia yang disebut sebagai panitia Sembilan.

Panitia tersebut beronggotakan Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Abikoesno Tjokroseojoso, Agus Salim, Wahid Hasjim, Mohammad Yamin, Abdul Kahar Muzakir, Mr. AA Maramis, dan Achmad Soebardjo.

Setelah melalui beberapa proses persidangan, Pancasila akhirnya dapat disahkan pada Sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945. Pada sidang tersebut, disetujui bahwa Pancasila dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara Indonesia yang sah.

Adapun Bunyi Pancasila yang berlaku hingga kini adalah, Ketuhanan Yang Maha Esa; Kemanusiaan yang Adil dan Beradab; Persatuan Indonesia; Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat, kebijaksanaan, dalam permusyawaratan/perwakilan; Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. (ris/gmp/ran/ema)

1 Juni merupakan peringatan Hari Lahir Pancasila di Indonesia. Pidato Presiden Soekarno pada 1 Juni 1945 dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang mengemukakan konsep awal Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Seberapa dekat nilai-nilai Pancasila bagi masyarakat Banjar?

—-

Sepanjang perjalanan sejarah, Pancasila sebagai landasan normatif telah mengakar begitu kuat. Namun di tengah era modernisasi ini, nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila di dalamnya kurang diterapkan .

Favehotel Banjarmasin

Hal itu diungkapkan Ketua Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kota Banjarmasin, S Basoeki kepada Radar Banjarmasin, kemarin (30/5) siang.

“Saya melihat nilai-nilai Pancasila masih dijalankan di jaman sekarang, tapi kurang diamalkan, penghayatan dan pengamalannya saja yang mulai luntur,” kata pria berusia 82 tahun ini.

Pensiunan TNI ini mencotohkan hal sederhana, gotong royong. Dulu hal ini selalu dilakukan oleh rakyat Indonesia. Tak mengenal latar belakang suku, agama, semuanya bergotong royong demi satu tujuan. Tapi hal sekarang sudah mulai jarang ditemui.

Menurutnya, hal ini lantaran kurangnya sosialisasi tentang pengamalan dan penghayatan mengenai nilai-nilai Pancasila. Masa orde baru, ketika anak-anak masuk sekolah tingkat pertama, mereka diajarkan tentang nilai-nilai Pancasila. “Sekarang tidak ada lagi,” ujarnya.

Padahal melalui pendidikan P4, anak-anak paham bagaimana cara penghayatan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. “P4 itu harusnya tetap dijalankan di era sekarang, sehingga ada penghayatan dan pengamalan yang seragam dari para generasi muda,” ucapnya.

Budayawan Kalimantan Selatan Iberamsyah Barbary menyatakan, nilai-nilai di dalam Pancasila sangat terlihat di budaya masyarakat Banjar.

Pada sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa misalnya, menurutnya sejak dulu orang Banjar dikenal sebagai masyarakat yang religius.

“Ciri-ciri orang Banjar itu religius, artinya masyarakat yang berketuhanan, serta berdampingan dengan segala kepercayaan dan agama,” ujarnya kepada Radar Banjarmasin, kemarin.

Apalagi berkaitan dengan musyawarah yang ada dalam sila keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat, kebijaksanaan, dalam permusyawaratan/perwakilan, dia menyebut ini sudah menjadi ciri masyarakat Banjar sejak dulu.”Apabila mau menggelar acara besar keagamaan atau perayaan 17 Agustus pasti dimusyawarahkan. Biasanya di langgar atau musala,” ujar Iberamsyah.

Dalam musyarawah kata dia juga dilakukan dengan adil, tidak ada yang mau menang sendiri. Ini merupakan nilai dalam sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. “Jadi perilaku sehari-hari masyarakat Banjar sangat selaras dengan nilai Pancasila. Sampai sekarang masih terlihat,” pungkasnya.

Pengamat sejarah FKIP Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin Syaharuddin melihat nilai dan filosofi Pancasila sangat dibutuhkan, apalagi di tengah pandemi yang melanda setahun lebih ini.

“Karena diperlukan sikap gotong royong dalam konsep nilai budaya Banjar disebut Gawi Sabumi dan Kayuh Baimbai dan Kayuh Baimbai untuk sama-sama melawan dan mengatasi pandemi,” ujarnya.

Meski kondisi saat ini masyarakat cenderung individualis dan pragmatis, Syaharuddin mengatakan nilai-nilai Pancasila masih relevan. Kondisi ini justru menjadi tantangan untuk meyakinkan bahwa Pancasila menjadi solusi perekat dan pemersatu bangsa.

Caranya, harus dilakukan secara berkelanjutan di seluruh aspek kehidupan, khususnya aspek pendidikan, baik formal maupun informal. Namun perlu digali formulasi baru untuk mengenalkan Pancasila kepada generasi Milenial. Disini dibutuhkan peran orang tua, guru dan seluruh masyarakat untuk meyakinkan, bahwa Pancasila adalah solusinya, perspektif lain seperti agama juga penting yang notabene sudah terdapat dalam sila pertama.

Untuk mengembalikan semangat nilai Pancasila bagi generasi milenial, tambahnya, perlu digali formulasi yang lebih cair tidak kaku. Intinya Pancasila sebagai ideologi harus hadir dalam kehidupan mereka dalam berbagai bentuk.“Tidak perlu menghadirkan cara lama untuk membumikan Pancasila melalui P4 dan BP7 atau membentuk lembaga/badan pengamalan Pancasila,” ujarnya.

Ia melihat, generasi muda saat ini sebagian besar sudah melaksanakan nilai-nilai Pancasila. Misalnya membangun kerjasama dengan berkolaborasi untuk mencapai harapan-harapannya.

Indikasi itu terlihat dari menjamurnya ekonomi kreatif, baik secara offline maupun online yang lagi trend belakangan ini. Ini menandakan jiwa kewirausahaan mereka muncul. Mereka tidak lagi tergantung dengan orangtua.

Contoh lain, dalam bidang pendidikan, semangat menuntut Ilmu dan berinovasi dalam bidang teknologi informasi sudah tampak. Berbagai hasil kompetisi nasional maupun internasional baik jenjang SMA mau perguruan tinggi. Semua itu adalah gambaran implementasi nilai-nilai Pancasila, yakni nilai persatuan dan nasionalisme.

Lantas bagaimana menjadikan Pancasila sebagai nafas dan pandangan berbangsa bagi semua warga negara? Pancasila sebagai lambang negara dan ideologi bangsa, sudah seharusnya dijadikan nafas dalam berkehidupan berbangsa melalui berbagai aktivitas sosial. Misalnya menolong korban bencana, saling menghargai berbagai perbedaan. “Pancasila itu dipraktikkan, bukan sekadar diajarkan,” pintanya.

Lahir Bermula dari Kekalahan Jepang

Setiap 1 Juni merupakan peringatan Hari Lahir Pancasila di Indonesia. Pidato Presiden Soekarno pada 1 Juni 1945 dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang mengemukakan konsep awal Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

Pancasila sendiri merupakan dasar ideologi yang menyatukan pandangan hidup masyarakat di Indonesia. Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu Panca berarti lima dan Sila berarti asas atau prinsip. Lalu bagaimana sejarah lahirnya Pancasila?

Dihimpun dari portal Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI, sejarah kelahiran Pancasila bermula dari kekalahan Jepang pada perang pasifik. Mereka kemudian berusaha mendapatkan hati masyarakat dengan menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia dan membentuk sebuah lembaga yang tugasnya untuk mempersiapkan hal tersebut.

Lembaga itu dinamai Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pada sidang pertamanya tanggal 29 Mei 1945 di Gedung Chuo Sangi In (sekarang Gedung Pancasila), para anggota membahas mengenai tema dasar negara.

Sidang pun berjalan sekitar 5 hari, kemudian pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno menyampaikan ide serta gagasannya terkait dasar negara Indonesia, yang dinamai “Pancasila”. Panca artinya lima, sedangkan sila artinya prinsip atau asas.

Pada saat itu Bung Karno menyebutkan lima dasar untuk negara Indonesia, yakni Sila pertama “Kebangsaan”, sila kedua “Internasionalisme atau Perikemanusiaan”, sila ketiga “Demokrasi”, sila keempat “Keadilan sosial”, dan sila kelima “Ketuhanan yang Maha Esa”.

Untuk menyempurnakan rumusan Pancasila dan membuat Undang-Undang Dasar yang berlandaskan kelima asas tersebut, maka Dokuritsu Junbi Cosakai membentuk sebuah panitia yang disebut sebagai panitia Sembilan.

Panitia tersebut beronggotakan Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Abikoesno Tjokroseojoso, Agus Salim, Wahid Hasjim, Mohammad Yamin, Abdul Kahar Muzakir, Mr. AA Maramis, dan Achmad Soebardjo.

Setelah melalui beberapa proses persidangan, Pancasila akhirnya dapat disahkan pada Sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945. Pada sidang tersebut, disetujui bahwa Pancasila dicantumkan dalam Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara Indonesia yang sah.

Adapun Bunyi Pancasila yang berlaku hingga kini adalah, Ketuhanan Yang Maha Esa; Kemanusiaan yang Adil dan Beradab; Persatuan Indonesia; Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmat, kebijaksanaan, dalam permusyawaratan/perwakilan; Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. (ris/gmp/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/