alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Saturday, 2 July 2022

Bersabar, Beradaptasi dan Survive, Begini Suka Duka Penari di Tengah Pandemi

Tak ada yang tahu kapan pandemi berakhir. Di tengah ketidakpastian, pegiat seni di Banjarmasin berupaya bangkit. The show must go on!

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Selama pagebluk, jangankan menggelar pertunjukan, untuk latihan saja sulit.

Favehotel Banjarmasin

Kalau pun ada pertunjukan terbatas, contoh tarian pembuka pada acara pemerintah, penari harus menerapkan protokol kesehatan. Misal memakai face shield atau pelindung wajah. Terkadang harus ditambah sarung tangan plastik.

Sedikit banyak, tambahan aksesori itu mengganggu keleluasaan gerak penari. Tapi tak ada pilihan, mereka harus beradaptasi.

Seperti kemarin (30/5) sore, dalam grand final Nanang Galuh Banjarmasin 2021 di HBI.

Enam penari dari Sanggar Seni Nuansa Banjarmasin diundang tampil. Mereka membawakan tarian Pusaka Batuah.

Mereka melenggak-lenggok dengan semangat. Tentu saja, adegan penutup pengalungan cinderamata bunga rampai atau kain Sasirangan harus ditiadakan.

“Mau tak mau, suka tak suka. Kami juga dituntut tidak melakukan kontak ke tamu atau penonton,” kata Roy, salah seorang penari kepada Radar Banjarmasin.

Senada dengan penari lain, Rama. Menurutnya, pandemi adalah ujian sebenarnya. Suka duka kehidupan penari kian terasa.

Duka, karena tak lagi leluasa untuk berkumpul dan berlatih. Suka, karena masih boleh menari secara live.

“Apalagi tempat-tempat yang biasa kami pakai untuk berlatih juga masih ditutup,” tambah pemuda 21 tahun itu. Contoh, Taman Budaya Kalsel di Jalan Hasan Basri.

Penari paling senior di antara mereka berenam adalah Sali. Pemudi 27 tahun itu harus sering-sering menyabari juniornya. Karena tak mudah berlatih dengan mengenakan masker.

Lebih cepat ngos-ngosan dan panas. “Kalau face shield, begitu terkena cahaya lampu, bisa membuat silau. Terkadang pandangan bisa mengabur,” tuturnya.

Tapi Sali pernah menghadapi momen memalukan. Pernah suatu ketika, sedang menari, pelindung wajah plastiknya malah melorot dan terjatuh ke lantai.

Pembaca bisa membayangkan reaksi penonton kala itu. “Tak semua pelindung itu ukurannya pas dengan wajah kita. Jadi, saya sekarang lebih berhati-hati agar kejadian serupa tak terulang,” lanjutnya.

Namun, segala keluhan itu menjadi tak berarti, karena yang paling berat adalah sepinya order job menari. Sebagai gambaran, antara Januari sampai Mei, mereka baru tampil empat kali.

Bandingkan dengan sebelum pandemi, dalam sehari, mereka bisa tampil di tiga tempat berbeda. “Semoha pandemi cepat berlalu dan kehidupan kembali seperti sedia kala,” harapnya.

Bikin Video-Video Latihan

Salah satu pegiat seni sekaligus akademisi di Prodi Sendratasik Universitas Lambung Mangkurat, Putri Nita Permata Kumala Sari juga merasakan beratnya keadaan.

Contoh, pada awal COVID-19 melanda, saat PSBB diberlakukan, semua aktivitas harus dibatasi.

“Baik saat latihan tari atau seni pertunjukan, semuanya dituntut virtual. Mengajar pun demikian, harus daring,” ujarnya kemarin (30/5).

Tapi perlahan, ia mulai beradaptasi. Putri menuntut pegiat tari untuk kreatif. Jangan cuma mengandalkan aplikasi rapat daring.

Sekarang, ia mulai membuat video-video latihan agar penari yang dilatihnya lebih mudah mengikuti. “Tapi karena lebih ke teknik, tentu proses dan waktunya menjadi lebih panjang,” ujarnya.

“Kerugiannya, saya tak bisa memperbaiki langsung kesalahan-kesalahan para penari yang berlatih. Kondisi sekarang benar-benar membuat kita perlu berpikir lebih ekstra,” tambah Putri.

Sejak PSBB berganti PPKM, Nita turut menikmati kelonggaran. Sekarang sudah boleh berlatih secara langsung.

Sekalipun pengetatan protokol kesehatan masih menjadi gangguan. “Belum ada solusi untuk menyiasatinya. Jadi pelan-pelan saja. Intinya, terus menjaga diri dan berdoa,” tutupnya. (war/fud/ema)

Tak ada yang tahu kapan pandemi berakhir. Di tengah ketidakpastian, pegiat seni di Banjarmasin berupaya bangkit. The show must go on!

— Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Selama pagebluk, jangankan menggelar pertunjukan, untuk latihan saja sulit.

Favehotel Banjarmasin

Kalau pun ada pertunjukan terbatas, contoh tarian pembuka pada acara pemerintah, penari harus menerapkan protokol kesehatan. Misal memakai face shield atau pelindung wajah. Terkadang harus ditambah sarung tangan plastik.

Sedikit banyak, tambahan aksesori itu mengganggu keleluasaan gerak penari. Tapi tak ada pilihan, mereka harus beradaptasi.

Seperti kemarin (30/5) sore, dalam grand final Nanang Galuh Banjarmasin 2021 di HBI.

Enam penari dari Sanggar Seni Nuansa Banjarmasin diundang tampil. Mereka membawakan tarian Pusaka Batuah.

Mereka melenggak-lenggok dengan semangat. Tentu saja, adegan penutup pengalungan cinderamata bunga rampai atau kain Sasirangan harus ditiadakan.

“Mau tak mau, suka tak suka. Kami juga dituntut tidak melakukan kontak ke tamu atau penonton,” kata Roy, salah seorang penari kepada Radar Banjarmasin.

Senada dengan penari lain, Rama. Menurutnya, pandemi adalah ujian sebenarnya. Suka duka kehidupan penari kian terasa.

Duka, karena tak lagi leluasa untuk berkumpul dan berlatih. Suka, karena masih boleh menari secara live.

“Apalagi tempat-tempat yang biasa kami pakai untuk berlatih juga masih ditutup,” tambah pemuda 21 tahun itu. Contoh, Taman Budaya Kalsel di Jalan Hasan Basri.

Penari paling senior di antara mereka berenam adalah Sali. Pemudi 27 tahun itu harus sering-sering menyabari juniornya. Karena tak mudah berlatih dengan mengenakan masker.

Lebih cepat ngos-ngosan dan panas. “Kalau face shield, begitu terkena cahaya lampu, bisa membuat silau. Terkadang pandangan bisa mengabur,” tuturnya.

Tapi Sali pernah menghadapi momen memalukan. Pernah suatu ketika, sedang menari, pelindung wajah plastiknya malah melorot dan terjatuh ke lantai.

Pembaca bisa membayangkan reaksi penonton kala itu. “Tak semua pelindung itu ukurannya pas dengan wajah kita. Jadi, saya sekarang lebih berhati-hati agar kejadian serupa tak terulang,” lanjutnya.

Namun, segala keluhan itu menjadi tak berarti, karena yang paling berat adalah sepinya order job menari. Sebagai gambaran, antara Januari sampai Mei, mereka baru tampil empat kali.

Bandingkan dengan sebelum pandemi, dalam sehari, mereka bisa tampil di tiga tempat berbeda. “Semoha pandemi cepat berlalu dan kehidupan kembali seperti sedia kala,” harapnya.

Bikin Video-Video Latihan

Salah satu pegiat seni sekaligus akademisi di Prodi Sendratasik Universitas Lambung Mangkurat, Putri Nita Permata Kumala Sari juga merasakan beratnya keadaan.

Contoh, pada awal COVID-19 melanda, saat PSBB diberlakukan, semua aktivitas harus dibatasi.

“Baik saat latihan tari atau seni pertunjukan, semuanya dituntut virtual. Mengajar pun demikian, harus daring,” ujarnya kemarin (30/5).

Tapi perlahan, ia mulai beradaptasi. Putri menuntut pegiat tari untuk kreatif. Jangan cuma mengandalkan aplikasi rapat daring.

Sekarang, ia mulai membuat video-video latihan agar penari yang dilatihnya lebih mudah mengikuti. “Tapi karena lebih ke teknik, tentu proses dan waktunya menjadi lebih panjang,” ujarnya.

“Kerugiannya, saya tak bisa memperbaiki langsung kesalahan-kesalahan para penari yang berlatih. Kondisi sekarang benar-benar membuat kita perlu berpikir lebih ekstra,” tambah Putri.

Sejak PSBB berganti PPKM, Nita turut menikmati kelonggaran. Sekarang sudah boleh berlatih secara langsung.

Sekalipun pengetatan protokol kesehatan masih menjadi gangguan. “Belum ada solusi untuk menyiasatinya. Jadi pelan-pelan saja. Intinya, terus menjaga diri dan berdoa,” tutupnya. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/