alexametrics
29.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Banjir Masih Mengintai Banua, Tata Ruang Jangan Sampai Jadi Tata Uang

BANJARBARU – Tahun ini banjir benar-benar memorakporandakan sejumlah wilayah di Kalsel. Bencana ini sendiri berpeluang kembali terjadi, karena BMKG Stasiun Klimatologi Banjarbaru memprakirakan hujan deras masih berpotensi turun hingga Juni 2021 nanti.

Staf Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Banjarbaru, Khairullah mengatakan, daerah yang masih berpotensi diguyur hujan ialah wilayah bagian timur Kalsel. Seperti Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru.

“Apalagi di dalam prakiraan, pada Juni nanti Kalsel bagian timur memasuki puncak musim hujan,” katanya kepada Radar Banjarmasin.

Favehotel Banjarmasin

Untuk saat ini, dia mengungkapkan, secara umum wilayah Kalsel sedang berada pada musim transisi atau peralihan dari musim hujan ke kemarau. “Adapun yang sudah masuk musim kemarau baru sebagian kecil di bagian Barat Kalsel. Seperti, sebagian Batola, Banjar dan Tapin,” ungkapnya.

Berdasarkan prakiraan BMKG, Khairullah menyebut, secara umum Kalsel kemungkinan baru memasuki musim kemarau pada pertengahan Mei atau awal Agustus. “Umumnya musim hujan pada pertengahan akhir Juni 2021,” sebutnya.

Sementara itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel menilai seribu sungai tidak lagi mampu menampung air, hingga akhirnya ketika hujan deras turun banjir langsung terjadi di mana-mana.

“Seribu sungai tak lagi mampu menampung air. Air tidak bisa pulang ke rumahnya karena ada sawit, mengungsi ke laut pun juga tidak mampu lagi,” beber Direktur Walhi Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono.

Menurutnya, Banua saat ini dalam kondisi darurat lingkungan dan ruang akibat maraknya perambahan hutan. Karena, program pemerintah untuk memulihkan kondisi hutan belum membuahkan hasil. “Perhutanan sosial misalnya, tolong dorong pengakuan hutan adatnya. Masyarakat adat di Kalsel ada lebih dulu daripada negara ini,” ujarnya.

Sedangkan soal pertanian Kisworo meminta pemerintah mematangkan perencanaan saat pembahasan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). “Dalam pembuatan RTRW, mana untuk pertaniannya, jangan sampai rencana tata ruang huruf ‘R’ nya hilang, menjadi rencana tata uang,” singgungnya. (ris/ran/ema)

BANJARBARU – Tahun ini banjir benar-benar memorakporandakan sejumlah wilayah di Kalsel. Bencana ini sendiri berpeluang kembali terjadi, karena BMKG Stasiun Klimatologi Banjarbaru memprakirakan hujan deras masih berpotensi turun hingga Juni 2021 nanti.

Staf Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Banjarbaru, Khairullah mengatakan, daerah yang masih berpotensi diguyur hujan ialah wilayah bagian timur Kalsel. Seperti Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru.

“Apalagi di dalam prakiraan, pada Juni nanti Kalsel bagian timur memasuki puncak musim hujan,” katanya kepada Radar Banjarmasin.

Favehotel Banjarmasin

Untuk saat ini, dia mengungkapkan, secara umum wilayah Kalsel sedang berada pada musim transisi atau peralihan dari musim hujan ke kemarau. “Adapun yang sudah masuk musim kemarau baru sebagian kecil di bagian Barat Kalsel. Seperti, sebagian Batola, Banjar dan Tapin,” ungkapnya.

Berdasarkan prakiraan BMKG, Khairullah menyebut, secara umum Kalsel kemungkinan baru memasuki musim kemarau pada pertengahan Mei atau awal Agustus. “Umumnya musim hujan pada pertengahan akhir Juni 2021,” sebutnya.

Sementara itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalsel menilai seribu sungai tidak lagi mampu menampung air, hingga akhirnya ketika hujan deras turun banjir langsung terjadi di mana-mana.

“Seribu sungai tak lagi mampu menampung air. Air tidak bisa pulang ke rumahnya karena ada sawit, mengungsi ke laut pun juga tidak mampu lagi,” beber Direktur Walhi Kalsel, Kisworo Dwi Cahyono.

Menurutnya, Banua saat ini dalam kondisi darurat lingkungan dan ruang akibat maraknya perambahan hutan. Karena, program pemerintah untuk memulihkan kondisi hutan belum membuahkan hasil. “Perhutanan sosial misalnya, tolong dorong pengakuan hutan adatnya. Masyarakat adat di Kalsel ada lebih dulu daripada negara ini,” ujarnya.

Sedangkan soal pertanian Kisworo meminta pemerintah mematangkan perencanaan saat pembahasan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). “Dalam pembuatan RTRW, mana untuk pertaniannya, jangan sampai rencana tata ruang huruf ‘R’ nya hilang, menjadi rencana tata uang,” singgungnya. (ris/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/