alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Sunday, 26 June 2022

Kasus Covid-19 Diprediksi Melonjak Pasca Lebaran, Tak Terbukti

BANJARMASIN – Prediksi kasus Covid-19 bakal melonjak pasca Lebaran tidak terbukti. Kasus -kasus di rumah sakit semakin hari semakin menurun.

Pasein Covid-19 yang tengah dirawat di RSUD Ulin misalnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan malam Lebaran yang sebanyak 54 pasien. “Alhamdulillah jumlah pasien tak melonjak. Kebijakan pemerintah sangat tepat untuk meniadakan mudik Lebaran lalu,” ujar Direktur RSUD Ulin, Suciati kemarin.

Diterangkannya, meski tak mengharapkan lonjakan pasien, pihaknya sudah menyiapkan ruangan dan tempat tidur pasien Covid-19. “Ruang Anggrek yang memilik empat lantai sudah disiagakan. Alhamdulillah tak terjadi lonjakan,” ucapnya.

Favehotel Banjarmasin

Selain menyiagakan Ruang Anggrek, pihaknya juga sudah menyiapkan dua Gedung Mawar yang sebelumnya juga untuk memfasilitasi pasien Covid-19. “Kalau di Gedung Anggrek sekitar 75 tempat tidur masih bisa. Insya Allah masih bisa menampung jika pasien melonjak,” tutur Suci.

Sementara itu, sepanjang Mei 2021, jumlah pasien Covid-19 di RSD Idaman Banjarbaru mulai turun. Beda dengan dua bulan sebelumnya, sekarang pihak rumah sakit tidak lagi dibuat kelimpungan lantaran banyaknya pasien yang harus ditangani.

Kemarin (24/5) misalnya, dari 44 tempat tidur khusus pasien Covid-19 yang tersedia di RSD Idaman Banjarbaru, hanya 33 yang terisi. “33 pasien ini cuma 21 yang terkonfirmasi positif Covid-19. Sisanya probable dan suspek,” kata Kabid Pelayanan RSD Idaman dr Ani Rusmila kepada Radar Banjarmasin.

Dia mengungkapkan, jika ditotal jumlah pasien Covid-19 yang mereka tangani selama Mei mengalami penurunan dibandingkan empat bulan sebelumnya. “Bulan ini (Mei) total pasien yang kami tangani baru 84. April tadi mencapai 174, sementara Maret ada 188, Februari 126 dan Januari 135,” ungkapnya.

Untuk menyembuhkan pasien, Ani menuturkan, ada beberapa cara yang mereka lakukan. Di samping berpedoman dengan tatalaksana pengobatan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan dan Satgas Penanganan Covid-19.

Cara-cara yang mereka terapkan yakni dengan memenuhi kebutuhan rohani dan memperkuat iman para pasien. “Untuk mendukung itu, kami menyediakan Alquran di masing-masing kamar pasien,” beber Ani.

Selain itu, dia menyampaikan, pihaknya juga melakukan penguatan terhadap psikologis pasien. Dengan cara, menyediakan psikolog. “Pasien rutin dikunjungi psikolog untuk penguatan psikologis,” ucapnya.

Terkait obat yang diberikan ke pasien Covid-19, Ani menuturkan, pihaknya berpedoman dengan tatalaksana pengobatan sesuai anjuran Kementerian Kesehatan dan Satgas Covid-19 Nasional.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Banjarbaru Rizana Mirza membenarkan dalam beberapa pekan terakhir kasus Covid-19 di Banjarbaru mengalami penurunan. “Hari ini (kemarin), penambahan kasus yang dilaporkan cuma ada tiga,” bebernya.

Namun, dia menyampaikan, meski kasus turun pihaknya masih harus waspada mengantisipasi adanya peningkatan pasca liburan Lebaran.

“Kalau berdasarkan pengalaman selama ini di Banjarbaru, sekitar tiga sampai empat minggu baru kelihatan apabila ada peningkatan kasus pasca libur. Semoga saja tidak terjadi,” pungkasnya.

Pakar Covid-19 Universitas Lambung Mangkurat, Hidayatullah Muttaqin mengingatkan, meski terdata pasien Covid-19 tak melonjak tinggi, warga tetap harus waspada kasus akan meledak. Dia mengatakan, satu Minggu setelah lebaran (14-20 Mei), jumlah penduduk Kalsel yang dikonfirmasi positif Covid-19 bertambah sebanyak 260 kasus.

Pertambahan kasus ini memang lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah kasus konfirmasi selama seminggu sebelum lebaran, yaitu sebanyak 531 kasus. “Kasus konfirmasi mulai mengalami “rebound” ketika hari libur lebaran sudah berakhir. Seminggu sejak memasuki hari kerja dari 17 hingga 23 Mei, jumlah penduduk yang dicatat terinfeksi Covid-19 bertambah sebanyak 359 kasus,” terangnya.

Meskipun terjadi penurunan kasus konfirmasi, pada periode yang sama, namun jumlah kematian justru mengalami peningkatan. Pada periode satu minggu hingga sebelum hari lebaran, ada 15 penduduk yang meninggal karena Covid-19. Sementara satu minggu setelah hari lebaran (13 Mei), jumlah penduduk yang meninggal bertambah sebanyak 21 orang.

Dia menyebut, penurunan kasus konfirmasi sepanjang bulan Ramadan hingga masa libur Lebaran salah satunya didorong oleh melemahnya testing. Angka tingkat positivitas hasil testing juga masih tinggi, yaitu sebanyak lebih dari 4 kali lipat standar WHO.

Berdasarkan kajian atas data testing baik menurut spesimen dan jumlah orang yang dites, penurunan kasus konfirmasi di Indonesia, erat kaitannya dengan penurunan jumlah penduduk yang menjalani tes PCR. “Bukan karena menurunnya laju penularan karena pemerintah menerapkan strategi pelonggaran ekonomi dan kegiatan masyarakat,” imbuhnya.

Berkaca pada pengalaman tahun 2020 dan indikator perkembangan kasus dalam dua bulan terakhir serta data mobilitas penduduk, maka pemerintah daerah perlu menyiapkan rumah sakit rujukan akan kemungkinan peningkatan kebutuhan masyarakat untuk perawatan Covid-19.

Jika penanganannya terlambat sebutnya, dapat menyebabkan semakin besarnya jumlah korban kematian Covid-19. Meskipun pada saat ini indikator BOR atau tingkat keterisian di rumah sakit Kalsel masih relatif aman. “Pada dasarnya kita harus menyalakan lampu kuning. Karena dampak liburan panjang lebaran dapat terjadi dalam waktu 2 bulan. Testing wajib dilipatgandakan,” tandasnya. (ris/mof/ran/ema)

BANJARMASIN – Prediksi kasus Covid-19 bakal melonjak pasca Lebaran tidak terbukti. Kasus -kasus di rumah sakit semakin hari semakin menurun.

Pasein Covid-19 yang tengah dirawat di RSUD Ulin misalnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan malam Lebaran yang sebanyak 54 pasien. “Alhamdulillah jumlah pasien tak melonjak. Kebijakan pemerintah sangat tepat untuk meniadakan mudik Lebaran lalu,” ujar Direktur RSUD Ulin, Suciati kemarin.

Diterangkannya, meski tak mengharapkan lonjakan pasien, pihaknya sudah menyiapkan ruangan dan tempat tidur pasien Covid-19. “Ruang Anggrek yang memilik empat lantai sudah disiagakan. Alhamdulillah tak terjadi lonjakan,” ucapnya.

Favehotel Banjarmasin

Selain menyiagakan Ruang Anggrek, pihaknya juga sudah menyiapkan dua Gedung Mawar yang sebelumnya juga untuk memfasilitasi pasien Covid-19. “Kalau di Gedung Anggrek sekitar 75 tempat tidur masih bisa. Insya Allah masih bisa menampung jika pasien melonjak,” tutur Suci.

Sementara itu, sepanjang Mei 2021, jumlah pasien Covid-19 di RSD Idaman Banjarbaru mulai turun. Beda dengan dua bulan sebelumnya, sekarang pihak rumah sakit tidak lagi dibuat kelimpungan lantaran banyaknya pasien yang harus ditangani.

Kemarin (24/5) misalnya, dari 44 tempat tidur khusus pasien Covid-19 yang tersedia di RSD Idaman Banjarbaru, hanya 33 yang terisi. “33 pasien ini cuma 21 yang terkonfirmasi positif Covid-19. Sisanya probable dan suspek,” kata Kabid Pelayanan RSD Idaman dr Ani Rusmila kepada Radar Banjarmasin.

Dia mengungkapkan, jika ditotal jumlah pasien Covid-19 yang mereka tangani selama Mei mengalami penurunan dibandingkan empat bulan sebelumnya. “Bulan ini (Mei) total pasien yang kami tangani baru 84. April tadi mencapai 174, sementara Maret ada 188, Februari 126 dan Januari 135,” ungkapnya.

Untuk menyembuhkan pasien, Ani menuturkan, ada beberapa cara yang mereka lakukan. Di samping berpedoman dengan tatalaksana pengobatan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan dan Satgas Penanganan Covid-19.

Cara-cara yang mereka terapkan yakni dengan memenuhi kebutuhan rohani dan memperkuat iman para pasien. “Untuk mendukung itu, kami menyediakan Alquran di masing-masing kamar pasien,” beber Ani.

Selain itu, dia menyampaikan, pihaknya juga melakukan penguatan terhadap psikologis pasien. Dengan cara, menyediakan psikolog. “Pasien rutin dikunjungi psikolog untuk penguatan psikologis,” ucapnya.

Terkait obat yang diberikan ke pasien Covid-19, Ani menuturkan, pihaknya berpedoman dengan tatalaksana pengobatan sesuai anjuran Kementerian Kesehatan dan Satgas Covid-19 Nasional.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Banjarbaru Rizana Mirza membenarkan dalam beberapa pekan terakhir kasus Covid-19 di Banjarbaru mengalami penurunan. “Hari ini (kemarin), penambahan kasus yang dilaporkan cuma ada tiga,” bebernya.

Namun, dia menyampaikan, meski kasus turun pihaknya masih harus waspada mengantisipasi adanya peningkatan pasca liburan Lebaran.

“Kalau berdasarkan pengalaman selama ini di Banjarbaru, sekitar tiga sampai empat minggu baru kelihatan apabila ada peningkatan kasus pasca libur. Semoga saja tidak terjadi,” pungkasnya.

Pakar Covid-19 Universitas Lambung Mangkurat, Hidayatullah Muttaqin mengingatkan, meski terdata pasien Covid-19 tak melonjak tinggi, warga tetap harus waspada kasus akan meledak. Dia mengatakan, satu Minggu setelah lebaran (14-20 Mei), jumlah penduduk Kalsel yang dikonfirmasi positif Covid-19 bertambah sebanyak 260 kasus.

Pertambahan kasus ini memang lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah kasus konfirmasi selama seminggu sebelum lebaran, yaitu sebanyak 531 kasus. “Kasus konfirmasi mulai mengalami “rebound” ketika hari libur lebaran sudah berakhir. Seminggu sejak memasuki hari kerja dari 17 hingga 23 Mei, jumlah penduduk yang dicatat terinfeksi Covid-19 bertambah sebanyak 359 kasus,” terangnya.

Meskipun terjadi penurunan kasus konfirmasi, pada periode yang sama, namun jumlah kematian justru mengalami peningkatan. Pada periode satu minggu hingga sebelum hari lebaran, ada 15 penduduk yang meninggal karena Covid-19. Sementara satu minggu setelah hari lebaran (13 Mei), jumlah penduduk yang meninggal bertambah sebanyak 21 orang.

Dia menyebut, penurunan kasus konfirmasi sepanjang bulan Ramadan hingga masa libur Lebaran salah satunya didorong oleh melemahnya testing. Angka tingkat positivitas hasil testing juga masih tinggi, yaitu sebanyak lebih dari 4 kali lipat standar WHO.

Berdasarkan kajian atas data testing baik menurut spesimen dan jumlah orang yang dites, penurunan kasus konfirmasi di Indonesia, erat kaitannya dengan penurunan jumlah penduduk yang menjalani tes PCR. “Bukan karena menurunnya laju penularan karena pemerintah menerapkan strategi pelonggaran ekonomi dan kegiatan masyarakat,” imbuhnya.

Berkaca pada pengalaman tahun 2020 dan indikator perkembangan kasus dalam dua bulan terakhir serta data mobilitas penduduk, maka pemerintah daerah perlu menyiapkan rumah sakit rujukan akan kemungkinan peningkatan kebutuhan masyarakat untuk perawatan Covid-19.

Jika penanganannya terlambat sebutnya, dapat menyebabkan semakin besarnya jumlah korban kematian Covid-19. Meskipun pada saat ini indikator BOR atau tingkat keterisian di rumah sakit Kalsel masih relatif aman. “Pada dasarnya kita harus menyalakan lampu kuning. Karena dampak liburan panjang lebaran dapat terjadi dalam waktu 2 bulan. Testing wajib dilipatgandakan,” tandasnya. (ris/mof/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/