alexametrics
27.1 C
Banjarmasin
Saturday, 25 June 2022

Dinkes Setop Vaksin AstraZeneca, BPOM Rekom Menghentikan karena Temuan Kasus Kematian

Sebanyak 120 vial vaksin AstraZeneca Batch CTMAV547 yang ada di Dinas Kesehatan Kalsel, batal didistribusi dan disuntikkan ke penerima vaksin. Padahal vaksin ini baru tiba dari Kemenkes sebelum Lebaran tadi.

—-

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, M Muslim menyebut, adanya kebijakan dari pemerintah pusat yang menunda distribusi, membuat pihaknya tak berani pula menyalurkan ke kabuapten dan kota di Kalsel. “Belum kami distribusikan. Masih ada vaksinnya di tempat penyimpanan,” kata Muslim.

Favehotel Banjarmasin

Dia mengungkapkan, vaksin AstraZeneca memang sebelumnya pernah diterima. Namun beda dengan Batch CTMAV547 ini. Dan itu pun sudah didistribusikan semua. “Yang disetop distribusi hanya Batch CTMAV547, kalau AstraZeneca lain tak ada persoalan,” ujarnya sembari menerangkan vaksin AstraZeneca sebelumnya yang pihaknya terima lebih sedikit, yakni hanya 100 vial.

Seperti diketahui, Kemenkes menghentikan distribusi setelah adanya rekomendasi dari BPOM yang saat ini sedang melakukan pengujian atas vaksin tersebut. Penghentian distribusi dilatari adanya temuan kasus kematian pasca vaksin yang diduga karena dampak vaksin AstraZeneca Batch CTMAV547. “Kami hanya menunggu. Saat ini disimpan saja dulu, kalau sudah ada pentunjuk kembali dari Kemenkes, akan kami distribusikan langsung,” katanya.

Muslim menerangkan, dari 300 ribu lebih vaksin yang didistribusikan ke Kalsel, vaksin jenis Sinovac yang lebih banyak. “AstraZeneca ini memang tak banyak. Yang pertama lalu hanya 100, yang kedua AstraZeneca Batch CTMAV547 jumlahnya 120 vial, bahkan belum dipakai,” sebut Muslim.

Jika Batch CTMAV547 ditunda distribusi dan vaksinasinya, AstraZeneca sebelumnya tambah Muslim sudah dipakai dan tak ada dampak dari vaksinasi tersebut. Di Kalsel, Vaksin AstraZeneca ini sendiri diberikan kepada anggota TNI dan Polri. Namun untuk AstraZeneca Batch CTMAV547 Muslim belum mendapat petunjuk kepada siapa diberikan. “Semua penerima datanya ada di pusat, berbeda tiap daerah,” imbuhnya.

Muslim menegaskan, jika seseorang sudah mendapat vaksin pertama, misalkan jenis Sinovac, maka penyuntikan kedua tetap divaksin dengan Sinovac. “Tidak akan dicampur dengan vaksin lain. Atau vaksin yang sama di vaksin kedua,” ujarnya.

Di sisi lain, Muslim mengungkapkan target vaksinasi di Kalsel sudah berjalan cukup baik. Persentasenya hingga 11 Mei lalu mecapai 82 persen. “Memang ada beberapa kendala, ada yang tertunda karena terpapar Covid-19, hingga banyaknya jumlah sasaran yang akan divaksin,” terangnya.

Dia mencontohkan seperti di Banjarmasin, sasaran vaksinasi cukup tinggi. Jumlah vakisn yang didistribusikan sebanyak 120 ribu lebih. Sementara baru tercapai 78 persen. “Jumlah sasaran cukup banyak. Perlu waktu juga,” tukasnya.

Berbeda di Kabupaten Balangan, capaiannnya sebanyak 82 persen, dari jumlah vaksin yang didistribusikan sebanyak 11 ribu dosis vaksin. “Jumlah sasaran di sana kecil, sesuai jumlah penduduk,” tandasnya. (mof/ran/ema)

Sebanyak 120 vial vaksin AstraZeneca Batch CTMAV547 yang ada di Dinas Kesehatan Kalsel, batal didistribusi dan disuntikkan ke penerima vaksin. Padahal vaksin ini baru tiba dari Kemenkes sebelum Lebaran tadi.

—-

Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, M Muslim menyebut, adanya kebijakan dari pemerintah pusat yang menunda distribusi, membuat pihaknya tak berani pula menyalurkan ke kabuapten dan kota di Kalsel. “Belum kami distribusikan. Masih ada vaksinnya di tempat penyimpanan,” kata Muslim.

Favehotel Banjarmasin

Dia mengungkapkan, vaksin AstraZeneca memang sebelumnya pernah diterima. Namun beda dengan Batch CTMAV547 ini. Dan itu pun sudah didistribusikan semua. “Yang disetop distribusi hanya Batch CTMAV547, kalau AstraZeneca lain tak ada persoalan,” ujarnya sembari menerangkan vaksin AstraZeneca sebelumnya yang pihaknya terima lebih sedikit, yakni hanya 100 vial.

Seperti diketahui, Kemenkes menghentikan distribusi setelah adanya rekomendasi dari BPOM yang saat ini sedang melakukan pengujian atas vaksin tersebut. Penghentian distribusi dilatari adanya temuan kasus kematian pasca vaksin yang diduga karena dampak vaksin AstraZeneca Batch CTMAV547. “Kami hanya menunggu. Saat ini disimpan saja dulu, kalau sudah ada pentunjuk kembali dari Kemenkes, akan kami distribusikan langsung,” katanya.

Muslim menerangkan, dari 300 ribu lebih vaksin yang didistribusikan ke Kalsel, vaksin jenis Sinovac yang lebih banyak. “AstraZeneca ini memang tak banyak. Yang pertama lalu hanya 100, yang kedua AstraZeneca Batch CTMAV547 jumlahnya 120 vial, bahkan belum dipakai,” sebut Muslim.

Jika Batch CTMAV547 ditunda distribusi dan vaksinasinya, AstraZeneca sebelumnya tambah Muslim sudah dipakai dan tak ada dampak dari vaksinasi tersebut. Di Kalsel, Vaksin AstraZeneca ini sendiri diberikan kepada anggota TNI dan Polri. Namun untuk AstraZeneca Batch CTMAV547 Muslim belum mendapat petunjuk kepada siapa diberikan. “Semua penerima datanya ada di pusat, berbeda tiap daerah,” imbuhnya.

Muslim menegaskan, jika seseorang sudah mendapat vaksin pertama, misalkan jenis Sinovac, maka penyuntikan kedua tetap divaksin dengan Sinovac. “Tidak akan dicampur dengan vaksin lain. Atau vaksin yang sama di vaksin kedua,” ujarnya.

Di sisi lain, Muslim mengungkapkan target vaksinasi di Kalsel sudah berjalan cukup baik. Persentasenya hingga 11 Mei lalu mecapai 82 persen. “Memang ada beberapa kendala, ada yang tertunda karena terpapar Covid-19, hingga banyaknya jumlah sasaran yang akan divaksin,” terangnya.

Dia mencontohkan seperti di Banjarmasin, sasaran vaksinasi cukup tinggi. Jumlah vakisn yang didistribusikan sebanyak 120 ribu lebih. Sementara baru tercapai 78 persen. “Jumlah sasaran cukup banyak. Perlu waktu juga,” tukasnya.

Berbeda di Kabupaten Balangan, capaiannnya sebanyak 82 persen, dari jumlah vaksin yang didistribusikan sebanyak 11 ribu dosis vaksin. “Jumlah sasaran di sana kecil, sesuai jumlah penduduk,” tandasnya. (mof/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/