alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Sunday, 3 July 2022

Asyiknya Berburu Wadai Ramadan

Berburu takjil menjadi aktivitas seru di Bulan Ramadan. Meski tak seramai biasanya lantaran pandemi Covid-19, maskayarakat Kota Banjarmasin masih bisa mencari kudapan lezat khas ramadan di berbagai sudut jalan.

Di Jalan Pandu, Km 3 Banjarmasin misalnya. Dagangan khas ramadan buka sejak pukul 15.00-19.00 wita. Aneka kudapan lezat tersedia.

Kawasan ini memang menjadi spot langganan pasar ramadan setiap tahunnya. Namun, sejak pandemi, hanya ada beberapa pedagang yang melapak di sini. Salah satunya lapak milik ibu Gusti Halimatus (55).

Favehotel Banjarmasin

Ia menjual beraneka ragam takjil khas bulan puasa. Sebut saja seperti bingka kentang, bingka tapai, bingka berandam, sari muka, lapis india, sarikaya, kueh lam, hula-hula, kararaban dan banyak lagi.

Aneka kue-kue basah ini merupakan signature dish andalan warga Kalimantan Selatan. Rasanya manis legit, sesuai dengan lidah orang Banjar.

Variannya yang beraga, bikin kue-kue ini tampak memikiat saat diipajang di etalase. “Ini sajian khas di bulan puasa,” ujar Halimatus.

Menurutnya, amparan tatak masih menjadi primadona di kalangan pecinta kue kukus khas ramadan. Rasa manis dari potongan pisang talas matang, dan adonan tepung bersantan, menjadikan perpaduan yang mantap saat dikonsumsi.

“Amparan tatak ini khas Banjar sekali, sehingga banyak diburu oleh penyuka kue-kue basah, terlebih orang-orang paruh baya dan lanjut usia,” ujarnya.

Takjil ini juga menjadi buruan para anak muda. Menurut Halimatus, selera mereka lebih ke aneka puding-pudingan dan bingka. Keduanya sama-sama manis dan nikmat dikonsumsi saat berbuka puasa.

“Kalau anak muda seleranya ke puding dan bingka,” ujarnya.

Harga jual kue-kue basah ini terbilang murah. Halimatus enggan memasang harga tinggi, apalagi di masa sulit seperti sekarang ini. Kue-kue basahnya dibanderol dari Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per irisan. “Sedangkan bingka berandam cuma Rp3 ribu saja per biji,” tutupnya.

Pedagang lainnya, Mariani (40) pun berdagang jualan serupa, dengan varian yang sama pula. Menurutnya, bingka pacah di ilat selalu jadi primadona dari beberapa jenis kue.

“Sesuai namanya, bingka ini lembut sekali. Rasanya yang manis legit pastinya nikmat sekali dimakan saat berbuka puasa,” tuntasnya. (tia/bin/ema)

Berburu takjil menjadi aktivitas seru di Bulan Ramadan. Meski tak seramai biasanya lantaran pandemi Covid-19, maskayarakat Kota Banjarmasin masih bisa mencari kudapan lezat khas ramadan di berbagai sudut jalan.

Di Jalan Pandu, Km 3 Banjarmasin misalnya. Dagangan khas ramadan buka sejak pukul 15.00-19.00 wita. Aneka kudapan lezat tersedia.

Kawasan ini memang menjadi spot langganan pasar ramadan setiap tahunnya. Namun, sejak pandemi, hanya ada beberapa pedagang yang melapak di sini. Salah satunya lapak milik ibu Gusti Halimatus (55).

Favehotel Banjarmasin

Ia menjual beraneka ragam takjil khas bulan puasa. Sebut saja seperti bingka kentang, bingka tapai, bingka berandam, sari muka, lapis india, sarikaya, kueh lam, hula-hula, kararaban dan banyak lagi.

Aneka kue-kue basah ini merupakan signature dish andalan warga Kalimantan Selatan. Rasanya manis legit, sesuai dengan lidah orang Banjar.

Variannya yang beraga, bikin kue-kue ini tampak memikiat saat diipajang di etalase. “Ini sajian khas di bulan puasa,” ujar Halimatus.

Menurutnya, amparan tatak masih menjadi primadona di kalangan pecinta kue kukus khas ramadan. Rasa manis dari potongan pisang talas matang, dan adonan tepung bersantan, menjadikan perpaduan yang mantap saat dikonsumsi.

“Amparan tatak ini khas Banjar sekali, sehingga banyak diburu oleh penyuka kue-kue basah, terlebih orang-orang paruh baya dan lanjut usia,” ujarnya.

Takjil ini juga menjadi buruan para anak muda. Menurut Halimatus, selera mereka lebih ke aneka puding-pudingan dan bingka. Keduanya sama-sama manis dan nikmat dikonsumsi saat berbuka puasa.

“Kalau anak muda seleranya ke puding dan bingka,” ujarnya.

Harga jual kue-kue basah ini terbilang murah. Halimatus enggan memasang harga tinggi, apalagi di masa sulit seperti sekarang ini. Kue-kue basahnya dibanderol dari Rp15 ribu hingga Rp20 ribu per irisan. “Sedangkan bingka berandam cuma Rp3 ribu saja per biji,” tutupnya.

Pedagang lainnya, Mariani (40) pun berdagang jualan serupa, dengan varian yang sama pula. Menurutnya, bingka pacah di ilat selalu jadi primadona dari beberapa jenis kue.

“Sesuai namanya, bingka ini lembut sekali. Rasanya yang manis legit pastinya nikmat sekali dimakan saat berbuka puasa,” tuntasnya. (tia/bin/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/