alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Merdeka Belajar di Era Revolusi Industri 4.0

Apa yang anda rasakan pada kehidupan kita saat ini? Samakah seperti kehidupan kita di sepuluh tahun yang lalu atau dua puluh tahun yang lalu? Tentu jawabnya tidak bukan, kenapa? Karena saat ini kita merasa hidup serba mudah dan praktis. Ketika ingin belanja makanan misalnya, kita langsung mengambil gawai dan memilih sesuai dengan yang diinginkan, makanan pun segera datang tanpa harus keluar rumah. Atau ada keluarga yang minta transfer uang, tanpa perlu ke bank lagi, langsung dapat melakukan transaksi lewat hape. Tanpa disadari, kita sudah berada di era revolusi industri 4.0.

========================
Oleh: Radiyah Wati, S.Pd
SDN Lepasan 2 Kec. Bakumpai
========================

Apakah revolusi industri 4.0? Prof Klaus Martin Schwab, teknisi dan ekonom Jerman, yang juga pendiri dan Executive Chairman World Economic Forum, adalah orang yang pertama memperkenalkan nama itu. Dalam bukunya, The Fourth Industrial Revolution(2017), ia menyebutkan bahwa saat ini kita berada pada awal sebuah revolusi yang secara mendasar mengubah cara hidup, bekerja dan berhubungan satu sama lain. Perubahan itu sangat dramatis dan terjadi pada kecepatan eksponensia. Dengan kata lain, revolusi industri 4.0 adalah nama tren dari sistem otomatisasi industri, dimana terdapat pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistim siber fisik, internet untuk segala aktifitas, komputasi kognitif dan aktifitas lain berbasis jaringan.

Favehotel Banjarmasin

Revolusi industri 4.0 sering pula disebut revolusi industri generasi keempat yang ditandai dengan kemunculan super komputer, robot pintar, kendaraan tanpa awak, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia dapat mengoptimalkan fungsi otak

Hal ini  turut mengubah perkembangan sistem pendidikan yang ada di dunia dan di Indonesia. Sistem pendidikan adalah strategi atau metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya.

Peningkatan sumber daya manusia (SDM) merupakan hal yang penting dalam menghadapi era revolusi industri 4.0. Untuk memiliki SDM yang berkualitas, diperlukan pendidikan sebagai bekal agar SDM tersebut mampu bersaing dengan optimal. Selain itu, pendidikan seseorang juga berpengaruh untuk memperoleh pekerjaan di berbagai bidang, baik tingkat nasional maupun global, sehingga bisa mengubah hidup menjadi lebih baik dan setara dengan negara lain. Intinya pada era revolusi 4.0 kita sebagai pendidik harus mampu mengembangkan life skills peserta didik kita secara maksimal.

Langkah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim melalui perombakan kurikulum dan tata kelola organisasi dalam sistem pendidikan di Indonesia menjadi lebih fleksibel dinilai sudah tepat untuk menghadapi era Revolusi Industri 4.0. Dampaknya terhadap pendidikan di Indonesia pada era modern ini, informasi dan teknologi memengaruhi aktivitas sekolah dengan sangat masif. Informasi dan pengetahuan baru menyebar dengan mudah dan aksesibel bagi siapa saja yang membutuhkannya.

Pendidikan mengalami disrupsi yang sangat hebat sekali. Peran guru yang selama ini sebagai satu-satunya penyedia ilmu pengetahuan sedikit banyak bergeser menjauh darinya. Di masa mendatang, peran dan kehadiran guru di ruang kelas akan semakin menantang dan membutuhkan kreativitas yang sangat tinggi.

Seiring dengan perkembangan zaman ini pula, tidak salah kalau Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan kebijakan tentang Merdeka Belajar. Dengan adanya kebijakan itu akan memberikan kemerdekaan setiap unit pendidikan untuk melakukan inovasi. Dalam proses ini Mendikbud mengatakan bahwa konsep harus menyesuaikan kondisi, dimana proses belajar mengajar berjalan,baik sisi budaya,kearifan lokal, sosio-ekonomi maupun infrastruktur.

Esensi Merdeka Belajar adalah menggali potensi terbesar para guru-guru sekolah dan murid kita untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara mandiri. Mandiri bukan hanya mengikuti proses birokrasi pendidikan, tetapi benar-benar inovasi pendidikan.

Beberapa hal yang dapat mendukung Merdeka Belajar di Era Revolusi Industri 4.0. Pertama, penerapan kompetensi siswa Abad 21, yaitu cCritical thinking and problem solving (berpikir kritis dan menyelesaikan masalah), creativity (kreativitas), communication skills (kemampuan berkomunikasi), dan ability to work collaboratively (kemampuan untuk bekerja sama).

Kedua, penerapan literasi digital (kesadaran data (data awareness), kemampuan analisis data, dan kemampuan untuk fokus (deep work). Ketiga, pembuatan konten media pembelajaran (guru dapat menuangkan ide kreatif untuk mengembangkan teknologi digital yang diadaptasi untuk pembelajaran dan edukasi), dan keempat, pembuatan media evaluasi berbasis digital (Kahoot, Quizizz, Mentimeter).
Menghadapi era Revolusi Industri 4.0 di bidang pendidikan, motivasi saja tidak cukup dalam mewujudkan cita cita Making Indonesia 4.0, melainkan harus ada wujud konkret dan usaha yang keras dari pemerintah dan kita semua dalam menyongsong era digitalisasi. Tantangan pasti akan dihadapi dalam setiap transisi inovasi dan teknologi. Kita harus berani dan siap, jika tidak maka akan tenggelam oleh era disrupsi ini.

Namun kita juga menyadari bahwa peran guru tidak dapat digantikan oleh mesin, komputer ataupun robot. Peran guru yang tidak dapat digantikan tersebut antara lain: teladan dalam tindakan, sikap ataupun karakter dan inspiratif serta pasion. Interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran dapat membangun dan mengembangkan karakter siswa. Secanggih apapun teknologi tidak akan pernah menggantikan peran guru, tetapi guru yang tidak mau belajar teknologi akan tergantikan. (*)

Apa yang anda rasakan pada kehidupan kita saat ini? Samakah seperti kehidupan kita di sepuluh tahun yang lalu atau dua puluh tahun yang lalu? Tentu jawabnya tidak bukan, kenapa? Karena saat ini kita merasa hidup serba mudah dan praktis. Ketika ingin belanja makanan misalnya, kita langsung mengambil gawai dan memilih sesuai dengan yang diinginkan, makanan pun segera datang tanpa harus keluar rumah. Atau ada keluarga yang minta transfer uang, tanpa perlu ke bank lagi, langsung dapat melakukan transaksi lewat hape. Tanpa disadari, kita sudah berada di era revolusi industri 4.0.

========================
Oleh: Radiyah Wati, S.Pd
SDN Lepasan 2 Kec. Bakumpai
========================

Apakah revolusi industri 4.0? Prof Klaus Martin Schwab, teknisi dan ekonom Jerman, yang juga pendiri dan Executive Chairman World Economic Forum, adalah orang yang pertama memperkenalkan nama itu. Dalam bukunya, The Fourth Industrial Revolution(2017), ia menyebutkan bahwa saat ini kita berada pada awal sebuah revolusi yang secara mendasar mengubah cara hidup, bekerja dan berhubungan satu sama lain. Perubahan itu sangat dramatis dan terjadi pada kecepatan eksponensia. Dengan kata lain, revolusi industri 4.0 adalah nama tren dari sistem otomatisasi industri, dimana terdapat pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistim siber fisik, internet untuk segala aktifitas, komputasi kognitif dan aktifitas lain berbasis jaringan.

Favehotel Banjarmasin

Revolusi industri 4.0 sering pula disebut revolusi industri generasi keempat yang ditandai dengan kemunculan super komputer, robot pintar, kendaraan tanpa awak, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia dapat mengoptimalkan fungsi otak

Hal ini  turut mengubah perkembangan sistem pendidikan yang ada di dunia dan di Indonesia. Sistem pendidikan adalah strategi atau metode yang digunakan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan agar peserta didik dapat secara aktif mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya.

Peningkatan sumber daya manusia (SDM) merupakan hal yang penting dalam menghadapi era revolusi industri 4.0. Untuk memiliki SDM yang berkualitas, diperlukan pendidikan sebagai bekal agar SDM tersebut mampu bersaing dengan optimal. Selain itu, pendidikan seseorang juga berpengaruh untuk memperoleh pekerjaan di berbagai bidang, baik tingkat nasional maupun global, sehingga bisa mengubah hidup menjadi lebih baik dan setara dengan negara lain. Intinya pada era revolusi 4.0 kita sebagai pendidik harus mampu mengembangkan life skills peserta didik kita secara maksimal.

Langkah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim melalui perombakan kurikulum dan tata kelola organisasi dalam sistem pendidikan di Indonesia menjadi lebih fleksibel dinilai sudah tepat untuk menghadapi era Revolusi Industri 4.0. Dampaknya terhadap pendidikan di Indonesia pada era modern ini, informasi dan teknologi memengaruhi aktivitas sekolah dengan sangat masif. Informasi dan pengetahuan baru menyebar dengan mudah dan aksesibel bagi siapa saja yang membutuhkannya.

Pendidikan mengalami disrupsi yang sangat hebat sekali. Peran guru yang selama ini sebagai satu-satunya penyedia ilmu pengetahuan sedikit banyak bergeser menjauh darinya. Di masa mendatang, peran dan kehadiran guru di ruang kelas akan semakin menantang dan membutuhkan kreativitas yang sangat tinggi.

Seiring dengan perkembangan zaman ini pula, tidak salah kalau Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan kebijakan tentang Merdeka Belajar. Dengan adanya kebijakan itu akan memberikan kemerdekaan setiap unit pendidikan untuk melakukan inovasi. Dalam proses ini Mendikbud mengatakan bahwa konsep harus menyesuaikan kondisi, dimana proses belajar mengajar berjalan,baik sisi budaya,kearifan lokal, sosio-ekonomi maupun infrastruktur.

Esensi Merdeka Belajar adalah menggali potensi terbesar para guru-guru sekolah dan murid kita untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara mandiri. Mandiri bukan hanya mengikuti proses birokrasi pendidikan, tetapi benar-benar inovasi pendidikan.

Beberapa hal yang dapat mendukung Merdeka Belajar di Era Revolusi Industri 4.0. Pertama, penerapan kompetensi siswa Abad 21, yaitu cCritical thinking and problem solving (berpikir kritis dan menyelesaikan masalah), creativity (kreativitas), communication skills (kemampuan berkomunikasi), dan ability to work collaboratively (kemampuan untuk bekerja sama).

Kedua, penerapan literasi digital (kesadaran data (data awareness), kemampuan analisis data, dan kemampuan untuk fokus (deep work). Ketiga, pembuatan konten media pembelajaran (guru dapat menuangkan ide kreatif untuk mengembangkan teknologi digital yang diadaptasi untuk pembelajaran dan edukasi), dan keempat, pembuatan media evaluasi berbasis digital (Kahoot, Quizizz, Mentimeter).
Menghadapi era Revolusi Industri 4.0 di bidang pendidikan, motivasi saja tidak cukup dalam mewujudkan cita cita Making Indonesia 4.0, melainkan harus ada wujud konkret dan usaha yang keras dari pemerintah dan kita semua dalam menyongsong era digitalisasi. Tantangan pasti akan dihadapi dalam setiap transisi inovasi dan teknologi. Kita harus berani dan siap, jika tidak maka akan tenggelam oleh era disrupsi ini.

Namun kita juga menyadari bahwa peran guru tidak dapat digantikan oleh mesin, komputer ataupun robot. Peran guru yang tidak dapat digantikan tersebut antara lain: teladan dalam tindakan, sikap ataupun karakter dan inspiratif serta pasion. Interaksi guru dan siswa dalam pembelajaran dapat membangun dan mengembangkan karakter siswa. Secanggih apapun teknologi tidak akan pernah menggantikan peran guru, tetapi guru yang tidak mau belajar teknologi akan tergantikan. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

Pramusim

Blunder Politik Tukang Bakso

Menikmati Ketidaknyamanan

Negara Tidak Berbisnis Dengan Rakyat

/