alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Sunday, 3 July 2022

Ujian Sekolah Tatap Muka: Segelintir Ortu Masih Khawatir

Siswa yang tak diizinkan orang tuanya mengikuti Ujian Sekolah (US) di sekolah, diberi kesempatan mengikuti ujian daring.

BANJARMASIN – Senin (29/3) merupakan hari pertama US untuk kelas IX SMP di Banjarmasin.

Favehotel Banjarmasin

Hasil pantauan di SMPN 7 di Jalan Veteran, Banjarmasin Timur, setidaknya ada tiga siswa yang memilih ujian di rumah.

Kekhawatiran orang tua atau wali murid itu wajar. Melihat pandemi yang belum mereda, mereka khawatir anaknya tertular COVID-19.

“Dari 179 peserta US, tiga peserta di antaranya memilih untuk mengikuti ujian online,” sebut wakil kepala sekolah bidang sarana, Rahman.

“Selebihnya tatap muka. Menggunakan 11 kelas dengan protokol kesehatan yang ketat. Satu kelas diisi 17 sampai 18 siswa,” tambahnya.

Dalam surat edaran terkait pembukaan sekolah di tengah pandemi, Dinas Pendidikan dan sekolah memang tidak memaksa orang tua dan siswa.

“Sabtu kemarin kami surati, ortu murid dipanggil. Mereka diberikan kesempatan memilih, ujian tatap tatap muka atau daring,” jelas Rahman.

“Karena masih ada ortu yang meragukan keselamatan anaknya, maka kami menggunakan dua metode ujian,” lanjutnya.

Karena ini ujian daring, bukan belajar daring biasa, maka memang agak repot.

Siswa harus menyediakan minimal dua smartphone Android atau laptop. Satu dipakai untuk mengejarkan soal ujian, satu lagi untuk memantau siswa dari jarak jauh.

Lewat kamera gawai, guru pengawas di sekolah bisa memantau ujian daring di rumah tersebut.

Agar tak ada kecemburuan. Baik yang ujian di sekolah atau di rumah, sama-sama dipantau guru. Tak ada yang lebih diuntungkan.

Rahman mengklaim, hari pertama US tak menemui kendala teknis berarti. Soal prokes, anak-anak juga sudah memahami dan mematuhi.

Jika itu pantauan di pusat kota, di pinggiran kota, persisnya di Jalan Mantuil Permai, Banjarmasin Selatan, SMPN 20 juga menggelar US serupa.

Di sini, hampir semua siswa memilih US tatap muka. “Sampai sekarang tak ada ortu siswa yang menyerahkan surat keberatan terkait PTM,” kata sang kepala sekolah, Norhadiyani.

Hanya seorang yang mengikuti daring. Alasannya, sedang kurang sehat.

Lalu, seorang lagi terpaksa mengikuti ujian susulan. Sebab, berhalangan masuk dengan dalih acara keluarga.

“Kalau sakit, bisa dilayani online. Tapi untuk urusan keluarga, sebaiknya ujian susulan saja,” tutupnya.

Kadisdik Hormati Pilihan Ortu

KEPALA Dinas Pendidikan Banjarmasin, Totok Agus Daryanto menegaskan, ia tetap menghormati pilihan orang tua yang enggan anaknya kembali ke sekolah di tengah pandemi.

“Kami tetap menghormati pilihan orang tua agar anaknya mengikuti ujian daring saja,” ujarnya.

Sesuai arahan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kebijakan pembelajaran tatap muka (PTM) tak boleh memaksa orang tua atau wali murid.

Totok menekankan, toh, ujian tatap muka atau daring, tak ada peserta yang lebih diistimewakan. Naskah soalnya sama, durasinya sama, dan tetap diawasi guru.

“Penilaiannya pun sama saja. Bedanya cuma daring ya diawasi secara daring,” tambahnya.

“Walaupun ya, tatap muka tentu lebih efektif ketimbang belajar online di rumah,” tutup Totok.

Perlu diketahui, setelah US untuk kelas IX SMP, berikutnya adalah giliran US untuk kelas VI SD. Dijadwalkan Disdik pada 5 April nanti.

Persiapan telah dimulai Disdik sejak akhir tahun lalu. Dari simulasi pembukaan beberapa sekolah untuk melihat penerapan protokol hingga vaksinasi para pengajar.

Harus ditekankan, US merupakan pengganti UN. Tapi bukan satu-satunya penentu kelulusan siswa. Perilaku siswa selama ini juga menjadi bahan penilaian sekolah. (lan/fud/ema)

Siswa yang tak diizinkan orang tuanya mengikuti Ujian Sekolah (US) di sekolah, diberi kesempatan mengikuti ujian daring.

BANJARMASIN – Senin (29/3) merupakan hari pertama US untuk kelas IX SMP di Banjarmasin.

Favehotel Banjarmasin

Hasil pantauan di SMPN 7 di Jalan Veteran, Banjarmasin Timur, setidaknya ada tiga siswa yang memilih ujian di rumah.

Kekhawatiran orang tua atau wali murid itu wajar. Melihat pandemi yang belum mereda, mereka khawatir anaknya tertular COVID-19.

“Dari 179 peserta US, tiga peserta di antaranya memilih untuk mengikuti ujian online,” sebut wakil kepala sekolah bidang sarana, Rahman.

“Selebihnya tatap muka. Menggunakan 11 kelas dengan protokol kesehatan yang ketat. Satu kelas diisi 17 sampai 18 siswa,” tambahnya.

Dalam surat edaran terkait pembukaan sekolah di tengah pandemi, Dinas Pendidikan dan sekolah memang tidak memaksa orang tua dan siswa.

“Sabtu kemarin kami surati, ortu murid dipanggil. Mereka diberikan kesempatan memilih, ujian tatap tatap muka atau daring,” jelas Rahman.

“Karena masih ada ortu yang meragukan keselamatan anaknya, maka kami menggunakan dua metode ujian,” lanjutnya.

Karena ini ujian daring, bukan belajar daring biasa, maka memang agak repot.

Siswa harus menyediakan minimal dua smartphone Android atau laptop. Satu dipakai untuk mengejarkan soal ujian, satu lagi untuk memantau siswa dari jarak jauh.

Lewat kamera gawai, guru pengawas di sekolah bisa memantau ujian daring di rumah tersebut.

Agar tak ada kecemburuan. Baik yang ujian di sekolah atau di rumah, sama-sama dipantau guru. Tak ada yang lebih diuntungkan.

Rahman mengklaim, hari pertama US tak menemui kendala teknis berarti. Soal prokes, anak-anak juga sudah memahami dan mematuhi.

Jika itu pantauan di pusat kota, di pinggiran kota, persisnya di Jalan Mantuil Permai, Banjarmasin Selatan, SMPN 20 juga menggelar US serupa.

Di sini, hampir semua siswa memilih US tatap muka. “Sampai sekarang tak ada ortu siswa yang menyerahkan surat keberatan terkait PTM,” kata sang kepala sekolah, Norhadiyani.

Hanya seorang yang mengikuti daring. Alasannya, sedang kurang sehat.

Lalu, seorang lagi terpaksa mengikuti ujian susulan. Sebab, berhalangan masuk dengan dalih acara keluarga.

“Kalau sakit, bisa dilayani online. Tapi untuk urusan keluarga, sebaiknya ujian susulan saja,” tutupnya.

Kadisdik Hormati Pilihan Ortu

KEPALA Dinas Pendidikan Banjarmasin, Totok Agus Daryanto menegaskan, ia tetap menghormati pilihan orang tua yang enggan anaknya kembali ke sekolah di tengah pandemi.

“Kami tetap menghormati pilihan orang tua agar anaknya mengikuti ujian daring saja,” ujarnya.

Sesuai arahan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kebijakan pembelajaran tatap muka (PTM) tak boleh memaksa orang tua atau wali murid.

Totok menekankan, toh, ujian tatap muka atau daring, tak ada peserta yang lebih diistimewakan. Naskah soalnya sama, durasinya sama, dan tetap diawasi guru.

“Penilaiannya pun sama saja. Bedanya cuma daring ya diawasi secara daring,” tambahnya.

“Walaupun ya, tatap muka tentu lebih efektif ketimbang belajar online di rumah,” tutup Totok.

Perlu diketahui, setelah US untuk kelas IX SMP, berikutnya adalah giliran US untuk kelas VI SD. Dijadwalkan Disdik pada 5 April nanti.

Persiapan telah dimulai Disdik sejak akhir tahun lalu. Dari simulasi pembukaan beberapa sekolah untuk melihat penerapan protokol hingga vaksinasi para pengajar.

Harus ditekankan, US merupakan pengganti UN. Tapi bukan satu-satunya penentu kelulusan siswa. Perilaku siswa selama ini juga menjadi bahan penilaian sekolah. (lan/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/