alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Sunday, 26 June 2022

Profesionalisasi Guru Melalui Class Room Observation

Untuk kesekian kalinya topik pengembangan profesi guru masih signifikan untuk didiskusikan. Lebih fokusnya bagaimana upaya profesionalisasi guru di era sekarang ini. Seiring dengan era digitalisasi menuntut kualitas guru, khususnya dalam proses pembelajaran di kelas semakin diprioritaskan.

===============================
Oleh: Darwanto
SMPN 1 Kusan Hilir, Kab. Tanah Bumbu
===============================

Guru memiliki tanggung jawab dalam proses transformasi ilmu kepada peserta didik. Guru dituntut memiliki mutu profesional yang tinggi, mampu mengajar dengan baik, mampu merancang, memilih bahan ajar dan strategi pembelajaran yang dapat menyesuaikan dengan karakteristik peserta didik.

Favehotel Banjarmasin

Selain itu, mampu mengelola proses pembelajaran secara efektif, dan mampu melakukan evaluasi untuk mengukur penguasaan bahan ajar peserta didik, guru mampu membimbing, membina dan mengarahkan peserta didiknya ke arah yang lebih baik agar mereka menjadi insan yang lebih aktif, kreatif, bertanggung jawab, religius, memiliki empati dan sikap kemandirian yang tinggi.

Lou Anne Jhonson (2009:5) menjelaskan, guru terbagi menjadi tiga rasa dasar. Yaitu super, excellent dan good. Rasa apa yang kita inginkan sebagai guru tergantung pada kekuatan personal kita, hubungan pertemanan dengan rekan sejawat, memahami tujuan profesional sebagai guru, dan prioritas individual . Ketiga tipe rasa tersebut sangat berkaitan dengan bagaimana seorang guru memahami dirinya sebagai seorang profesional yang dituntut bekerja secara profesional.

Guru super biasanya berangkat dan tiba di sekolah lebih awal dan pulang paling akhir. Mereka juga aktif mengikuti kegiatan-kegiatan pengembangan diri dan publikasi ilmiah (misalnya seminar dan kegiatan kolektivitas guru lainnya, seperti KKG/MGMP, organisasi kemasyarakatan, menulis buku, melakukan penelitian, dll). Mereka juga selalu meningkatkan kualitas pendidikannya. Apabila dikaitkan dengan kemampuan abstrak dan komitmen guru dalam melaksanakan tugasnya, guru super termasuk dalam kuadran I, yaitu guru profesional.

Sementara dalam Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada pasal 10 ayat (1) dijelaskan, guru harus memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Keempat kompetensi tersebut saling mengikat dan mempengaruhi satu sama yang lain.

Sebagai salah satu upaya mengembangkan profesionalitas guru adalah dengan memanfaatkan kegiatan observasi kelas. Observasi kelas dapat dilakukan melalui beberapa metode, seperti observasi yang dilakukan oleh pengawas sekolah, observasi oleh kepala sekolah, dan observasi oleh teman sejawat. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan dari aspek efektivitas observasi kelas, tergantung dari maksud, tujuan dan manfaat terhadap observasi kelas tersebut.

Observasi kelas merupakan salah satu strategi untuk mengurangi “ketertutupan” yang umumnya dilakukan oleh guru. Jujur diakui bahwa pola pembelajaran yang dilakukan oleh guru di dalam kelas seringkali “tidak diketahui” oleh orang lain, selain guru dengan peserta didiknya. Tidak jarang guru tanpa sadar telah melakukan malapraktik selama proses pembelajaran. Apakah salah dalam menyampaikan tentang fakta, konsep, prinsip ataupun prosedur tertentu tentang pengetahuan yang harus disampaikan kepada peserta didiknya secara tepat.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa observasi kelas dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya observasi kelas oleh teman sejawat (peer classroom observation). Menurut Muijs dan David Reynolds (2008:382) bahwa observasi kelas oleh teman sejawat (peer classroom observation) sangat bermanfaat bagi si pengamat maupun yang diobservasi.

Bagi guru yang diobservasi, apabila observasi teman sejawat dilakukan dengan tepat, tanpa ada tindakan yang bersifat “tekanan” atau hasilnya untuk tindakan justifikasi kinerja guru, peer classroom observation dapat memberikan informasi yang sangat berguna mengenai kelebihan dan kekurangan dari guru yang diobservasi. Hasilnya dapat dijadikan refleksi diri untuk melakukan perbaikan. Apabila kegiatan ini dikaitkan dengan pengembangan profesi guru, maka sangat tepat menjadi langkah awal untuk melakukan perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas.

Sedangkan bagi guru yang observasi, mengamati teman sejawat pada saat melakukan proses pembelajaran dapat memperoleh ide-ide baru dari apa yang diperoleh di kelas yang diobservasi. Kemudian untuk menggunakan ide tersebut di kelasnya sendiri.

Selain itu, observer juga dapat merefleksi diri serta membandingkan kelebihan dan kekurangan terhadap proses pembelajaran yang dilakukan selama ini. Hal ini juga dapat dijadikan sebagai langkah awal bagi guru yang melakukan observasi ke kelas/guru lain untuk melakukan penelitian tindakan kelas melalui perbaikan pembelajaran.

Sudarsyah (2017) memberikan pandangan tentang sekolah sebagai ruang untuk pengembangan profesi. Beberapa pertimbangan untuk menguatkan paradigm tersebut, antara lain: proses pembelajaran dikontekstualisasikan sesuai dengan tempat kerja, sekolah memungkinkan guru untuk menganalisis, mendiskusikan, mengevaluasi dan mengubah praktik mereka sendiri dengan berdasarkan refleksi dalam proses pembelajaran, termasuk mendorong para guru untuk melakukan inisiatif mengambil tanggung jawab pertumbuhan profesional untuk kepentingan belajar siswa, dan sekolah memberikan kemudahan bagi guru untuk belajar secara berkelanjutan karena pengembangan profesi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaannya.

Seperti halnya kegiatan pengamatan dalam kegiatan supervisi kelas yang dilakukan oleh pengawas sekolah kepada guru maupun kepala sekolah kepada guru, agar hasil observasi kelas oleh teman sejawat lebih efektif perlu didukung oleh beberapa faktor.

Pertama, kegiatan pra observasi. Antara guru yang akan berkunjung dengan guru yang dikunjungi membuat kesepakatan. Kesepakatan dapat berupa: penentuan jadwal pelaksanaan observasi, siapa dan apa saja yang akan diobservasi, apakah hanya guru yang akan diobservasi, atau hanya siswa, guru dengan siswa, situasi dan kondisi kelas, ataukah keseluruhan kelas, dan instrumen yang akan digunakan selama observasi.

Kedua, kegiatan observasi. Selama kegiatan observasi tidak diperkenankan guru yang berkunjung untuk melakukan observasi melakukan intervensi kepada guru yang sedang diobservasi.

Ketiga, kegiatan pasca observasi. Kegiatan ini berupa umpan balik dan tindak lanjut dari observasi teman sejawat. Apapun hasilnya merupakan langkah awal untuk melakukan perbaikan pembelajaran, dan terus ditingkatkan kegiatan yang sudah benar dan tepat yang telah dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran diobservasi. Selanjutnya menyusun rencana tindak lanjut ke arah pengembangan profesi berupa penelitian tindakan kelas sebagai bagian dari kegiatan publikasi ilmiah/karya inovatif (PI/KI).

Demikian kegiatan observasi kelas oleh teman sejawat yang diharapkan mampu memberikan manfaat besar bagi peningkatan kualitas pembelajaran bagi peserta didik, sekaligus memberikan manfaat bagi pengembangan profesi guru melalui perbaikan pembelajaran berupa penelitian pendidikan khususnya penelitian tindakan kelas. (*)

Untuk kesekian kalinya topik pengembangan profesi guru masih signifikan untuk didiskusikan. Lebih fokusnya bagaimana upaya profesionalisasi guru di era sekarang ini. Seiring dengan era digitalisasi menuntut kualitas guru, khususnya dalam proses pembelajaran di kelas semakin diprioritaskan.

===============================
Oleh: Darwanto
SMPN 1 Kusan Hilir, Kab. Tanah Bumbu
===============================

Guru memiliki tanggung jawab dalam proses transformasi ilmu kepada peserta didik. Guru dituntut memiliki mutu profesional yang tinggi, mampu mengajar dengan baik, mampu merancang, memilih bahan ajar dan strategi pembelajaran yang dapat menyesuaikan dengan karakteristik peserta didik.

Favehotel Banjarmasin

Selain itu, mampu mengelola proses pembelajaran secara efektif, dan mampu melakukan evaluasi untuk mengukur penguasaan bahan ajar peserta didik, guru mampu membimbing, membina dan mengarahkan peserta didiknya ke arah yang lebih baik agar mereka menjadi insan yang lebih aktif, kreatif, bertanggung jawab, religius, memiliki empati dan sikap kemandirian yang tinggi.

Lou Anne Jhonson (2009:5) menjelaskan, guru terbagi menjadi tiga rasa dasar. Yaitu super, excellent dan good. Rasa apa yang kita inginkan sebagai guru tergantung pada kekuatan personal kita, hubungan pertemanan dengan rekan sejawat, memahami tujuan profesional sebagai guru, dan prioritas individual . Ketiga tipe rasa tersebut sangat berkaitan dengan bagaimana seorang guru memahami dirinya sebagai seorang profesional yang dituntut bekerja secara profesional.

Guru super biasanya berangkat dan tiba di sekolah lebih awal dan pulang paling akhir. Mereka juga aktif mengikuti kegiatan-kegiatan pengembangan diri dan publikasi ilmiah (misalnya seminar dan kegiatan kolektivitas guru lainnya, seperti KKG/MGMP, organisasi kemasyarakatan, menulis buku, melakukan penelitian, dll). Mereka juga selalu meningkatkan kualitas pendidikannya. Apabila dikaitkan dengan kemampuan abstrak dan komitmen guru dalam melaksanakan tugasnya, guru super termasuk dalam kuadran I, yaitu guru profesional.

Sementara dalam Undang-undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada pasal 10 ayat (1) dijelaskan, guru harus memiliki kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Keempat kompetensi tersebut saling mengikat dan mempengaruhi satu sama yang lain.

Sebagai salah satu upaya mengembangkan profesionalitas guru adalah dengan memanfaatkan kegiatan observasi kelas. Observasi kelas dapat dilakukan melalui beberapa metode, seperti observasi yang dilakukan oleh pengawas sekolah, observasi oleh kepala sekolah, dan observasi oleh teman sejawat. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan dari aspek efektivitas observasi kelas, tergantung dari maksud, tujuan dan manfaat terhadap observasi kelas tersebut.

Observasi kelas merupakan salah satu strategi untuk mengurangi “ketertutupan” yang umumnya dilakukan oleh guru. Jujur diakui bahwa pola pembelajaran yang dilakukan oleh guru di dalam kelas seringkali “tidak diketahui” oleh orang lain, selain guru dengan peserta didiknya. Tidak jarang guru tanpa sadar telah melakukan malapraktik selama proses pembelajaran. Apakah salah dalam menyampaikan tentang fakta, konsep, prinsip ataupun prosedur tertentu tentang pengetahuan yang harus disampaikan kepada peserta didiknya secara tepat.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa observasi kelas dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya observasi kelas oleh teman sejawat (peer classroom observation). Menurut Muijs dan David Reynolds (2008:382) bahwa observasi kelas oleh teman sejawat (peer classroom observation) sangat bermanfaat bagi si pengamat maupun yang diobservasi.

Bagi guru yang diobservasi, apabila observasi teman sejawat dilakukan dengan tepat, tanpa ada tindakan yang bersifat “tekanan” atau hasilnya untuk tindakan justifikasi kinerja guru, peer classroom observation dapat memberikan informasi yang sangat berguna mengenai kelebihan dan kekurangan dari guru yang diobservasi. Hasilnya dapat dijadikan refleksi diri untuk melakukan perbaikan. Apabila kegiatan ini dikaitkan dengan pengembangan profesi guru, maka sangat tepat menjadi langkah awal untuk melakukan perbaikan pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas.

Sedangkan bagi guru yang observasi, mengamati teman sejawat pada saat melakukan proses pembelajaran dapat memperoleh ide-ide baru dari apa yang diperoleh di kelas yang diobservasi. Kemudian untuk menggunakan ide tersebut di kelasnya sendiri.

Selain itu, observer juga dapat merefleksi diri serta membandingkan kelebihan dan kekurangan terhadap proses pembelajaran yang dilakukan selama ini. Hal ini juga dapat dijadikan sebagai langkah awal bagi guru yang melakukan observasi ke kelas/guru lain untuk melakukan penelitian tindakan kelas melalui perbaikan pembelajaran.

Sudarsyah (2017) memberikan pandangan tentang sekolah sebagai ruang untuk pengembangan profesi. Beberapa pertimbangan untuk menguatkan paradigm tersebut, antara lain: proses pembelajaran dikontekstualisasikan sesuai dengan tempat kerja, sekolah memungkinkan guru untuk menganalisis, mendiskusikan, mengevaluasi dan mengubah praktik mereka sendiri dengan berdasarkan refleksi dalam proses pembelajaran, termasuk mendorong para guru untuk melakukan inisiatif mengambil tanggung jawab pertumbuhan profesional untuk kepentingan belajar siswa, dan sekolah memberikan kemudahan bagi guru untuk belajar secara berkelanjutan karena pengembangan profesi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pekerjaannya.

Seperti halnya kegiatan pengamatan dalam kegiatan supervisi kelas yang dilakukan oleh pengawas sekolah kepada guru maupun kepala sekolah kepada guru, agar hasil observasi kelas oleh teman sejawat lebih efektif perlu didukung oleh beberapa faktor.

Pertama, kegiatan pra observasi. Antara guru yang akan berkunjung dengan guru yang dikunjungi membuat kesepakatan. Kesepakatan dapat berupa: penentuan jadwal pelaksanaan observasi, siapa dan apa saja yang akan diobservasi, apakah hanya guru yang akan diobservasi, atau hanya siswa, guru dengan siswa, situasi dan kondisi kelas, ataukah keseluruhan kelas, dan instrumen yang akan digunakan selama observasi.

Kedua, kegiatan observasi. Selama kegiatan observasi tidak diperkenankan guru yang berkunjung untuk melakukan observasi melakukan intervensi kepada guru yang sedang diobservasi.

Ketiga, kegiatan pasca observasi. Kegiatan ini berupa umpan balik dan tindak lanjut dari observasi teman sejawat. Apapun hasilnya merupakan langkah awal untuk melakukan perbaikan pembelajaran, dan terus ditingkatkan kegiatan yang sudah benar dan tepat yang telah dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran diobservasi. Selanjutnya menyusun rencana tindak lanjut ke arah pengembangan profesi berupa penelitian tindakan kelas sebagai bagian dari kegiatan publikasi ilmiah/karya inovatif (PI/KI).

Demikian kegiatan observasi kelas oleh teman sejawat yang diharapkan mampu memberikan manfaat besar bagi peningkatan kualitas pembelajaran bagi peserta didik, sekaligus memberikan manfaat bagi pengembangan profesi guru melalui perbaikan pembelajaran berupa penelitian pendidikan khususnya penelitian tindakan kelas. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/