alexametrics
25.1 C
Banjarmasin
Friday, 1 July 2022

Kisah Perajin Jukung Kayu Ulin di Desa Tapus: Pesanan Tetap Mengalir, Awet Puluhan Tahun

 

Haji Atta tetap eksis membuat jukung. Bertahan di tengah kemajuan zaman. Bahkan harus melewati era pandemi Covid-19. Berikut kisahnya.

— Oleh: Muhammad Akbar, Amuntai —

Favehotel Banjarmasin

Bau serbuk kayu dan cat langsung menyengat di hidung. Haji Atta (65) tampak sedang mengetam kayu ulin agar terlihat mulus. Ia bekerja di halaman rumahnya sendiri di Desa Tapus, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Walau baunya menyengat, itu tanda rupiah bagi keluarga perajin jukung berbahan baku kayu ulin tersebut. “Sudah 31 tahun menjalankan usaha jukung ini. Ini usaha tunggal kami. Dari usaha ini saya dan keluarga mendapatkan penghasilan untuk hidup,” ucap Atta, sambil tetap mengetam kayu untuk menyelesaikan jukung pesanan pelanggan, baru-baru ini.

Tak terhitung jumlah jukung diproduksi Atta sejak membuka usaha sendiri pada tahun 1991. Bahkan di halaman rumah itu terlihat beberapa perahu sudah jadi. Tinggal menunggu proses pengecatan.

Bisa pula tidak perlu dicat, sesuai request si pemesan. “Saya mengerjakan mulai tiga meter sampai tujuh meter. Lama waktu pengerjaan dua sampai lima hari per jukung. Semakin lama waktu jukung dikerjakan semakin besar dan panjang,” jawab Atta yang masih terlihat bugar diusianya.

Harga jukung yang dijualnya bervariasi. Tergantung ukuran. Kalau panjang 5 meter atau jukung kecil harganya kisaran Rp2 juta. Ukuran 6-7 meter Rp4 juta.

Pasokan kayu ulin sebagai bahan utama membuat jukung diperolehnya dari penjual di daerah Amuntai. “Kayu ulin kami pilih karena kekuatan dan keawetannya. Kami utamakan kualitas dan kepercayaannya pemesan,” tegas Atta. Jukung produksinya mampu bertahan 20 tahun bahkan lebih.

Meski kini transportasi serba cepat, Atta mengaku pesanan jukung selalu ada. Bahkan di tengah pandemi Covid-19 tetap ada pesanan. Tentu ini sangat disyukurinya. Peminat jukung tetap ada karena masyarakat masih banyak yang berprofesi sebagai nelayan. Apalagi budaya Banjar yang membuat warga tetap banyak hidup di sekitar sungai maupun rawa. “Jadi tidak dari HSU saja pesanan jukungnya. Bahkan dari Kalteng dan Kaltim juga ada yang pesan,” ungkapnya.(dye/ema)

 

Haji Atta tetap eksis membuat jukung. Bertahan di tengah kemajuan zaman. Bahkan harus melewati era pandemi Covid-19. Berikut kisahnya.

— Oleh: Muhammad Akbar, Amuntai —

Favehotel Banjarmasin

Bau serbuk kayu dan cat langsung menyengat di hidung. Haji Atta (65) tampak sedang mengetam kayu ulin agar terlihat mulus. Ia bekerja di halaman rumahnya sendiri di Desa Tapus, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Walau baunya menyengat, itu tanda rupiah bagi keluarga perajin jukung berbahan baku kayu ulin tersebut. “Sudah 31 tahun menjalankan usaha jukung ini. Ini usaha tunggal kami. Dari usaha ini saya dan keluarga mendapatkan penghasilan untuk hidup,” ucap Atta, sambil tetap mengetam kayu untuk menyelesaikan jukung pesanan pelanggan, baru-baru ini.

Tak terhitung jumlah jukung diproduksi Atta sejak membuka usaha sendiri pada tahun 1991. Bahkan di halaman rumah itu terlihat beberapa perahu sudah jadi. Tinggal menunggu proses pengecatan.

Bisa pula tidak perlu dicat, sesuai request si pemesan. “Saya mengerjakan mulai tiga meter sampai tujuh meter. Lama waktu pengerjaan dua sampai lima hari per jukung. Semakin lama waktu jukung dikerjakan semakin besar dan panjang,” jawab Atta yang masih terlihat bugar diusianya.

Harga jukung yang dijualnya bervariasi. Tergantung ukuran. Kalau panjang 5 meter atau jukung kecil harganya kisaran Rp2 juta. Ukuran 6-7 meter Rp4 juta.

Pasokan kayu ulin sebagai bahan utama membuat jukung diperolehnya dari penjual di daerah Amuntai. “Kayu ulin kami pilih karena kekuatan dan keawetannya. Kami utamakan kualitas dan kepercayaannya pemesan,” tegas Atta. Jukung produksinya mampu bertahan 20 tahun bahkan lebih.

Meski kini transportasi serba cepat, Atta mengaku pesanan jukung selalu ada. Bahkan di tengah pandemi Covid-19 tetap ada pesanan. Tentu ini sangat disyukurinya. Peminat jukung tetap ada karena masyarakat masih banyak yang berprofesi sebagai nelayan. Apalagi budaya Banjar yang membuat warga tetap banyak hidup di sekitar sungai maupun rawa. “Jadi tidak dari HSU saja pesanan jukungnya. Bahkan dari Kalteng dan Kaltim juga ada yang pesan,” ungkapnya.(dye/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/