alexametrics
22.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 5 July 2022

Macet Mulai Bikin Warga Frustrasi

BANJARMASIN – Jalan Hasan Basri Banjarmasin hingga Handil Bakti menjadi sumber keruwetan lalulintas di Banjarmasin. Kemacetan panjang di kawasan ini bahkan hingga depan Kampus ULM.

Selain belum selesainya Jembatan Alalak, kemacetan disinyalir karena jalan alternatif yang kondisinya mengalami kerusakan. Titiknya ada di Jalan Perumnas Banjarmasin, dan depan eks Terminal Handil Bakti. Di sini bahkan ada dua lobang besar yang membahayakan. Ada di tanjakan jembatan Berangas, yang kedua di bagian oprit turunan.

Titik kerusakan jalan ini membuat arus kendaraan melambat. Parahnya, di jembatan Alalak 2 yang menjadi jalur alternatif, saling saling salip kendaraan roda 2 membuat pengendara roda empat tertahan. Bisa diduga, kemacetan panjang pun tak bisa dihindari.

Favehotel Banjarmasin

“Mana bisa leluasa dan cepat. Apalagi truk bisa melintas masuk ke Jalan Perumnas,” keluh warga Handil Bakti, Batola, Dwi, beberapa waktu lalu.

Persoalan truk ini menjadi keresahan warga. Dalam beberapa minggu ini, truk begitu leluasa padahal portal masih terpasang di bagian turunan dan tanjakan Jembatan Alalak 2. “Petugasnya tak ada. Kalau dijaga tak akan seperti ini,” ujarnya.

Terpisah, Balai Pelaksana Jalan Nasional Wilayah XI Banjarmasin selaku penanggung jawab jalan nasional di ruas jalan tersebut tak bisa berbuat banyak. Menurut mereka penertiban itu wewenangnya milik Kabupaten dan Kota. Dijelaskan Satker Pelaksana Jalan Nasional Kalsel 1 Budianto, dua titik kerusakan jalan, yakni di kawasan Perumnas Banjarmasin dan samping terminal Handil Bakti, kewenangannya ada di Banjarmasin dan Batola.

Sedangkan dibagian oprit Jembatan Berangas sudah diuruk dan diratakan. “Kalau statusnya di kami, sudah beres,” ujarnya.

Sementara itu, DPRD Kalsel telah menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) keluhan masyarakat terkait kerusakan dan kemacetan jalan Banjarmasin-Barito Kuala kemarin. Sayangnya, rapat berlangsung alot dan menemui jalan buntu.

Ada empat masalah dasar yang menjadi sumber keluhan kemacetan lalu lintas di ruas jalan ini. Diantaranya kerusakan Jalan Gubernur Syarkawi, Jalan Trans Kalimantan di kawasan Desa Gampa Asahi Kecamatan Rantau Badauh, Kabupaten Barito Kuala, Jembatan Salim Kecamatan Mataraman Kabupaten Banjar, dan permintaan dibukanya jembatan Alalak I.

Anggota DPRD Kalsel Rosehan Noor Bahri tampak geram karena rapat tak membuahkan hasil jelas. Menurutnya rapat hanya mengulik masalah yang telah dibahas pada 27 Januari lalu, tanpa menghasilkan kebijakan yang langsung dirasakan masyarakat.

“Mohon maaf Pak ya, kalau saya bicara. Saya ini vulgar pak, pukul meja pun saya harus siap. Tapi keluar ruang ini, semua keluarga saya. Ini untuk kepentingan masyarakat, kenapa ini main-main?” ucapnya.

Di depan Dinas Perhubungan Kalsel, Dinas PUPR Kalsel dan Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional XI Banjarmasin, serta APINDO Kalsel, Rosehan menyayangkan solusi pembukaan jembatan Alalak 1 yang pernah dirapatkan, ternyata tak kunjung dilaksanakan oleh balai jalan.

Jembatan Alalak 1 ini dinilai menjadi solusi cepat sembari menunggu perbaikan Jalan Gubernur Syarkawi dan pekerjaan Jembatan Sungai Alalak yang baru. Balai Jalan sendiri sejak lama mengatakan melakukan perbaikan agar jembatan ini bisa aman dilintasi.

Kepala Balai Jalan Pelaksana Jalan Nasional XI Banjarmasin, Syauqi Kamal menerangkan pihaknya belum berani membuka langsung Jembatan Alalak I. Pasalnya saat ini, kondisi jembatan mengalami kerusakan badan jalan dan penyempitan oprit dari 8 meter menjadi 6 meter.

Apabila dipaksakan, dia menyebut kondisi tersebut jembatan sekarang akan membahayakan pengendara. Rencana perawatan jembatan akan dilakukan paling lama sampai 1 bulan mendatang.

“Kalau itu bisa kami kerjakan, tetap hanya untuk kendaraan ringan bukan kendaraan berat terus terang saja kita agak khawatir,” ujarnya.(mof/ran/ema)

BANJARMASIN – Jalan Hasan Basri Banjarmasin hingga Handil Bakti menjadi sumber keruwetan lalulintas di Banjarmasin. Kemacetan panjang di kawasan ini bahkan hingga depan Kampus ULM.

Selain belum selesainya Jembatan Alalak, kemacetan disinyalir karena jalan alternatif yang kondisinya mengalami kerusakan. Titiknya ada di Jalan Perumnas Banjarmasin, dan depan eks Terminal Handil Bakti. Di sini bahkan ada dua lobang besar yang membahayakan. Ada di tanjakan jembatan Berangas, yang kedua di bagian oprit turunan.

Titik kerusakan jalan ini membuat arus kendaraan melambat. Parahnya, di jembatan Alalak 2 yang menjadi jalur alternatif, saling saling salip kendaraan roda 2 membuat pengendara roda empat tertahan. Bisa diduga, kemacetan panjang pun tak bisa dihindari.

Favehotel Banjarmasin

“Mana bisa leluasa dan cepat. Apalagi truk bisa melintas masuk ke Jalan Perumnas,” keluh warga Handil Bakti, Batola, Dwi, beberapa waktu lalu.

Persoalan truk ini menjadi keresahan warga. Dalam beberapa minggu ini, truk begitu leluasa padahal portal masih terpasang di bagian turunan dan tanjakan Jembatan Alalak 2. “Petugasnya tak ada. Kalau dijaga tak akan seperti ini,” ujarnya.

Terpisah, Balai Pelaksana Jalan Nasional Wilayah XI Banjarmasin selaku penanggung jawab jalan nasional di ruas jalan tersebut tak bisa berbuat banyak. Menurut mereka penertiban itu wewenangnya milik Kabupaten dan Kota. Dijelaskan Satker Pelaksana Jalan Nasional Kalsel 1 Budianto, dua titik kerusakan jalan, yakni di kawasan Perumnas Banjarmasin dan samping terminal Handil Bakti, kewenangannya ada di Banjarmasin dan Batola.

Sedangkan dibagian oprit Jembatan Berangas sudah diuruk dan diratakan. “Kalau statusnya di kami, sudah beres,” ujarnya.

Sementara itu, DPRD Kalsel telah menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) keluhan masyarakat terkait kerusakan dan kemacetan jalan Banjarmasin-Barito Kuala kemarin. Sayangnya, rapat berlangsung alot dan menemui jalan buntu.

Ada empat masalah dasar yang menjadi sumber keluhan kemacetan lalu lintas di ruas jalan ini. Diantaranya kerusakan Jalan Gubernur Syarkawi, Jalan Trans Kalimantan di kawasan Desa Gampa Asahi Kecamatan Rantau Badauh, Kabupaten Barito Kuala, Jembatan Salim Kecamatan Mataraman Kabupaten Banjar, dan permintaan dibukanya jembatan Alalak I.

Anggota DPRD Kalsel Rosehan Noor Bahri tampak geram karena rapat tak membuahkan hasil jelas. Menurutnya rapat hanya mengulik masalah yang telah dibahas pada 27 Januari lalu, tanpa menghasilkan kebijakan yang langsung dirasakan masyarakat.

“Mohon maaf Pak ya, kalau saya bicara. Saya ini vulgar pak, pukul meja pun saya harus siap. Tapi keluar ruang ini, semua keluarga saya. Ini untuk kepentingan masyarakat, kenapa ini main-main?” ucapnya.

Di depan Dinas Perhubungan Kalsel, Dinas PUPR Kalsel dan Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional XI Banjarmasin, serta APINDO Kalsel, Rosehan menyayangkan solusi pembukaan jembatan Alalak 1 yang pernah dirapatkan, ternyata tak kunjung dilaksanakan oleh balai jalan.

Jembatan Alalak 1 ini dinilai menjadi solusi cepat sembari menunggu perbaikan Jalan Gubernur Syarkawi dan pekerjaan Jembatan Sungai Alalak yang baru. Balai Jalan sendiri sejak lama mengatakan melakukan perbaikan agar jembatan ini bisa aman dilintasi.

Kepala Balai Jalan Pelaksana Jalan Nasional XI Banjarmasin, Syauqi Kamal menerangkan pihaknya belum berani membuka langsung Jembatan Alalak I. Pasalnya saat ini, kondisi jembatan mengalami kerusakan badan jalan dan penyempitan oprit dari 8 meter menjadi 6 meter.

Apabila dipaksakan, dia menyebut kondisi tersebut jembatan sekarang akan membahayakan pengendara. Rencana perawatan jembatan akan dilakukan paling lama sampai 1 bulan mendatang.

“Kalau itu bisa kami kerjakan, tetap hanya untuk kendaraan ringan bukan kendaraan berat terus terang saja kita agak khawatir,” ujarnya.(mof/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/