alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Macan Tidur

KETIKA masih satuan, polisi pamong praja Banjarmasin menyandang reputasi sebagai macan kota. Naik kelas menjadi dinas, malah dijuluki macan tidur.

============================
Oleh: Muhammad Syarafuddin
Editor Halaman Metropolis Radar Banjarmasin
============================

Masalahnya bukan pada perombakan struktur. Melainkan perubahan kebijakan. Katanya ingin tampil lebih manusiawi.

Favehotel Banjarmasin

Tapi kalau humanis diartikan melunak, dampaknya, lembaran perda pun menjadi macan kertas.

Lancang? Begini, saya tergelitik saat mengedit berita tentang keluhan pedagang Pasar Sudimampir Baru dan Pasar Ujung Murung.

Selama pandemi, banyak pelajar dan anak putus sekolah yang menjadi anjal dan pengamen dadakan.

Awalnya mengundang rasa kasihan. Lama-lama jengkel juga. Karena meminta-minta recehan secara paksa. Lebih mirip memalak.

Bukan hanya pedagang, pembeli pun risih. Menanggapi keluhan itu, pegawai Dinas Perindustrian dan Perdagangan berinisiatif untuk berpatroli.

Persoalannya, mereka bukan aparat. Tak ada penyidik sipil di dinas itu. Artinya, tak bisa merazia apalagi menjatuhkan tipiring.

Praktis, bocah-bocah ini cuma didata dan dinasihati. Tanpa sanksi, jadi penasaran, seberapa banyak dari mereka yang insaf.

Jadi bertanya-tanya pula, ke mana Satpol PP kita?

Tanpa berniat bernostalgia, bertahun-tahun silam, Satpol PP pernah begitu ditakuti.

Saban hari ada saja operasi. Dari menguber gepeng dan PSK, menciduk penghuni kolong jembatan, mengusir jukir liar, hingga membersihkan trotoar dari lapak kaki lima.

Gubuk dan kios di bantaran sungai pun dibongkar. Bahkan, eks lokalisasi Begau dan Losmen Sinar Dodo yang legendaris itu ditutup paksa.

Tak jarang petugas harus bentrok dengan preman. Atau cekcok dengan warga yang marah-marah.

Bagi kami, para reporter di lapangan, Satpol PP adalah stok berita bagus.

Bukan berarti tak ada cacat. Terkadang personel overacting. Oknum nakal juga selalu ada.

Saya pernah meliput tentang oknum yang menarik pungli dari barang sitaan razia. Atau anggota mesum yang tak kuat menahan syahwat saat melihat objek penertibannya.

Namun, coreng-moreng di korps baju hijau lumut itu tak lantas menjadikannya kehilangan ghirah.

Sekarang, apa yang salah? Asumsi saya, Satpol PP terlampau ketergantungan pada satu figur, Ichwan Noor Chalik.

Hingga masa pensiun sang komandan tiba, satuannya pun turut masuk kandang.

Artinya, Ichwan gagal mewariskan visinya: bahwa Satpol PP bukan satpam rumah dinas pejabat.

Intinya, Banjarmasin itu kota tua. Masalahnya ruwet sekali. Problem sosial, ekonomi dan budaya tindih-menindih.

Menghadapinya, sesekali pemko harus tega. Berani tidak populer. Asalkan demi hajat orang banyak, publik toh pasti memaafkan.

Karena pemko tak bisa menata Banjarmasin hanya dengan bermodal imbauan. Berharap imbauan manjur, sama dengan berpangku tangan.

Sebagai penutup, suatu hari saya bertemu anggota di mako Jalan KS Tubun. Sepanjang mengenalnya, ia PNS yang jujur.

Dia mengeluhkan perut anak buahnya yang perlahan membuncit. Gara-gara lebih sering tidur di kantor, alih-alih bergerak di lapangan.

Dia teramat merindukan linggis dan palu godamnya. (*)

KETIKA masih satuan, polisi pamong praja Banjarmasin menyandang reputasi sebagai macan kota. Naik kelas menjadi dinas, malah dijuluki macan tidur.

============================
Oleh: Muhammad Syarafuddin
Editor Halaman Metropolis Radar Banjarmasin
============================

Masalahnya bukan pada perombakan struktur. Melainkan perubahan kebijakan. Katanya ingin tampil lebih manusiawi.

Favehotel Banjarmasin

Tapi kalau humanis diartikan melunak, dampaknya, lembaran perda pun menjadi macan kertas.

Lancang? Begini, saya tergelitik saat mengedit berita tentang keluhan pedagang Pasar Sudimampir Baru dan Pasar Ujung Murung.

Selama pandemi, banyak pelajar dan anak putus sekolah yang menjadi anjal dan pengamen dadakan.

Awalnya mengundang rasa kasihan. Lama-lama jengkel juga. Karena meminta-minta recehan secara paksa. Lebih mirip memalak.

Bukan hanya pedagang, pembeli pun risih. Menanggapi keluhan itu, pegawai Dinas Perindustrian dan Perdagangan berinisiatif untuk berpatroli.

Persoalannya, mereka bukan aparat. Tak ada penyidik sipil di dinas itu. Artinya, tak bisa merazia apalagi menjatuhkan tipiring.

Praktis, bocah-bocah ini cuma didata dan dinasihati. Tanpa sanksi, jadi penasaran, seberapa banyak dari mereka yang insaf.

Jadi bertanya-tanya pula, ke mana Satpol PP kita?

Tanpa berniat bernostalgia, bertahun-tahun silam, Satpol PP pernah begitu ditakuti.

Saban hari ada saja operasi. Dari menguber gepeng dan PSK, menciduk penghuni kolong jembatan, mengusir jukir liar, hingga membersihkan trotoar dari lapak kaki lima.

Gubuk dan kios di bantaran sungai pun dibongkar. Bahkan, eks lokalisasi Begau dan Losmen Sinar Dodo yang legendaris itu ditutup paksa.

Tak jarang petugas harus bentrok dengan preman. Atau cekcok dengan warga yang marah-marah.

Bagi kami, para reporter di lapangan, Satpol PP adalah stok berita bagus.

Bukan berarti tak ada cacat. Terkadang personel overacting. Oknum nakal juga selalu ada.

Saya pernah meliput tentang oknum yang menarik pungli dari barang sitaan razia. Atau anggota mesum yang tak kuat menahan syahwat saat melihat objek penertibannya.

Namun, coreng-moreng di korps baju hijau lumut itu tak lantas menjadikannya kehilangan ghirah.

Sekarang, apa yang salah? Asumsi saya, Satpol PP terlampau ketergantungan pada satu figur, Ichwan Noor Chalik.

Hingga masa pensiun sang komandan tiba, satuannya pun turut masuk kandang.

Artinya, Ichwan gagal mewariskan visinya: bahwa Satpol PP bukan satpam rumah dinas pejabat.

Intinya, Banjarmasin itu kota tua. Masalahnya ruwet sekali. Problem sosial, ekonomi dan budaya tindih-menindih.

Menghadapinya, sesekali pemko harus tega. Berani tidak populer. Asalkan demi hajat orang banyak, publik toh pasti memaafkan.

Karena pemko tak bisa menata Banjarmasin hanya dengan bermodal imbauan. Berharap imbauan manjur, sama dengan berpangku tangan.

Sebagai penutup, suatu hari saya bertemu anggota di mako Jalan KS Tubun. Sepanjang mengenalnya, ia PNS yang jujur.

Dia mengeluhkan perut anak buahnya yang perlahan membuncit. Gara-gara lebih sering tidur di kantor, alih-alih bergerak di lapangan.

Dia teramat merindukan linggis dan palu godamnya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

Pramusim

Blunder Politik Tukang Bakso

Menikmati Ketidaknyamanan

Negara Tidak Berbisnis Dengan Rakyat

/