alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Saturday, 2 July 2022

Terperosok di Lubang yang Sama, Kemacetan Kayu Tangi-Handil Bakti Menjadi-jadi

Selama berjam-jam, lalu lintas Banjarmasin-Handil Bakti di Jalan Tembus Perumnas di Kayu Tangi Ujung dirundung kemacetan parah.

BANJARMASIN – Pantauan Radar Banjarmasin (15/3) dari pagi sampai sore, ada dua mobil terperosok di lubang jalan dekat Kompleks Daha Jaya Persada.

Favehotel Banjarmasin

Pagi itu pikap pengangkut pasir. Siangnya, truk pengangkut pasir. Ironisnya, keduanya terjebak di lubang yang sama.

Sebenarnya, lubang itu sempat ditambal. Tapi karena cuma memakai pasir, malah membuat licin. Setidaknya, dua pesepeda motor nyaris tergelincir dibuatnya.

“Sepanjang jalan ini, banyak jebakan (lubang) yang menghantui pengendara. Jalan ini sudah tak layak dilintasi lagi,” kata Didin, warga setempat di RT 45.

“Pengendara yang harus bersabar. Karena tersendat-sendat dan macet,” tambah pria 44 tahun tersebut.

Didin tak heran jalan itu rusak parah. Karena beban yang ditanggungnya sudah di luar kemampuan jalan.

“Bagaimana tak hancur. Setiap hari truk lalu-lalang. Ya begini lah, enggak mulus lagi. Memang pemerintah tetap memperbaiki, tapi sifatnya cuma tambal sulam,” keluhnya.

Bayangkan, jalan kota itu harus melayani lintas antar kota dan kabupaten. Bahkan lintas provinsi menuju Kalteng.

Menjadi satu-satunya akses yang terbuka karena Sungai Tabuk dan Jalan Gubernur Syarkawi rusak berat.

“Cuma ini jalan alternatif yang tersisa. Jika ada yang terperosok di lubang jalan, sudah pasti terjadi kemacetan,” sebutnya.

Tentu saja, keadaan sulit ini takkan berlangsung selamanya. Didin mafhum soal itu. Ketika proyek jembatan di Sungai Alalak sudah rampung, maka pengendara pun akan beralih ke sana.

Tapi ia khawatir, setelah jembatan baru dibuka, jalan ini malah dilupakan. Dengan segala kerusakan yang ada.

“Jangan-jangan nanti malah dibiarkan begitu saja. Kami berharap lekas-lekas saja diperbaikinya,” pungkasnya.

Lalu, bagaimana komentar warga di seberangnya? Warga Kabupaten Barito Kuala, Yusuf mengaku stres berat gegara kondisi jalan tersebut.

“Buat ke Banjarmasin saja perlu waktu 2,5 jam! Baju sampai keringatan. Seolah-olah saya sedang menempuh perjalanan menuju Hulu Sungai,” kata pria 38 tahun itu.

Mengingat ini perbatas, ia meminta pemko dan pemkab tak saling tunjuk. “Jangan pikir ini-itu lagi kalau sudah demi orang banyak. Ingat, ini satu-satunya jalan yang tersisa,” tegas Yusuf.

Pengaspalan Menunggu Lelang

Jalan Cemara Ujung di perbatasan Kecamatan Banjarmasin Utara dan Kabupaten Barito Kuala menderita kerusakan parah.

Penyebabnya, kelebihan beban lalu lintas. Sebagai dampak selama pengalihan arus akibat proyek Jembatan Sungai Alalak.

Praktis, jalan itu menjadi satu-satunya akses terdekat untuk menghubungkan ibu kota provinsi ini dengan daerah penyangganya.

Kerusakan kian menjadi-jadi setelah bencana banjir pada Januari kemarin. Soal keluhan masyarakat, duh, jangan ditanya lagi.

Ketika dikonfirmasi, Kabid Jalan di Dinas PUPR Banjarmasin, Chandra menjelaskan, sementara perbaikan hanya bisa tambal sulam.

Lubang-lubang besar ditutupi bebatuan. Sembari menunggu pengaspalan dimulai. Dia menjamin, perbaikan Jalan Cemara Ujung sudah dialokasikan dalam APBD 2021.

“Saat ini proyeknya masih dalam tahap lelang. Sementara akan kami uruk dengan bebatuan yang lebih besar,” ujarnya, kemarin (15/3).

Diakuinya, bebatuan itu tak mampu menahan beban kendaraan yang melintas. Tak ayal, pemandangan truk berbadan jumbo yang terjebak di lubang jalan menjadi tak asing.

“Apalagi kalau melihat volumenya, kendaraan yang melintas sangat padat, dan cukup banyak angkutan besar,” tambahnya. (lan/war/fud)

Selama berjam-jam, lalu lintas Banjarmasin-Handil Bakti di Jalan Tembus Perumnas di Kayu Tangi Ujung dirundung kemacetan parah.

BANJARMASIN – Pantauan Radar Banjarmasin (15/3) dari pagi sampai sore, ada dua mobil terperosok di lubang jalan dekat Kompleks Daha Jaya Persada.

Favehotel Banjarmasin

Pagi itu pikap pengangkut pasir. Siangnya, truk pengangkut pasir. Ironisnya, keduanya terjebak di lubang yang sama.

Sebenarnya, lubang itu sempat ditambal. Tapi karena cuma memakai pasir, malah membuat licin. Setidaknya, dua pesepeda motor nyaris tergelincir dibuatnya.

“Sepanjang jalan ini, banyak jebakan (lubang) yang menghantui pengendara. Jalan ini sudah tak layak dilintasi lagi,” kata Didin, warga setempat di RT 45.

“Pengendara yang harus bersabar. Karena tersendat-sendat dan macet,” tambah pria 44 tahun tersebut.

Didin tak heran jalan itu rusak parah. Karena beban yang ditanggungnya sudah di luar kemampuan jalan.

“Bagaimana tak hancur. Setiap hari truk lalu-lalang. Ya begini lah, enggak mulus lagi. Memang pemerintah tetap memperbaiki, tapi sifatnya cuma tambal sulam,” keluhnya.

Bayangkan, jalan kota itu harus melayani lintas antar kota dan kabupaten. Bahkan lintas provinsi menuju Kalteng.

Menjadi satu-satunya akses yang terbuka karena Sungai Tabuk dan Jalan Gubernur Syarkawi rusak berat.

“Cuma ini jalan alternatif yang tersisa. Jika ada yang terperosok di lubang jalan, sudah pasti terjadi kemacetan,” sebutnya.

Tentu saja, keadaan sulit ini takkan berlangsung selamanya. Didin mafhum soal itu. Ketika proyek jembatan di Sungai Alalak sudah rampung, maka pengendara pun akan beralih ke sana.

Tapi ia khawatir, setelah jembatan baru dibuka, jalan ini malah dilupakan. Dengan segala kerusakan yang ada.

“Jangan-jangan nanti malah dibiarkan begitu saja. Kami berharap lekas-lekas saja diperbaikinya,” pungkasnya.

Lalu, bagaimana komentar warga di seberangnya? Warga Kabupaten Barito Kuala, Yusuf mengaku stres berat gegara kondisi jalan tersebut.

“Buat ke Banjarmasin saja perlu waktu 2,5 jam! Baju sampai keringatan. Seolah-olah saya sedang menempuh perjalanan menuju Hulu Sungai,” kata pria 38 tahun itu.

Mengingat ini perbatas, ia meminta pemko dan pemkab tak saling tunjuk. “Jangan pikir ini-itu lagi kalau sudah demi orang banyak. Ingat, ini satu-satunya jalan yang tersisa,” tegas Yusuf.

Pengaspalan Menunggu Lelang

Jalan Cemara Ujung di perbatasan Kecamatan Banjarmasin Utara dan Kabupaten Barito Kuala menderita kerusakan parah.

Penyebabnya, kelebihan beban lalu lintas. Sebagai dampak selama pengalihan arus akibat proyek Jembatan Sungai Alalak.

Praktis, jalan itu menjadi satu-satunya akses terdekat untuk menghubungkan ibu kota provinsi ini dengan daerah penyangganya.

Kerusakan kian menjadi-jadi setelah bencana banjir pada Januari kemarin. Soal keluhan masyarakat, duh, jangan ditanya lagi.

Ketika dikonfirmasi, Kabid Jalan di Dinas PUPR Banjarmasin, Chandra menjelaskan, sementara perbaikan hanya bisa tambal sulam.

Lubang-lubang besar ditutupi bebatuan. Sembari menunggu pengaspalan dimulai. Dia menjamin, perbaikan Jalan Cemara Ujung sudah dialokasikan dalam APBD 2021.

“Saat ini proyeknya masih dalam tahap lelang. Sementara akan kami uruk dengan bebatuan yang lebih besar,” ujarnya, kemarin (15/3).

Diakuinya, bebatuan itu tak mampu menahan beban kendaraan yang melintas. Tak ayal, pemandangan truk berbadan jumbo yang terjebak di lubang jalan menjadi tak asing.

“Apalagi kalau melihat volumenya, kendaraan yang melintas sangat padat, dan cukup banyak angkutan besar,” tambahnya. (lan/war/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/