alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Melihat Perkembangan Angka Kasus Covid-19 di Banua: Dari 100 ribu Orang, 578 Sudah Terinfeksi

Situasi pandemi Covid-19 di Kalsel pada 10 hari pertama bulan Maret bertambah buruk. Gelombang kasus konfirmasi harian semakin tinggi. Dalam periode 1-10 Maret, rata- rata tambahan penduduk yang terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak 170 kasus per hari. Secara akumulasi, angka kasus sudah tembus 24.334.

—-

Situasi pandemi di Kalsel menurut Anggota Tim Ahli Satgas Covid-19 Kalsel yang juga Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 ULM, Hidayatullah Muttaqin semakin kritis. Pasalnya angka kematian pun terus naik signifikan. Dari awal bulan lalu sampai 10 Maret tadi, jumlah kematian karena Covid-19 sebanyak 32 kasus. “Jumlah tersebut lebih tinggi 14 persen dibanding kasus kematian pada 19-28 Februari lalu,” bebernya.

Favehotel Banjarmasin

Dikatakannya, pada Februari lalu Banjarbaru dan Banjarmasin menjadi motor utama penggerak pertumbuhan kasus konfirmasi di Banua. Jumlahnya, tiap hari mencapai 31 kasus. Disusul Tanah Bumbu 13 kasus, Kotabaru 13 kasus, Tanah Laut 12 kasus serta Banjar dan Barito Kuala 10 kasus. 

Dalam 10 hari pertama di bulan Maret ini, Banjarbaru dan Banjarmasin kembali menjadi motor utama penggerak pertumbuhan kasus Covid-19 di Kalsel. Bahkan angkanya melonjak, contohnya Banjarmasin menjadi 53 kasus per hari sedangkan Banjarbaru 33 kasus per hari.

“Kasus baru di Banjarmasin pada 1-10 Maret adalah paling tinggi, yaitu sebanyak 532 kasus. Ini berarti terjadi pertumbuhan kasus baru sebesar 34 persen dibandingkan jumlah kasus baru pada 19-28 Februari lalu,” bebernya.

Sementara, dari data yang diolahnya, rata-rata dari setiap 100 ribu penduduk Kalsel, terdapat 578 orang yang terinfeksi virus Corona. Dan 18 di antaranya meninggal dunia. Daerah yang paling terpapar per 100 ribu penduduk adalah Banjarbaru sebanyak 1.330 kasus, Balangan 1.036 kasus dan Banjarmasin 909 kasus. “Insidensi kematian paling tinggi dialami Banjarbaru 40 orang kemudian Banjarmasin 26 orang dan HST 24 orang,” paparnya.

Dia meyakini, melonjaknya kasus Covid-19 di Kalsel, merupakan refleksi dari gelombang kasus harian yang semakin tinggi dari waktu ke waktu. “Kasus harian Covid-19 di Kalsel mengalami “rebound” dari November sebagai akibat kebijakan cuti bersama dan libur panjang yang mendorong mobilitas masyarakat ke luar daerah,” sebutnya.

Dia menyayangkan, meski sudah diterapkan PPKM dan PPKM Mikro namun dari waktu ke waktu, mobilitas lokal juga mengalami peningkatan. “Lihat saja penerapan protokol kesehatan masih banyak diabaikan, baik masih banyak tak memakai masker, hingga kerumunan di tempat umum,” keluhnya.

Dia menganalisa, jika tidak ada strategi baru dan yang cepat diimplimentasikan di tengah gelombang tinggi ini, akan berpotensi mendorong jumlah kasus konfirmasi positif Covid-19 di Kalsel hingga akhir Maret nanti lebih dari satu setengah kali lipat dibandingkan dengan bulan Februari lalu.

“Jika tidak ada penanganan yang cepat dan tepat, maka mungkin saja Kalsel akan mengalami kondisi yang terjadi di Kaltim, yang saat ini jumlah kasus konfirmasi positif lebih dari 2,5 kali lipat dan kematian lebih dari 1,8 kali lipat dibanding Kalsel,” ingatnya. (mof/ran/ema)

Situasi pandemi Covid-19 di Kalsel pada 10 hari pertama bulan Maret bertambah buruk. Gelombang kasus konfirmasi harian semakin tinggi. Dalam periode 1-10 Maret, rata- rata tambahan penduduk yang terkonfirmasi positif Covid-19 sebanyak 170 kasus per hari. Secara akumulasi, angka kasus sudah tembus 24.334.

—-

Situasi pandemi di Kalsel menurut Anggota Tim Ahli Satgas Covid-19 Kalsel yang juga Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 ULM, Hidayatullah Muttaqin semakin kritis. Pasalnya angka kematian pun terus naik signifikan. Dari awal bulan lalu sampai 10 Maret tadi, jumlah kematian karena Covid-19 sebanyak 32 kasus. “Jumlah tersebut lebih tinggi 14 persen dibanding kasus kematian pada 19-28 Februari lalu,” bebernya.

Favehotel Banjarmasin

Dikatakannya, pada Februari lalu Banjarbaru dan Banjarmasin menjadi motor utama penggerak pertumbuhan kasus konfirmasi di Banua. Jumlahnya, tiap hari mencapai 31 kasus. Disusul Tanah Bumbu 13 kasus, Kotabaru 13 kasus, Tanah Laut 12 kasus serta Banjar dan Barito Kuala 10 kasus. 

Dalam 10 hari pertama di bulan Maret ini, Banjarbaru dan Banjarmasin kembali menjadi motor utama penggerak pertumbuhan kasus Covid-19 di Kalsel. Bahkan angkanya melonjak, contohnya Banjarmasin menjadi 53 kasus per hari sedangkan Banjarbaru 33 kasus per hari.

“Kasus baru di Banjarmasin pada 1-10 Maret adalah paling tinggi, yaitu sebanyak 532 kasus. Ini berarti terjadi pertumbuhan kasus baru sebesar 34 persen dibandingkan jumlah kasus baru pada 19-28 Februari lalu,” bebernya.

Sementara, dari data yang diolahnya, rata-rata dari setiap 100 ribu penduduk Kalsel, terdapat 578 orang yang terinfeksi virus Corona. Dan 18 di antaranya meninggal dunia. Daerah yang paling terpapar per 100 ribu penduduk adalah Banjarbaru sebanyak 1.330 kasus, Balangan 1.036 kasus dan Banjarmasin 909 kasus. “Insidensi kematian paling tinggi dialami Banjarbaru 40 orang kemudian Banjarmasin 26 orang dan HST 24 orang,” paparnya.

Dia meyakini, melonjaknya kasus Covid-19 di Kalsel, merupakan refleksi dari gelombang kasus harian yang semakin tinggi dari waktu ke waktu. “Kasus harian Covid-19 di Kalsel mengalami “rebound” dari November sebagai akibat kebijakan cuti bersama dan libur panjang yang mendorong mobilitas masyarakat ke luar daerah,” sebutnya.

Dia menyayangkan, meski sudah diterapkan PPKM dan PPKM Mikro namun dari waktu ke waktu, mobilitas lokal juga mengalami peningkatan. “Lihat saja penerapan protokol kesehatan masih banyak diabaikan, baik masih banyak tak memakai masker, hingga kerumunan di tempat umum,” keluhnya.

Dia menganalisa, jika tidak ada strategi baru dan yang cepat diimplimentasikan di tengah gelombang tinggi ini, akan berpotensi mendorong jumlah kasus konfirmasi positif Covid-19 di Kalsel hingga akhir Maret nanti lebih dari satu setengah kali lipat dibandingkan dengan bulan Februari lalu.

“Jika tidak ada penanganan yang cepat dan tepat, maka mungkin saja Kalsel akan mengalami kondisi yang terjadi di Kaltim, yang saat ini jumlah kasus konfirmasi positif lebih dari 2,5 kali lipat dan kematian lebih dari 1,8 kali lipat dibanding Kalsel,” ingatnya. (mof/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/