alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Danau Caramin Bakal Ditambang..? Peluangnya Masih Dikaji

BANJARBARU – Semenjak sahamnya diambilalih PT Pribumi Citra Megah Utama pada 2017 lalu, perusahaan tambang intan: PT Galuh Cempaka kembali hidup. Bahkan, mereka masih mencari potensi di wilayah perizinan mereka.

Humas PT Galuh Cempaka, Samidi mengatakan, saat ini perusahan sedang melakukan proses pengamatan potensi di area danau yang kini menjadi tempat wisata. Seperti, Danau Seran dan Danau Caramin. “Sekarang sedang progres pengamatan di pinggir Danau Caramin,” katanya kepada Radar Banjarmasin, kemarin.

Dia mengungkapkan, pengamatan dilakukan guna mengetahui arah potensi intan di area perusahaan pemegang izin kontrak karya (KK) dari Kementerian ESDM ini. “Kalau misal memang ada potensinya, nanti perlu ada uji kelayakan operasional karena harus mengeringkan danau yang begitu besar,” ungkapnya.

Favehotel Banjarmasin

PT Galuh Cempaka ujar Samidi, memang belum punya rencana untuk menambang di area danau. Sebab, tujuan pengamatan cuma ingin melihat arah potensi intan. “Selama ini belum ada pembicaraan sampai jauh ke sana (menambang danau), jadi sekarang danau masih dijadikan tempat wisata oleh masyarakat,” ujarnya.

Ditambahkannya, perusahaan tambang intan satu-satunya di Banjarbaru ini juga belum punya rencana untuk mengambilalih kawasan Danau Seran maupun Danau Caramin dari masyarakat yang mengelola kawasan itu menjadi destinasi wisata.

“Tahun ini belum ada rencana untuk mengambilalih. Tidak tahu kalau tahun 2022 nanti, karena saya belum dapat bagaimana perencanaannya,” tambahnya.

Terkait operasional PT Galuh Cempaka, dia menyebut hingga kini berjalan lancar. Hanya saja dirinya mengaku tidak tahu sudah ada berapa banyak intan yang berhasil diproduksi.

“Kebetulan manager lagi sakit sejak 20 Februari hingga sekarang, sehingga saya belum mengetahui jumlah produksi intan hingga hari ini (kemarin),” sebutnya.

Secara terpisah, Kasi Pemantauan, Pengawasan dan Kajian Dampak Lingkungan Dinas LH Banjarbaru Mila mengatakan, PT Galuh Cempaka bisa beroperasi setelah izin lingkungan hidup mereka terbitkan pada 25 Juli 2018.

Izin sendiri dikeluarkan berdasarkan hasil sidang Komisi AMDAL yang diwakili tim teknis, instansi terkait, perwakilan masyarakat dan LSM. “Dalam sidang itu semua setuju diterbitkannya AMDAL dan SK kelayakan lingkungannya,” ungkap Mila.

Lalu bagaimana dengan kewajiban reklamasi PT Galuh Cempaka? Menurut Mila, pengawasan reklamasi langsung dilakukan pemerintah pusat. Sebab, izin kontrak karya (KK) kewenangan Kementerian ESDM. “Kalau kami hanya punya wewenang mengeluarkan izin lingkungan,” ujarnya.

Sementara itu, dari pantauan Radar Banjarmasin, kemarin (10/3) Danau Caramin di Jalan Guntung Manggis, Kelurahan Guntung Manggis tampak sepi. Tidak ada lagi fasilitas bermain di sana. Tempat ini mangkrak setelah tidak lagi dikunjungi wisatawan.

Khairil, salah seorang pengelola mengatakan, Danau Caramin sudah sepi sejak tahun 2018. Saat itu setiap harinya hanya dikunjungi puluhan orang. “Beda dengan 2017 lalu, setiap hari didatangi ratusan pengunjung. Apalagi ketika hari libur, bisa ribuan orang yang datang,” ungkapnya.

Dia menduga menurunnya minat masyarakat berwisata ke danau yang dibuka pada tahun 2017 itu, dikarenakan kalah bersaing dengan sejumlah destinasi wisata baru. “Sekarang ‘kan banyak tempat wisata, jadi masyarakat lebih memilih ke sana. Sudah bosan ke sini,” pungkasnya. (ris/ran/ema)

TENTANG GALUH CEMPAKA

– Dibentuk pada tahun 1998, PT Galuh Cempaka (GC) mendapat Kontrak Karya seluas 7.470 hektare, berlokasi di Kota Banjarbaru dan Kabupaten Tanah Laut.

– GC sempat tutup di tahun 2009. Aktivitas mereka diduga menimbulkan dampak lingkungan karena mengakibatkan tingkat keasaman air sungai mencapai ph 2,27.

– GC sempat gonta-ganti kepemilikan sebelum kemudian PT Pribumi Citra Megah Utama mengambil-alih saham GC pada 2017 lalu. Di 2019 mereka sudah melaksanakan tahap penambangan dan produksi.

– Mereka saat ini sedang memantau Danau Caramin di Guntung Manggis, Banjarbaru untuk melihat potensi intannya.

BANJARBARU – Semenjak sahamnya diambilalih PT Pribumi Citra Megah Utama pada 2017 lalu, perusahaan tambang intan: PT Galuh Cempaka kembali hidup. Bahkan, mereka masih mencari potensi di wilayah perizinan mereka.

Humas PT Galuh Cempaka, Samidi mengatakan, saat ini perusahan sedang melakukan proses pengamatan potensi di area danau yang kini menjadi tempat wisata. Seperti, Danau Seran dan Danau Caramin. “Sekarang sedang progres pengamatan di pinggir Danau Caramin,” katanya kepada Radar Banjarmasin, kemarin.

Dia mengungkapkan, pengamatan dilakukan guna mengetahui arah potensi intan di area perusahaan pemegang izin kontrak karya (KK) dari Kementerian ESDM ini. “Kalau misal memang ada potensinya, nanti perlu ada uji kelayakan operasional karena harus mengeringkan danau yang begitu besar,” ungkapnya.

Favehotel Banjarmasin

PT Galuh Cempaka ujar Samidi, memang belum punya rencana untuk menambang di area danau. Sebab, tujuan pengamatan cuma ingin melihat arah potensi intan. “Selama ini belum ada pembicaraan sampai jauh ke sana (menambang danau), jadi sekarang danau masih dijadikan tempat wisata oleh masyarakat,” ujarnya.

Ditambahkannya, perusahaan tambang intan satu-satunya di Banjarbaru ini juga belum punya rencana untuk mengambilalih kawasan Danau Seran maupun Danau Caramin dari masyarakat yang mengelola kawasan itu menjadi destinasi wisata.

“Tahun ini belum ada rencana untuk mengambilalih. Tidak tahu kalau tahun 2022 nanti, karena saya belum dapat bagaimana perencanaannya,” tambahnya.

Terkait operasional PT Galuh Cempaka, dia menyebut hingga kini berjalan lancar. Hanya saja dirinya mengaku tidak tahu sudah ada berapa banyak intan yang berhasil diproduksi.

“Kebetulan manager lagi sakit sejak 20 Februari hingga sekarang, sehingga saya belum mengetahui jumlah produksi intan hingga hari ini (kemarin),” sebutnya.

Secara terpisah, Kasi Pemantauan, Pengawasan dan Kajian Dampak Lingkungan Dinas LH Banjarbaru Mila mengatakan, PT Galuh Cempaka bisa beroperasi setelah izin lingkungan hidup mereka terbitkan pada 25 Juli 2018.

Izin sendiri dikeluarkan berdasarkan hasil sidang Komisi AMDAL yang diwakili tim teknis, instansi terkait, perwakilan masyarakat dan LSM. “Dalam sidang itu semua setuju diterbitkannya AMDAL dan SK kelayakan lingkungannya,” ungkap Mila.

Lalu bagaimana dengan kewajiban reklamasi PT Galuh Cempaka? Menurut Mila, pengawasan reklamasi langsung dilakukan pemerintah pusat. Sebab, izin kontrak karya (KK) kewenangan Kementerian ESDM. “Kalau kami hanya punya wewenang mengeluarkan izin lingkungan,” ujarnya.

Sementara itu, dari pantauan Radar Banjarmasin, kemarin (10/3) Danau Caramin di Jalan Guntung Manggis, Kelurahan Guntung Manggis tampak sepi. Tidak ada lagi fasilitas bermain di sana. Tempat ini mangkrak setelah tidak lagi dikunjungi wisatawan.

Khairil, salah seorang pengelola mengatakan, Danau Caramin sudah sepi sejak tahun 2018. Saat itu setiap harinya hanya dikunjungi puluhan orang. “Beda dengan 2017 lalu, setiap hari didatangi ratusan pengunjung. Apalagi ketika hari libur, bisa ribuan orang yang datang,” ungkapnya.

Dia menduga menurunnya minat masyarakat berwisata ke danau yang dibuka pada tahun 2017 itu, dikarenakan kalah bersaing dengan sejumlah destinasi wisata baru. “Sekarang ‘kan banyak tempat wisata, jadi masyarakat lebih memilih ke sana. Sudah bosan ke sini,” pungkasnya. (ris/ran/ema)

TENTANG GALUH CEMPAKA

– Dibentuk pada tahun 1998, PT Galuh Cempaka (GC) mendapat Kontrak Karya seluas 7.470 hektare, berlokasi di Kota Banjarbaru dan Kabupaten Tanah Laut.

– GC sempat tutup di tahun 2009. Aktivitas mereka diduga menimbulkan dampak lingkungan karena mengakibatkan tingkat keasaman air sungai mencapai ph 2,27.

– GC sempat gonta-ganti kepemilikan sebelum kemudian PT Pribumi Citra Megah Utama mengambil-alih saham GC pada 2017 lalu. Di 2019 mereka sudah melaksanakan tahap penambangan dan produksi.

– Mereka saat ini sedang memantau Danau Caramin di Guntung Manggis, Banjarbaru untuk melihat potensi intannya.

Most Read

Artikel Terbaru

/