alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Saturday, 2 July 2022

Pengumuman: HI Sang Oknum DLH Nakal Dicari Warga, Silakan Dilaporkan ke Polisi

Mereka sudah “kangen” berat dengan HI, inisial oknum ASN Pemko Banjarmasin tersebut. Tapi sayang HI tidak ada.

BANJARMASIN – Korban penipuan pegawai nakal di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin, kembali mendatangi Balai Kota, (10/3) siang.

Favehotel Banjarmasin

Tak ada HI, belasan warga itu sempat menunggu di lobi kantor wali kota. Mereka baru bubar setelah polisi memberikan pengertian.

“Kami hanya ingin kepastian. Entah itu sebulan atau kapan. Yang penting, ada kepastian. Kami akan kembali lagi ke sini,” kata salah seorang warga yang enggan namanya dikorankan.

Beberapa hari sebelumnya, mereka sudah bertemu Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Sampah DLH, Marzuki.

Marzuki berjanji akan menghubungi HI yang sedang berada di luar kota. Bahkan, memediasi pertemuan antara HI dengan warga. “Tapi, nomor telepon yang bersangkutan tak aktif-aktif,” ucap Marzuki kepada Radar Banjarmasin.

Tuntutan belasan warga itu masih sama. Agar HI melunasi utang piutangnya. Yang sebenarnya sudah jatuh tempo pada 8 Maret lalu.

Menanggapi ketiadaan HI, Plh Wali Kota Banjarmasin yang juga menjabat sebagai Kepala DLH Banjarmasin, Mukhyar mengatakan, sekarang terserah kepada para korban.

Dia menyilakan warga melaporkan HI ke polisi. “Kami tidak ingin ada anggapan bahwa atasan coba melindungi bawahannya. Kami hanya ingin agar persoalan ini terang-benderang. Jadi siapa yang bermain-main akan ketahuan,” tegasnya.

Ditekankannya, masalah ini murni antara HI dan warga. Tak ada sangkut-paut dengan DLH.

“Statusnya sebagai ASN pun, kalau ia terbukti membuat pelanggaran, pasti ada sanksi. Dan ia juga sudah diberi sanksi berupa teguran,” tambahnya.

Menyegarkan ingatan, tanpa sepengetahuan atasannya, HI merekrut petugas penyapu jalan. Lowongan itu memerlukan uang jaminan. Nominalnya berbeda-beda, rata-rata peminat harus menyetor Rp15 juta.

Seiring waktu, warga menyadari sudah dikibuli. Sebab, berbulan-bulan menyapu jalan, mereka tak kunjung digaji.

Puncaknya, pada 2 Desember 2020 lalu, mereka menggeruduk Balai Kota. Lalu, pada 7 Desember dibuat surat perjanjian, bahwa HI akan melunasi utangnya kepada para korbannya dalam jangka waktu tiga bulan. (war/fud/ema)

Mereka sudah “kangen” berat dengan HI, inisial oknum ASN Pemko Banjarmasin tersebut. Tapi sayang HI tidak ada.

BANJARMASIN – Korban penipuan pegawai nakal di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin, kembali mendatangi Balai Kota, (10/3) siang.

Favehotel Banjarmasin

Tak ada HI, belasan warga itu sempat menunggu di lobi kantor wali kota. Mereka baru bubar setelah polisi memberikan pengertian.

“Kami hanya ingin kepastian. Entah itu sebulan atau kapan. Yang penting, ada kepastian. Kami akan kembali lagi ke sini,” kata salah seorang warga yang enggan namanya dikorankan.

Beberapa hari sebelumnya, mereka sudah bertemu Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Sampah DLH, Marzuki.

Marzuki berjanji akan menghubungi HI yang sedang berada di luar kota. Bahkan, memediasi pertemuan antara HI dengan warga. “Tapi, nomor telepon yang bersangkutan tak aktif-aktif,” ucap Marzuki kepada Radar Banjarmasin.

Tuntutan belasan warga itu masih sama. Agar HI melunasi utang piutangnya. Yang sebenarnya sudah jatuh tempo pada 8 Maret lalu.

Menanggapi ketiadaan HI, Plh Wali Kota Banjarmasin yang juga menjabat sebagai Kepala DLH Banjarmasin, Mukhyar mengatakan, sekarang terserah kepada para korban.

Dia menyilakan warga melaporkan HI ke polisi. “Kami tidak ingin ada anggapan bahwa atasan coba melindungi bawahannya. Kami hanya ingin agar persoalan ini terang-benderang. Jadi siapa yang bermain-main akan ketahuan,” tegasnya.

Ditekankannya, masalah ini murni antara HI dan warga. Tak ada sangkut-paut dengan DLH.

“Statusnya sebagai ASN pun, kalau ia terbukti membuat pelanggaran, pasti ada sanksi. Dan ia juga sudah diberi sanksi berupa teguran,” tambahnya.

Menyegarkan ingatan, tanpa sepengetahuan atasannya, HI merekrut petugas penyapu jalan. Lowongan itu memerlukan uang jaminan. Nominalnya berbeda-beda, rata-rata peminat harus menyetor Rp15 juta.

Seiring waktu, warga menyadari sudah dikibuli. Sebab, berbulan-bulan menyapu jalan, mereka tak kunjung digaji.

Puncaknya, pada 2 Desember 2020 lalu, mereka menggeruduk Balai Kota. Lalu, pada 7 Desember dibuat surat perjanjian, bahwa HI akan melunasi utangnya kepada para korbannya dalam jangka waktu tiga bulan. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/