alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Sunday, 3 July 2022

Ramadan Sebentar Lagi, Pasar Wadai Offline Masih Terlalu Berisiko

BANJARMASIN – Bulan Ramadan di Banjarmasin tanpa pasar wadai? Terasa ada yang kurang. Tapi sejak pandemi, tahun 2020 lalu, Pemko Banjarmasin meniadakan event itu.

Apakah tahun ini juga begitu? Apalagi dalam kalender hijriah, sekarang sudah akhir bulan Rajab.

Memang, terlalu berisiko. Mengingat pasar wadai tak bisa dipisahkan dari kerumunan. Menjelang waktu berbuka puasa, pasti ramai dengan pengunjung.

Favehotel Banjarmasin

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarmasin, Ikhsan Alhak mengatakan, pemko lebih condong kepada kebijakan di tahun sebelumnya. Meniadakan pasar wadai offline, menggantikannya dengan pasar wadai online.

“Memang ada permintaan dari paguyuban (perkumpulan pedagang pasar Ramadan) yang ingin berjualan seperti biasa,” kata Ikhsan, Senin (8/3).

Sebab, sangat sulit menjaga jarak di tengah pasar wadai.

Soal persiapan, sekarang sedang didata, siapa saja pedagang yang tertarik untuk bergabung di pasar daring ini.

Lalu, bagaimana kalau ada yang ngotot menggelar lapak? “Kalau mau, silakan saja ajukan sendiri permohonan kepada satgas covid. Karena kami tidak berani memfasilitasi,” tambahnya.

Perihal syarat mengikuti pasar wadai daring ini, pertama, harus berdomisili di Banjarmasin. Kedua, bukan bagian dari usaha waralaba besar.

Pendaftaran bisa diakses di akun Instagram @pasarwadaibjm yang dikelola Disbudpar. Jumlah pedagang dibatasi 150 saja.

Ikhsan mempromosikan, pasar wadai daring justru lebih menguntungkan. Tahun lalu, omzetnya mencapai Rp2,7 miliar.

“Atau tiga kali lipat dari tahun 2019 sebelum ada pandemi yang cuma Rp900 juta,” tutup Ikhsan. (war/fud/ema)

BANJARMASIN – Bulan Ramadan di Banjarmasin tanpa pasar wadai? Terasa ada yang kurang. Tapi sejak pandemi, tahun 2020 lalu, Pemko Banjarmasin meniadakan event itu.

Apakah tahun ini juga begitu? Apalagi dalam kalender hijriah, sekarang sudah akhir bulan Rajab.

Memang, terlalu berisiko. Mengingat pasar wadai tak bisa dipisahkan dari kerumunan. Menjelang waktu berbuka puasa, pasti ramai dengan pengunjung.

Favehotel Banjarmasin

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banjarmasin, Ikhsan Alhak mengatakan, pemko lebih condong kepada kebijakan di tahun sebelumnya. Meniadakan pasar wadai offline, menggantikannya dengan pasar wadai online.

“Memang ada permintaan dari paguyuban (perkumpulan pedagang pasar Ramadan) yang ingin berjualan seperti biasa,” kata Ikhsan, Senin (8/3).

Sebab, sangat sulit menjaga jarak di tengah pasar wadai.

Soal persiapan, sekarang sedang didata, siapa saja pedagang yang tertarik untuk bergabung di pasar daring ini.

Lalu, bagaimana kalau ada yang ngotot menggelar lapak? “Kalau mau, silakan saja ajukan sendiri permohonan kepada satgas covid. Karena kami tidak berani memfasilitasi,” tambahnya.

Perihal syarat mengikuti pasar wadai daring ini, pertama, harus berdomisili di Banjarmasin. Kedua, bukan bagian dari usaha waralaba besar.

Pendaftaran bisa diakses di akun Instagram @pasarwadaibjm yang dikelola Disbudpar. Jumlah pedagang dibatasi 150 saja.

Ikhsan mempromosikan, pasar wadai daring justru lebih menguntungkan. Tahun lalu, omzetnya mencapai Rp2,7 miliar.

“Atau tiga kali lipat dari tahun 2019 sebelum ada pandemi yang cuma Rp900 juta,” tutup Ikhsan. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/