alexametrics
23.1 C
Banjarmasin
Monday, 27 June 2022

6 Ribu Warga Dites dalam Sepekan, Testing Covid-19 Kalsel Lebihi Target WHO

BANJARBARU – Dalam beberapa pekan terakhir kasus Covid-19 semakin menanjak, dalam sehari tambahan pasien baru yang terpapar virus corona rata-rata mencapai 150 lebih.

Kemarin (8/3) misalnya, data Satgas Covid-19 Kalsel menyebutkan ada tambahan 170 kasus baru yang ditemukan di Banua.

Dengan tambahan itu, jumlah kasus Covid-19 di Kalsel menjadi 23.300. Dari angka ini, masih ada 2.075 pasien yang dirawat. Sementara angka kematian mencapai 754.

Favehotel Banjarmasin

Terkait hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kalsel M Muslim mengklaim, menanjaknya kasus Covid-19 di Banua lantaran saat ini pemerintah sedang menggencarkan tracing dan resting.

“Dalam beberapa minggu ini memang ada kenaikan kasus, dibandingkan minggu-minggu sebelumnya. Tapi jangan lupa, itu hasil dari tracing,” katanya kepada Radar Banjarmasin.

Dia mengungkapkan, hasil tracing dan testing Kalsel dalam lima pekan terakhir rata-rata 1,7 orang per 1000 penduduk sepekan. Jumlah ini kata Muslim, berada di atas target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). “Target WHO hanya 1 per 1000 penduduk setiap pekan,” ungkapnya.

Dengan jumlah testing 1,7 orang per 1000 penduduk, maka Kalsel berhasil memeriksa 6.800 orang per pekan. Dengan asumsi jumlah penduduk di Banua sebanyak 4 juta jiwa. “Dengan testing sebanyak ini, artinya kasus baru memang banyak dari hasil tracing. Baik yang dilakukan di Puskesmas maupun pelayanan kesehatan lainnya,” beber Muslim.

Lanjutnya, testing yang dilakukan Pemprov Kalsel dan pemerintah kabupaten/kota sendiri banyak menggunakan rapid test antigen. Jika ada yang positif, maka dimasukkan dalam kategori suspek. “Kalau suspek maka kami tes lagi menggunakan swab PCR,” ujarnya.

Muslim menyebut, dari hasil tracing yang dilakukan kasus baru paling banyak ditemukan dari klaster keluarga. “Juga dari warga yang selesai melakukan perjalanan ke luar daerah dan dari kegiatan sosial di masyarakat,” sebutnya.

Sementara itu, tingginya testing membuat laboratorium yang melayani tes swab PCR menerima banyak sampel. Jumlahnya meningkat signifikan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Di Laboratorium di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Banjarbaru misalnya, selama Februari 2021 memeriksa 140 sampel. “Padahal Januari cuma 80 sampel yang kami periksa. Sedangkan Desember 2020 hanya 76 sampel,” papar Kepala BBTKLPP Banjarbaru, Slamet Mulsiswanto.

Diungkapkannya, sampel yang diterima BBTKLPP Banjarbaru datang dari Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Utara dan Banjarbaru. “Kalau daerah lain sampelnya dikirim ke laboratorium lain, sesuai dengan zonasi daerahnya,” paparnya. (ris/ran/ema)

BANJARBARU – Dalam beberapa pekan terakhir kasus Covid-19 semakin menanjak, dalam sehari tambahan pasien baru yang terpapar virus corona rata-rata mencapai 150 lebih.

Kemarin (8/3) misalnya, data Satgas Covid-19 Kalsel menyebutkan ada tambahan 170 kasus baru yang ditemukan di Banua.

Dengan tambahan itu, jumlah kasus Covid-19 di Kalsel menjadi 23.300. Dari angka ini, masih ada 2.075 pasien yang dirawat. Sementara angka kematian mencapai 754.

Favehotel Banjarmasin

Terkait hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kalsel M Muslim mengklaim, menanjaknya kasus Covid-19 di Banua lantaran saat ini pemerintah sedang menggencarkan tracing dan resting.

“Dalam beberapa minggu ini memang ada kenaikan kasus, dibandingkan minggu-minggu sebelumnya. Tapi jangan lupa, itu hasil dari tracing,” katanya kepada Radar Banjarmasin.

Dia mengungkapkan, hasil tracing dan testing Kalsel dalam lima pekan terakhir rata-rata 1,7 orang per 1000 penduduk sepekan. Jumlah ini kata Muslim, berada di atas target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). “Target WHO hanya 1 per 1000 penduduk setiap pekan,” ungkapnya.

Dengan jumlah testing 1,7 orang per 1000 penduduk, maka Kalsel berhasil memeriksa 6.800 orang per pekan. Dengan asumsi jumlah penduduk di Banua sebanyak 4 juta jiwa. “Dengan testing sebanyak ini, artinya kasus baru memang banyak dari hasil tracing. Baik yang dilakukan di Puskesmas maupun pelayanan kesehatan lainnya,” beber Muslim.

Lanjutnya, testing yang dilakukan Pemprov Kalsel dan pemerintah kabupaten/kota sendiri banyak menggunakan rapid test antigen. Jika ada yang positif, maka dimasukkan dalam kategori suspek. “Kalau suspek maka kami tes lagi menggunakan swab PCR,” ujarnya.

Muslim menyebut, dari hasil tracing yang dilakukan kasus baru paling banyak ditemukan dari klaster keluarga. “Juga dari warga yang selesai melakukan perjalanan ke luar daerah dan dari kegiatan sosial di masyarakat,” sebutnya.

Sementara itu, tingginya testing membuat laboratorium yang melayani tes swab PCR menerima banyak sampel. Jumlahnya meningkat signifikan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.

Di Laboratorium di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Banjarbaru misalnya, selama Februari 2021 memeriksa 140 sampel. “Padahal Januari cuma 80 sampel yang kami periksa. Sedangkan Desember 2020 hanya 76 sampel,” papar Kepala BBTKLPP Banjarbaru, Slamet Mulsiswanto.

Diungkapkannya, sampel yang diterima BBTKLPP Banjarbaru datang dari Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Utara dan Banjarbaru. “Kalau daerah lain sampelnya dikirim ke laboratorium lain, sesuai dengan zonasi daerahnya,” paparnya. (ris/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/