alexametrics
26.1 C
Banjarmasin
Sunday, 3 July 2022

Temukan Foto Ekstasi di HP Napi

BANJARBARU – Stigma bahwa peredaran narkotika masih menyentuh di lingkungan penjara seakan masih bernadi. Memang, di beberapa kasus pengungkapan barang haram ini, kadang arus transaksi juga menyeret nama Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) atau Rumah Tahanan (Rutan).

Upaya pemberantasan dari deteksi dini didorong agar masif dilakukan. Selain pencegahan dari kelompok narapidana. Petugas atau sipir juga harus dilakukan deteksi dini terkait penyalahgunaab narkotika ini.

Kemarin, pihak Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Kota Banjarbaru menggelar deteksi dini untuk para pegawai dan sipir di lapas. Tujuan kali ini adalah di Lapas Karang Intan Kabupaten Banjar.

Favehotel Banjarmasin

Ratusan pegawai maupun sipir termasuk kepala Lapas turut di tes urine. Tes ini berbarengan dengan ditandatanganinya Perjanjian Kerja Sama (PKS) terkait aksi nasional sesuai Inpres Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) antara BNNK dengan Lapas.

Menurut Kepala BNNK Banjarbaru, AKBP Husni Thamrin, selain Karang Intan. Ada dua Lapas lain yang juga menjalin kerja sama P4GN dengan mereka. “Hari ini (kemarin) kita langsung dengan tiga lapas. Selain Karang Intan, ada Lapas khusus anak di Martapura dan juga Lapas Banjarbaru.”

Butir-butir PKS ini kata Husni mencakup beberapa kesepakatan. Selain dilakukan deteksi dini kepada internal pegawai. Nantinya, BNNK katanya juga punya akses untuk melakukan pengembangan kasus narkotika di dalam area Lapas ataupun yang terkait.

“Jadi ketika ada kasus dari pengembangan kita mengarah ke lingkungan Lapas maka kita bekerja sama dengan pihak Lapas untuk menindaklanjutinya. Begitupun sebaliknya, pihak Lapas juga bisa meminta bantuan kita ketika ada ditemukan kasus di dalam untuk melanjutkan pengembangannya,” bebernya.

Memang diakui Husni, sejauh ini beberapa kasus terindikasi narkotika memang ada yang menyeret ke lingkungan lapas. Makanya katanya dalam upaya P4GN ini perlu ada kesamaan semangat dan visi oleh seluruh instansi pemerintah untuk menanggulangi ini.

“Kita pernah ada kasus di lapas, terindikasi dari temuan handphone milik warga binaan di dalamnya ada foto ekstasi. Nah pihak Lapas menghubungi kita untuk dilakukan pengembangan di luar, nah hal-hal seperti ini yang akan kita maksimalkan sebagai upaya P4GN,” ujarnya.

Adapun, kerja sama lain yang sudah rutin ujar Husni adalah program rehabilitasi bagi WBP tertentu. WBP yang terjerat kasus narkotika dan akan segera mengakhiri masa tahanannya terangnya harus menjalani rehabilitasi dulu.

“Termasuk jika ada WBP kasus narkotika yang bebas bersyarat, itu wajib rehabilitasi dulu. Hal ini agar memastikan mereka kembali ke masyarakat sudah tidak terjerat narkotika lagi,” tuntasnya. (rvn/bin/ema)

BANJARBARU – Stigma bahwa peredaran narkotika masih menyentuh di lingkungan penjara seakan masih bernadi. Memang, di beberapa kasus pengungkapan barang haram ini, kadang arus transaksi juga menyeret nama Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) atau Rumah Tahanan (Rutan).

Upaya pemberantasan dari deteksi dini didorong agar masif dilakukan. Selain pencegahan dari kelompok narapidana. Petugas atau sipir juga harus dilakukan deteksi dini terkait penyalahgunaab narkotika ini.

Kemarin, pihak Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Kota Banjarbaru menggelar deteksi dini untuk para pegawai dan sipir di lapas. Tujuan kali ini adalah di Lapas Karang Intan Kabupaten Banjar.

Favehotel Banjarmasin

Ratusan pegawai maupun sipir termasuk kepala Lapas turut di tes urine. Tes ini berbarengan dengan ditandatanganinya Perjanjian Kerja Sama (PKS) terkait aksi nasional sesuai Inpres Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) antara BNNK dengan Lapas.

Menurut Kepala BNNK Banjarbaru, AKBP Husni Thamrin, selain Karang Intan. Ada dua Lapas lain yang juga menjalin kerja sama P4GN dengan mereka. “Hari ini (kemarin) kita langsung dengan tiga lapas. Selain Karang Intan, ada Lapas khusus anak di Martapura dan juga Lapas Banjarbaru.”

Butir-butir PKS ini kata Husni mencakup beberapa kesepakatan. Selain dilakukan deteksi dini kepada internal pegawai. Nantinya, BNNK katanya juga punya akses untuk melakukan pengembangan kasus narkotika di dalam area Lapas ataupun yang terkait.

“Jadi ketika ada kasus dari pengembangan kita mengarah ke lingkungan Lapas maka kita bekerja sama dengan pihak Lapas untuk menindaklanjutinya. Begitupun sebaliknya, pihak Lapas juga bisa meminta bantuan kita ketika ada ditemukan kasus di dalam untuk melanjutkan pengembangannya,” bebernya.

Memang diakui Husni, sejauh ini beberapa kasus terindikasi narkotika memang ada yang menyeret ke lingkungan lapas. Makanya katanya dalam upaya P4GN ini perlu ada kesamaan semangat dan visi oleh seluruh instansi pemerintah untuk menanggulangi ini.

“Kita pernah ada kasus di lapas, terindikasi dari temuan handphone milik warga binaan di dalamnya ada foto ekstasi. Nah pihak Lapas menghubungi kita untuk dilakukan pengembangan di luar, nah hal-hal seperti ini yang akan kita maksimalkan sebagai upaya P4GN,” ujarnya.

Adapun, kerja sama lain yang sudah rutin ujar Husni adalah program rehabilitasi bagi WBP tertentu. WBP yang terjerat kasus narkotika dan akan segera mengakhiri masa tahanannya terangnya harus menjalani rehabilitasi dulu.

“Termasuk jika ada WBP kasus narkotika yang bebas bersyarat, itu wajib rehabilitasi dulu. Hal ini agar memastikan mereka kembali ke masyarakat sudah tidak terjerat narkotika lagi,” tuntasnya. (rvn/bin/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/