alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Bahayakan Pejalan Kaki dan Bangunan, Belasan Titik Siring Runtuh Masih Ditangani Darurat

BANJARBARU – Efek banjir di awal tahun 2021 lalu masih membekas. Sejumlah fasilitas atau infrastruktur terdampak rusak. Di Banjarbaru, belasan siring juga terdampak luapan air bah.

Menurut data Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarbaru, ada 14 titik siring yang runtuh. Penyebabnya yakni dihantam derasnya banjir hebat lalu.

Dari penelusuran Radar Banjarmasin, salah satu titik yang terdampak parah adalah siring di bantaran Sungai Kemuning. Total ada empat titik yang runtuh. Bahkan turut menggerus trotoar pejalan kaki di bantaran.

Favehotel Banjarmasin

Misalnya di dekat area Menara Pandang Km 33 Sungai Kemuning. Di kawasan ini terpantau satu titik siring yang runtuh cukup parah. Bahkan, titik ini langsung bersinggungan dengan bangunan di sampingnya.

Kondisi ini tentu memicu kekhawatiran warga. Mereka menilai jika air bah datang lagi, bukan tidak mungkin area siring yang runtuh makin parah dan membahayakan pengunjung ataupun bangunan warga.

“Saya lihat itu sudah tergerus dan runtuh lebar. Bahkan bagian trotoarnya ikut ambruk ke bawah, takutnya makin parah dan membahayakan pejalan kaki. Juga ada bangunan di sampingnya,” kata Mugni, pengunjung Menara Pandang Banjarbaru.

Soal ini, menurut klaim Kepala Bidang SDA Dinas PUPR Banjarbaru, Subrianto, bahwa pihaknya telah melakukan tindakan darurat. Bahkan katanya setelah diketahui runtuh, mereka langsung menanggulanginya.

“Jadi memang penanganan darurat ini kita hanya memasang siring pancang dari galam. Ini untuk mengurangi area kerusakan dan juga meminimalisir risiko untuk pengunjung atau bangunan di bantaran,” katanya.

Dilanjutnya, pihaknya memang sudah mengagendakan untuk perbaikan permanen. Tidak hanya di aliran sungai Kemuning, namun di titik-titik terdampak lainnya.

“Jadi kenapa kita tidak langsung melakukan perbaikan permanen, ini karena kami harus menunggu prakiraan cuaca dari BMKG. Kita sudah komunikasi, katanya akhir Maret kemungkinan intensitas hujan mulai berkurang,” jelasnya.

Informasi dari BMKG ini kata Subri penting. Mengingat perbaikan yang maksimal memerlukan waktu yang lama. Dikhawatirkan, apabila diperbaiki ketika potensi hujan tinggi dan memicu banjir lagi, maka perbaikan akan terdampak dan berisiko gagal.

“Makanya untuk sementara sebagai pengingat juga agar warga jangan mendekati titik runtuh, kita lakukan penyiringan pancang dengan galam. Memang kita khawatirkan bangunan akan terdampak jika tak ditanggulangi,” pungkasnya. (rvn/bin/ema)

BANJARBARU – Efek banjir di awal tahun 2021 lalu masih membekas. Sejumlah fasilitas atau infrastruktur terdampak rusak. Di Banjarbaru, belasan siring juga terdampak luapan air bah.

Menurut data Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarbaru, ada 14 titik siring yang runtuh. Penyebabnya yakni dihantam derasnya banjir hebat lalu.

Dari penelusuran Radar Banjarmasin, salah satu titik yang terdampak parah adalah siring di bantaran Sungai Kemuning. Total ada empat titik yang runtuh. Bahkan turut menggerus trotoar pejalan kaki di bantaran.

Favehotel Banjarmasin

Misalnya di dekat area Menara Pandang Km 33 Sungai Kemuning. Di kawasan ini terpantau satu titik siring yang runtuh cukup parah. Bahkan, titik ini langsung bersinggungan dengan bangunan di sampingnya.

Kondisi ini tentu memicu kekhawatiran warga. Mereka menilai jika air bah datang lagi, bukan tidak mungkin area siring yang runtuh makin parah dan membahayakan pengunjung ataupun bangunan warga.

“Saya lihat itu sudah tergerus dan runtuh lebar. Bahkan bagian trotoarnya ikut ambruk ke bawah, takutnya makin parah dan membahayakan pejalan kaki. Juga ada bangunan di sampingnya,” kata Mugni, pengunjung Menara Pandang Banjarbaru.

Soal ini, menurut klaim Kepala Bidang SDA Dinas PUPR Banjarbaru, Subrianto, bahwa pihaknya telah melakukan tindakan darurat. Bahkan katanya setelah diketahui runtuh, mereka langsung menanggulanginya.

“Jadi memang penanganan darurat ini kita hanya memasang siring pancang dari galam. Ini untuk mengurangi area kerusakan dan juga meminimalisir risiko untuk pengunjung atau bangunan di bantaran,” katanya.

Dilanjutnya, pihaknya memang sudah mengagendakan untuk perbaikan permanen. Tidak hanya di aliran sungai Kemuning, namun di titik-titik terdampak lainnya.

“Jadi kenapa kita tidak langsung melakukan perbaikan permanen, ini karena kami harus menunggu prakiraan cuaca dari BMKG. Kita sudah komunikasi, katanya akhir Maret kemungkinan intensitas hujan mulai berkurang,” jelasnya.

Informasi dari BMKG ini kata Subri penting. Mengingat perbaikan yang maksimal memerlukan waktu yang lama. Dikhawatirkan, apabila diperbaiki ketika potensi hujan tinggi dan memicu banjir lagi, maka perbaikan akan terdampak dan berisiko gagal.

“Makanya untuk sementara sebagai pengingat juga agar warga jangan mendekati titik runtuh, kita lakukan penyiringan pancang dengan galam. Memang kita khawatirkan bangunan akan terdampak jika tak ditanggulangi,” pungkasnya. (rvn/bin/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/