alexametrics
23.1 C
Banjarmasin
Monday, 27 June 2022

Melihat Festival Cap Go Meh di Banjarbaru: Potong Kue Keranjang Terbesar di Kalsel

Pada akhir rangkaian perayaan tahun baru Imlek, Perkumpulan Hakka Kalimantan Selatan (PHKS) Jumat (26/2) menggelar perayaan Cap Go Meh. Ada hal yang menarik dalam acara yang digelar di Q Mall Banjarbaru ini.

— Oleh: SUTRISNO, Banjarbaru

Digelar di tengah pandemi Covid-19, Festival Cap Go Meh dilaksanakan secara terbatas. Hanya dihadiri oleh anggota PHKS Kalsel dan manajemen Q Mall Banjarbaru.

Favehotel Banjarmasin

PHKS merupakan komunitas perkumpulan keturunan Hakka di Kalsel. Hakka sendiri salah satu suku dari Provinsi Guangdong, Fujian dan Guangxi di Tiongkok atau yang juga sering disebut suku Khek.

Dalam kesempatan itu, PHKS bersama manajemen Q Mall Banjarbaru memotong kue keranjang raksasa yang diklaim menjadi yang terbesar di Kalsel. Kue berbentuk bulat itu berdiameter sekitar tiga meter lebih dan memiliki berat hingga 1,2 ton.

Kue keranjang sendiri merupakan salah satu kue khas atau wajib pada perayaan tahun baru Imlek. Makanan ini mulai dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, tujuh hari menjelang tahun baru Imlek dan puncaknya pada malam menjelang tahun baru Imlek. Sebagai sesaji, kue ini biasanya tidak dimakan sampai Cap Go Meh.

Setelah dipotong, kue terbuat dari tepung ketan dan gula, serta mempunyai tekstur yang kenyal itu kemudian dibagikan ke para pengunjung dan tenant di Q Mall Banjarbaru.

Ketua Umum PHKS Kalsel, Jhonny Wijaya mengatakan, pihaknya sengaja merayakan Cap Go Meh dengan cara memotong kue keranjang raksasa untuk memperkenalkan makanan yang juga disebut Nian Gao tersebut. “Kita perkenalkan ke masyarakat bahwa kue keranjang ini terbuat dari bahan sederhana dan halal,” katanya.

Dirinya berharap, melalui kegiatan yang mereka lakukan itu ke depan kue keranjang bisa dinikmati semua kalangan. Bukan hanya para etnis Tionghoa. “Jadi salah satu tujuan kami menggelar Cap Go Meh di Q Mall ini juga untuk memperkaya khazanah budaya bangsa,” paparnya.

Disampaikannya, demi bisa memotong kue raksasa, mereka harus mendatangkan kue keranjang tersebut dari Singkawang, Kalimantan Barat. “Membawanya ke Banjarbaru memerlukan waktu 30 jam,” ucapnya.

Menurut Jhonny, pihaknya mengambil kue jauh-jauh dari Singkawang lantaran di Banua tidak banyak orang yang bisa membuatnya. “Karena untuk membuat kue keranjang sebesar ini diperlukan tenaga 30 orang,” ujarnya.

Sementara itu, General Manager Q Mall Banjarbaru, Andi Indrawangsah mengapresiasi ide PHKS Kalsel dalam festival Cap Go Meh. “Ini ide dan konsepnya spontan. Dengan waktu singkat, acara sangat meriah. Sehingga kami berterimakasih apa yang sudah dilakukan kawan-kawan PHKS,” bebernya.

Dia menyampaikan, festival Cap Go Meh baru pertama digelar di Q Mall Banjarbaru. Ini terlaksana karena hasil komunikasi manajemen bersama PHKS. “Kegiatan ini rangkaian Imlek. Cap Go Meh ini istilah Tionghoa hari ke-15. Artinya Imlek berakhir dengan ditutup festival ini,” ucapnya. (ris/ran/ema)

Pada akhir rangkaian perayaan tahun baru Imlek, Perkumpulan Hakka Kalimantan Selatan (PHKS) Jumat (26/2) menggelar perayaan Cap Go Meh. Ada hal yang menarik dalam acara yang digelar di Q Mall Banjarbaru ini.

— Oleh: SUTRISNO, Banjarbaru

Digelar di tengah pandemi Covid-19, Festival Cap Go Meh dilaksanakan secara terbatas. Hanya dihadiri oleh anggota PHKS Kalsel dan manajemen Q Mall Banjarbaru.

Favehotel Banjarmasin

PHKS merupakan komunitas perkumpulan keturunan Hakka di Kalsel. Hakka sendiri salah satu suku dari Provinsi Guangdong, Fujian dan Guangxi di Tiongkok atau yang juga sering disebut suku Khek.

Dalam kesempatan itu, PHKS bersama manajemen Q Mall Banjarbaru memotong kue keranjang raksasa yang diklaim menjadi yang terbesar di Kalsel. Kue berbentuk bulat itu berdiameter sekitar tiga meter lebih dan memiliki berat hingga 1,2 ton.

Kue keranjang sendiri merupakan salah satu kue khas atau wajib pada perayaan tahun baru Imlek. Makanan ini mulai dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, tujuh hari menjelang tahun baru Imlek dan puncaknya pada malam menjelang tahun baru Imlek. Sebagai sesaji, kue ini biasanya tidak dimakan sampai Cap Go Meh.

Setelah dipotong, kue terbuat dari tepung ketan dan gula, serta mempunyai tekstur yang kenyal itu kemudian dibagikan ke para pengunjung dan tenant di Q Mall Banjarbaru.

Ketua Umum PHKS Kalsel, Jhonny Wijaya mengatakan, pihaknya sengaja merayakan Cap Go Meh dengan cara memotong kue keranjang raksasa untuk memperkenalkan makanan yang juga disebut Nian Gao tersebut. “Kita perkenalkan ke masyarakat bahwa kue keranjang ini terbuat dari bahan sederhana dan halal,” katanya.

Dirinya berharap, melalui kegiatan yang mereka lakukan itu ke depan kue keranjang bisa dinikmati semua kalangan. Bukan hanya para etnis Tionghoa. “Jadi salah satu tujuan kami menggelar Cap Go Meh di Q Mall ini juga untuk memperkaya khazanah budaya bangsa,” paparnya.

Disampaikannya, demi bisa memotong kue raksasa, mereka harus mendatangkan kue keranjang tersebut dari Singkawang, Kalimantan Barat. “Membawanya ke Banjarbaru memerlukan waktu 30 jam,” ucapnya.

Menurut Jhonny, pihaknya mengambil kue jauh-jauh dari Singkawang lantaran di Banua tidak banyak orang yang bisa membuatnya. “Karena untuk membuat kue keranjang sebesar ini diperlukan tenaga 30 orang,” ujarnya.

Sementara itu, General Manager Q Mall Banjarbaru, Andi Indrawangsah mengapresiasi ide PHKS Kalsel dalam festival Cap Go Meh. “Ini ide dan konsepnya spontan. Dengan waktu singkat, acara sangat meriah. Sehingga kami berterimakasih apa yang sudah dilakukan kawan-kawan PHKS,” bebernya.

Dia menyampaikan, festival Cap Go Meh baru pertama digelar di Q Mall Banjarbaru. Ini terlaksana karena hasil komunikasi manajemen bersama PHKS. “Kegiatan ini rangkaian Imlek. Cap Go Meh ini istilah Tionghoa hari ke-15. Artinya Imlek berakhir dengan ditutup festival ini,” ucapnya. (ris/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/