alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Saturday, 2 July 2022

Dampak Banjir, Sumur pun Berbau Amis

MARTAPURA – Banjir Kabupaten Banjar belum juga reda. Lebih satu bulan air menggenangi permukiman padat yang berada di bibir Sungai Martapura seperti Karang Intan, Martapura Timur, Martapura Barat, Martapura Kota, Sungai Tabuk, dan sebagian Manarap, Kecamatan Kertak Hanyar. Banjir di Kabupaten Banjar belum memasuki pasca kecuali beberapa kecamatan yang lebih dulu kering seperti Kecamatan Pengaron.

Sebagian desa di Kecamatan Pengaron yakni Desa Pengaron, Benteng, Atiim, Arang Alus, Lok Tunggul, Lobang Baru, Antaraku, dan Mangkauk mengalam banjir hebat selama 3 hari. Ketinggian air lebih 5 meter dan mengakibatkan banyak rumah tercerabut dari pondasinya. Banjir kiriman Pengaron ini menyatu ke palung Sungai Martapura. Padahal, Sungai Martapura sudah meluap sejak akhir Desember 2020.

“Musibah banjir Pengaron terjadi dua kali dalam sepekan. Pertama tanggal 11 – 13 Januari dan sempat surut. Kemudian, banjir kedua, paling parah dalam sejarah yaitu tanggal 15-17 Januari yang tingginya 5 meter lebih,” kata Mada, warga Pengaron.

Favehotel Banjarmasin

Pasca banjir Pengaron sangat melelahkan karena semua perabot harus dibuang dan diganti. Mulai berencana mengganti instalasi listrik, plafon, dinding, dan lantai rumah. Hampir 100 persen alat rumah tangga hanyut. Termasuk juga gabah simpanan untuk setahun serta stok kopi mentah. Pasalnya, arus banjir Pengaron sangat deras dan airnya kotor berlumpur. Sisa lumpur pascabanjir di lantai rumah kurang lebih 10 cm. Sulit dibersihkan kecuali menggunakan mesin standar dari barisan pemadam kebakaran.

“Bahkan, mesin penyedot air sumur rusak. Setelah diganti dengan yang baru, kami masih menguras isi sumur yang airnya kuning dan bau amis,” tutur Mada.

Kepala Puskesmas Pengaron, Mustika Murni menjelaskan, sepekan terakhir petugas kesehatan langsung meminta masyarakat menguras sumur. Perintah itu diterbitkan setelah mengambil sampel air di beberapa titik sumur warga. Sosialisasi kepada warga untuk mencegah penyakit pascabanjir seperti diare. Air banjir mencemari sumur warga.

Masyarakat dari delapan desa terdampak banjir Pengaron, ujar Mustika, mulai menguras sumur bersama relawan setempat. Selain itu, pihaknya juga membuka posko kesehatan satu hari ketika banjir surut. Data sementara, sebanyak 123 bayi dan balita korban banjir Pengaron jadi prioritas pendampingan memenuhi gizi.

Sementara itu, jalan alternatif pulang pergi dari Banjarmasin ke hulu sungai masih digunakan warga. Sayangnya, jalan Desa Gunung Mas dan Tanah Habang rusak berat sekitar 1,5 km. Banyak mobil besar amblas. Sedangkan jalan nasional masih diberlakukan buka tutup setiap 10 menit. Minimal 5 ton yang diberikan izin melintas Jembatan Salim KM 55 Desa Banua Hanyar. Biasa macet hampir dua jam pada posisi puncak arus lalu lintas .

Komandan Satgas Banjir Dandim 1006/Martapura Letkol Arm Siswo Budiarto menjelaskan, konstruksi jembatan alternatif di samping Jembatan Salim KM 55 Banua Anyar mulai berjalan. Proses pekerjaan konstruksi akan rampung pada 2 Februari 2021 mendatang. Jembatan baru itu kuat menahan beban tonase 50 ton.

Sekda Banjar HM Hilman mengatakan, status tanggap darurat masih berlaku. Kebutuhan paling penting adalah logistik pangan dan percepatan perbaikan infrastruktur. Pihaknya berusaha mengembalikan seperti kondisi normal. Sembari menginventarisir kerusakan yang terjadi akibat dampak banjir. (mam/ema)

MARTAPURA – Banjir Kabupaten Banjar belum juga reda. Lebih satu bulan air menggenangi permukiman padat yang berada di bibir Sungai Martapura seperti Karang Intan, Martapura Timur, Martapura Barat, Martapura Kota, Sungai Tabuk, dan sebagian Manarap, Kecamatan Kertak Hanyar. Banjir di Kabupaten Banjar belum memasuki pasca kecuali beberapa kecamatan yang lebih dulu kering seperti Kecamatan Pengaron.

Sebagian desa di Kecamatan Pengaron yakni Desa Pengaron, Benteng, Atiim, Arang Alus, Lok Tunggul, Lobang Baru, Antaraku, dan Mangkauk mengalam banjir hebat selama 3 hari. Ketinggian air lebih 5 meter dan mengakibatkan banyak rumah tercerabut dari pondasinya. Banjir kiriman Pengaron ini menyatu ke palung Sungai Martapura. Padahal, Sungai Martapura sudah meluap sejak akhir Desember 2020.

“Musibah banjir Pengaron terjadi dua kali dalam sepekan. Pertama tanggal 11 – 13 Januari dan sempat surut. Kemudian, banjir kedua, paling parah dalam sejarah yaitu tanggal 15-17 Januari yang tingginya 5 meter lebih,” kata Mada, warga Pengaron.

Favehotel Banjarmasin

Pasca banjir Pengaron sangat melelahkan karena semua perabot harus dibuang dan diganti. Mulai berencana mengganti instalasi listrik, plafon, dinding, dan lantai rumah. Hampir 100 persen alat rumah tangga hanyut. Termasuk juga gabah simpanan untuk setahun serta stok kopi mentah. Pasalnya, arus banjir Pengaron sangat deras dan airnya kotor berlumpur. Sisa lumpur pascabanjir di lantai rumah kurang lebih 10 cm. Sulit dibersihkan kecuali menggunakan mesin standar dari barisan pemadam kebakaran.

“Bahkan, mesin penyedot air sumur rusak. Setelah diganti dengan yang baru, kami masih menguras isi sumur yang airnya kuning dan bau amis,” tutur Mada.

Kepala Puskesmas Pengaron, Mustika Murni menjelaskan, sepekan terakhir petugas kesehatan langsung meminta masyarakat menguras sumur. Perintah itu diterbitkan setelah mengambil sampel air di beberapa titik sumur warga. Sosialisasi kepada warga untuk mencegah penyakit pascabanjir seperti diare. Air banjir mencemari sumur warga.

Masyarakat dari delapan desa terdampak banjir Pengaron, ujar Mustika, mulai menguras sumur bersama relawan setempat. Selain itu, pihaknya juga membuka posko kesehatan satu hari ketika banjir surut. Data sementara, sebanyak 123 bayi dan balita korban banjir Pengaron jadi prioritas pendampingan memenuhi gizi.

Sementara itu, jalan alternatif pulang pergi dari Banjarmasin ke hulu sungai masih digunakan warga. Sayangnya, jalan Desa Gunung Mas dan Tanah Habang rusak berat sekitar 1,5 km. Banyak mobil besar amblas. Sedangkan jalan nasional masih diberlakukan buka tutup setiap 10 menit. Minimal 5 ton yang diberikan izin melintas Jembatan Salim KM 55 Desa Banua Hanyar. Biasa macet hampir dua jam pada posisi puncak arus lalu lintas .

Komandan Satgas Banjir Dandim 1006/Martapura Letkol Arm Siswo Budiarto menjelaskan, konstruksi jembatan alternatif di samping Jembatan Salim KM 55 Banua Anyar mulai berjalan. Proses pekerjaan konstruksi akan rampung pada 2 Februari 2021 mendatang. Jembatan baru itu kuat menahan beban tonase 50 ton.

Sekda Banjar HM Hilman mengatakan, status tanggap darurat masih berlaku. Kebutuhan paling penting adalah logistik pangan dan percepatan perbaikan infrastruktur. Pihaknya berusaha mengembalikan seperti kondisi normal. Sembari menginventarisir kerusakan yang terjadi akibat dampak banjir. (mam/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/