alexametrics
29.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Banjir Surut, Pandemi Belum, Waspada Klaster Pengungsian

Diterjang banjir, wajar bila warga lebih memikirkan keselamatan diri. Ketimbang mengurusi soal masker atau mencuci tangan.

BANJARMASIN – Mengacu data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel menyebut, ada 135 ribu pengungsi di provinsi ini. Seiring menyurutnya banjir, 70 ribu jiwa sudah pulang ke rumah masing-masing.

Favehotel Banjarmasin

Anggota Tim Pakar COVID-19 Universitas Lambung Mangkurat, Hidayatullah Muttaqin meminta pemda mewaspadai kemunculan klaster pengungsian.

Sebab, ketika korban banjir mengungsi ke rumah kerabat atau tenda umum, sulit menerapkan protokol pencegahan penularan virus corona. Khususnya dalam hal menjaga jarak, memakai masker atau mencuci tangan.

Maka, Hidayatullah takkan heran jika muncul lonjakan kasus COVID-19 di daerah yang paling terdampak banjir.

Terutama untuk daerah tetangga, Kabupaten Banjar dengan jumlah pengungsi terbanyak, sekitar 82 ribu jiwa.

Sementara untuk Banjarmasin, Hidayatullah meminta pemko memantau Sungai Jingah, Tanjung Pagar, Pemurus Dalam, Sungai Lulut, Antasan Kecil Timur, Alalak Selatan, Sungai Andai, Surgi Mufti, Pemurus Baru, Kelayan Dalam dan Kelayan Timur.

Kelurahan-kelurahan yang paling terdampak banjir. Dia menyarankan, perlunya testing dan tracing (tes dan lacak) di kantong-kantong pengungsi.

Deteksi dini akan memudahkan karantina untuk mencegah merebaknya penularan. Kalau perlu dirawat, bisa segera dirujuk ke rumah sakit.

“Setelah testing, lalu tracing. Guna mengetahui skala penularan warga terinfeksi,” ujarnya, kemarin (27/1).

“Mencegah penularan lebih besar,” tambahnya. “Juga mencegah kemungkinan gejala sakit lebih parah. Mencegah bertambahnya kasus meninggal dunia akibat keterlambatan penanganan,” tutupnya.

Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin, Suciati mengakui, selama banjir terjadi lonjakan pasien corona. Tapi masih dalam batas aman.

“Maksimal kan di angka 80, selama banjir sampai sekarang, hanya 73 pasien yang kami rawat,” sebutnya, kemarin.

Rinciannya, pada pekan pertama Januari, memang terjadi penambahan dari Desember. Dari 19 pasien menjadi 57 pasien.

Tapi lonjakan tak sempat memenuhi semua kamar rawat inap di fasilitas Ulin. Gejala-gejala sakit pasien juga masih bisa diatasi perawat dan dokter. Tidak terlalu parah. Demikian klaim Suciati.

Mengapa tak terjadi lonjakan kasus, justru ketika warga lebih sibuk menyelamatkan diri dari banjir ketimbang memikirkan protokol. Mengapa?

“Mungkin kekebalan tubuh mulai terbentuk. Atau mungkin tuhan memberikan perlindungan. Karena tahu kita sedang diuji banjir,” ujarnya.

Tapi Suciati menjamin, jika lonjakan pasien muncul mendadak, mereka sudah siap. Tenaga kesehatan kontrak pun sudah disuruh bersiaga, siap dipanggil sewaktu-waktu.

Selain itu, stok alat pelindung diri (APD) level 3 juga masih aman. “Kami juga harus menjaga nakes dan pasien non covid dari penularan,” pungkasnya.

Bertahan karena Anak

JUMLAH pengungsi di Terminal Tipe B Banjarmasin semakin berkurang. Pada awal banjir, gedung di batas kota itu sempat menampung 504 pengungsi. Kini sudah berkurang lebih dari setengahnya.

“Hanya sekitar 200 orang yang masih bertahan,” kata koordinator pengungsian setempat, Yan Sirani, kemarin (27/1).

Diceritakannya, sejak tiga hari lalu, satu demi satu pengungsi mulai pulang ke rumahnya masing-masing. Mengingat banjir sudah mulai surut.

“Kalau mau balik ke rumah, ya pulang saja. Sebenarnya tak ada pendataan,” tambahnya.

Sirani sendiri termasuk pengungsi. Rumahnya di Gang Andin Rama Jalan Ahmad Yani km 6 juga terendam.

“Saya di sini mengungsi sendirian. Keluarga saya mengungsi ke tempat lain. Kalau saya kembali ke rumah sekarang, siapa yang bakal membantu pengungsi lainnya? Relawan kan pulangnya harus yang terakhir,” ucapnya seraya tertawa.

Pantauan Radar Banjarmasin, kios dan lorong terminal yang semula sesak, sudah mulai lengang.

“Iya, ini mau siap-siap pulang. Air sudah surut. Rumah saya juga tak terendam lagi,” tutur Masriah.

Warga Pekapuran Raya itu termasuk gelombang pengungsi pertama. “Saya berempat dengan keluarga. Semuanya mengungsi kemari. Syukur di sini tak kekurangan apa-apa. Dilayani dengan baik,” tambahnya.

Salah satu yang masih bertahan adalah Dewi, warga Gang TVRI Jalan Ahmad Yani km 6. “Dulu airnya sepinggang, kini tinggal selutut. Tapi belum berani pulang,” ujarnya.

Mengapa ia memilih bertahan di pengungsian, Dewi rupanya masih mengkhawatirkan kesehatan dua anaknya yang masih kecil.

“Saya khawatir keduanya terserang penyakit gatal-gatal. Apalagi si kecil, yang umurnya dua tahun ini. Saya berharap, genangan air sudah benar-benar surut. Baru kembali ke rumah,” harapnya. (war/gmp/at/fud)

Diterjang banjir, wajar bila warga lebih memikirkan keselamatan diri. Ketimbang mengurusi soal masker atau mencuci tangan.

BANJARMASIN – Mengacu data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalsel menyebut, ada 135 ribu pengungsi di provinsi ini. Seiring menyurutnya banjir, 70 ribu jiwa sudah pulang ke rumah masing-masing.

Favehotel Banjarmasin

Anggota Tim Pakar COVID-19 Universitas Lambung Mangkurat, Hidayatullah Muttaqin meminta pemda mewaspadai kemunculan klaster pengungsian.

Sebab, ketika korban banjir mengungsi ke rumah kerabat atau tenda umum, sulit menerapkan protokol pencegahan penularan virus corona. Khususnya dalam hal menjaga jarak, memakai masker atau mencuci tangan.

Maka, Hidayatullah takkan heran jika muncul lonjakan kasus COVID-19 di daerah yang paling terdampak banjir.

Terutama untuk daerah tetangga, Kabupaten Banjar dengan jumlah pengungsi terbanyak, sekitar 82 ribu jiwa.

Sementara untuk Banjarmasin, Hidayatullah meminta pemko memantau Sungai Jingah, Tanjung Pagar, Pemurus Dalam, Sungai Lulut, Antasan Kecil Timur, Alalak Selatan, Sungai Andai, Surgi Mufti, Pemurus Baru, Kelayan Dalam dan Kelayan Timur.

Kelurahan-kelurahan yang paling terdampak banjir. Dia menyarankan, perlunya testing dan tracing (tes dan lacak) di kantong-kantong pengungsi.

Deteksi dini akan memudahkan karantina untuk mencegah merebaknya penularan. Kalau perlu dirawat, bisa segera dirujuk ke rumah sakit.

“Setelah testing, lalu tracing. Guna mengetahui skala penularan warga terinfeksi,” ujarnya, kemarin (27/1).

“Mencegah penularan lebih besar,” tambahnya. “Juga mencegah kemungkinan gejala sakit lebih parah. Mencegah bertambahnya kasus meninggal dunia akibat keterlambatan penanganan,” tutupnya.

Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin, Suciati mengakui, selama banjir terjadi lonjakan pasien corona. Tapi masih dalam batas aman.

“Maksimal kan di angka 80, selama banjir sampai sekarang, hanya 73 pasien yang kami rawat,” sebutnya, kemarin.

Rinciannya, pada pekan pertama Januari, memang terjadi penambahan dari Desember. Dari 19 pasien menjadi 57 pasien.

Tapi lonjakan tak sempat memenuhi semua kamar rawat inap di fasilitas Ulin. Gejala-gejala sakit pasien juga masih bisa diatasi perawat dan dokter. Tidak terlalu parah. Demikian klaim Suciati.

Mengapa tak terjadi lonjakan kasus, justru ketika warga lebih sibuk menyelamatkan diri dari banjir ketimbang memikirkan protokol. Mengapa?

“Mungkin kekebalan tubuh mulai terbentuk. Atau mungkin tuhan memberikan perlindungan. Karena tahu kita sedang diuji banjir,” ujarnya.

Tapi Suciati menjamin, jika lonjakan pasien muncul mendadak, mereka sudah siap. Tenaga kesehatan kontrak pun sudah disuruh bersiaga, siap dipanggil sewaktu-waktu.

Selain itu, stok alat pelindung diri (APD) level 3 juga masih aman. “Kami juga harus menjaga nakes dan pasien non covid dari penularan,” pungkasnya.

Bertahan karena Anak

JUMLAH pengungsi di Terminal Tipe B Banjarmasin semakin berkurang. Pada awal banjir, gedung di batas kota itu sempat menampung 504 pengungsi. Kini sudah berkurang lebih dari setengahnya.

“Hanya sekitar 200 orang yang masih bertahan,” kata koordinator pengungsian setempat, Yan Sirani, kemarin (27/1).

Diceritakannya, sejak tiga hari lalu, satu demi satu pengungsi mulai pulang ke rumahnya masing-masing. Mengingat banjir sudah mulai surut.

“Kalau mau balik ke rumah, ya pulang saja. Sebenarnya tak ada pendataan,” tambahnya.

Sirani sendiri termasuk pengungsi. Rumahnya di Gang Andin Rama Jalan Ahmad Yani km 6 juga terendam.

“Saya di sini mengungsi sendirian. Keluarga saya mengungsi ke tempat lain. Kalau saya kembali ke rumah sekarang, siapa yang bakal membantu pengungsi lainnya? Relawan kan pulangnya harus yang terakhir,” ucapnya seraya tertawa.

Pantauan Radar Banjarmasin, kios dan lorong terminal yang semula sesak, sudah mulai lengang.

“Iya, ini mau siap-siap pulang. Air sudah surut. Rumah saya juga tak terendam lagi,” tutur Masriah.

Warga Pekapuran Raya itu termasuk gelombang pengungsi pertama. “Saya berempat dengan keluarga. Semuanya mengungsi kemari. Syukur di sini tak kekurangan apa-apa. Dilayani dengan baik,” tambahnya.

Salah satu yang masih bertahan adalah Dewi, warga Gang TVRI Jalan Ahmad Yani km 6. “Dulu airnya sepinggang, kini tinggal selutut. Tapi belum berani pulang,” ujarnya.

Mengapa ia memilih bertahan di pengungsian, Dewi rupanya masih mengkhawatirkan kesehatan dua anaknya yang masih kecil.

“Saya khawatir keduanya terserang penyakit gatal-gatal. Apalagi si kecil, yang umurnya dua tahun ini. Saya berharap, genangan air sudah benar-benar surut. Baru kembali ke rumah,” harapnya. (war/gmp/at/fud)

Most Read

Artikel Terbaru

/