alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Saturday, 2 July 2022

Banjir Surut, 900 Ton Sampah Menunggu Diangkut

BANJARMASIN – Banjir surut, Pemko Banjarmasin masih harus menghadapi rentetan dampaknya. Salah satunya gunungan sampah.

Pantauan Radar Banjarmasin kemarin (27/1) siang, luberan sampah muncul di banyak tempat penampungan sementara (TPS). Terutama di Banjarmasin Timur dan Selatan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin, Mukhyar pun menambah jam lembur petugas kebersihan.

Favehotel Banjarmasin

Lalu, menambah truk angkutan sampah di beberapa lokasi. Seperti di TPS Pasar Kuripan, TPS Jalan Veteran, TPS Jalan Pramuka dan TPS Kelayan.

Sebab, di kawasan itu, tumpukan sampah sudah meluber hingga ke badan jalan. Jadi truk DLH yang sudah kelar beroperasi di TPS lain, dikerahkan menuju empat titik tersebut.

Diakui Mukhyar, DLH kewalahan. Mengingat jumlah “pasukan kuning” yang terbatas.

Sudah lembur sampai subuh, paginya disuruh turun lagi. “Kami juga menimbang kondisi kesehatan petugas. Kalau masih fit dan sanggup, kami turunkan untuk membantu mengangkuti sampah yang semakin menumpuk,” jelasnya.

Yang dihadapi DLH bukan hanya sampah domestik. Yang menumpuk di rumah warga selama akses jalan terendam banji. Tapi juga sampah yang larut dibawa banjir.

Atau barang dan perabot di rumah yang rusak terendam air. Mukhyar bahkan menaksir, kenaikan sampah mencapai 300 persen.

Kabid Pengelolaan dan Penanganan Sampah DLH, Marzuki menambahkan, rata-rata sampah tambahan mencapai 75 ton per hari.

“Kalikan saja 12 hari (selama bencana banjir), setidaknya ada 900 ton sampah yang menunggu untuk diangkut dan dibuang,” bebernya.

Jika ingin menolong DLH, Marzuki mengimbau warga untuk bijak dalam mengelola sampahnya. “Pertama, pisahkan antara sampah rumah tangga dengan sampah dampak banjir,” pintanya.

Kedua, sampah dibungkus dengan rapi dan rapat. Ketiga, jangan bebani TPS dengan sampah barang elektronik atau perabot kayu yang rusak.

Marzuki menyarankan agar sampah sisa banjir dikoordinir oleh para ketua rukun tetangga. Diangkut dengan angkutan khusus (dibiayai swadaya) untuk dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) di Basirih.

“Kemampuan, sarana dan jumlah personel DLH itu terbatas. Jadi perlu kerja sama masyarakat untuk menangani sampah banjir ini,” tutupnya. (war/fud/ema)

BANJARMASIN – Banjir surut, Pemko Banjarmasin masih harus menghadapi rentetan dampaknya. Salah satunya gunungan sampah.

Pantauan Radar Banjarmasin kemarin (27/1) siang, luberan sampah muncul di banyak tempat penampungan sementara (TPS). Terutama di Banjarmasin Timur dan Selatan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin, Mukhyar pun menambah jam lembur petugas kebersihan.

Favehotel Banjarmasin

Lalu, menambah truk angkutan sampah di beberapa lokasi. Seperti di TPS Pasar Kuripan, TPS Jalan Veteran, TPS Jalan Pramuka dan TPS Kelayan.

Sebab, di kawasan itu, tumpukan sampah sudah meluber hingga ke badan jalan. Jadi truk DLH yang sudah kelar beroperasi di TPS lain, dikerahkan menuju empat titik tersebut.

Diakui Mukhyar, DLH kewalahan. Mengingat jumlah “pasukan kuning” yang terbatas.

Sudah lembur sampai subuh, paginya disuruh turun lagi. “Kami juga menimbang kondisi kesehatan petugas. Kalau masih fit dan sanggup, kami turunkan untuk membantu mengangkuti sampah yang semakin menumpuk,” jelasnya.

Yang dihadapi DLH bukan hanya sampah domestik. Yang menumpuk di rumah warga selama akses jalan terendam banji. Tapi juga sampah yang larut dibawa banjir.

Atau barang dan perabot di rumah yang rusak terendam air. Mukhyar bahkan menaksir, kenaikan sampah mencapai 300 persen.

Kabid Pengelolaan dan Penanganan Sampah DLH, Marzuki menambahkan, rata-rata sampah tambahan mencapai 75 ton per hari.

“Kalikan saja 12 hari (selama bencana banjir), setidaknya ada 900 ton sampah yang menunggu untuk diangkut dan dibuang,” bebernya.

Jika ingin menolong DLH, Marzuki mengimbau warga untuk bijak dalam mengelola sampahnya. “Pertama, pisahkan antara sampah rumah tangga dengan sampah dampak banjir,” pintanya.

Kedua, sampah dibungkus dengan rapi dan rapat. Ketiga, jangan bebani TPS dengan sampah barang elektronik atau perabot kayu yang rusak.

Marzuki menyarankan agar sampah sisa banjir dikoordinir oleh para ketua rukun tetangga. Diangkut dengan angkutan khusus (dibiayai swadaya) untuk dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) di Basirih.

“Kemampuan, sarana dan jumlah personel DLH itu terbatas. Jadi perlu kerja sama masyarakat untuk menangani sampah banjir ini,” tutupnya. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/