alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Rumah Masih Tergenang, Pengungsi Pilih Pulang

MARTAPURA – Korban banjir di Kabupaten Banjar meninggalkan masjid Al Karomah Martapura. Mereka berangsur-angsur pulang ke rumah masing-masing. Pengungsi menurun drastis dari 1.580 orang, tersisa 150-an jiwa. Angka tersebut makin menyusut karena air mulai surut kendati rumah warga masih tergenang.

Sementara, beberapa pengungsi di Aula dan Kantor Kecamatan Martapura Kota serta kantor Dinas Sosial Banjar Desa Indrasari, masih memilih bertahan karena banjir masih tinggi. Dari 640-an pengungsi, saat ini tidak lebih dari 200-an orang. Sebagian warga masih bolak balik rumah dan ke lokasi pengungsi.

Ketinggian air beberapa jalan penghubung antar desa menyusut kendati banjir tetap merendam kawasan yang biasa kering. Palung Sungai Martapura masih meluap dan relatif tinggi karena jalan-jalan di sepanjang aliran sungai masih tergenang tinggi.

Favehotel Banjarmasin

Zaleha, pengungsi dari Pekauman mengaku tidak ada pilihan lain selain pulang ke rumah dari Alkaromah. Ia bersama tetangganya memilih pulang bersama kendati beberapa rumah di sekitar tenggelam. Sehingga, memilih tempat mengungsi di rumah kerabat di desa yang sama.“Rumah saya masih tergenang sekitar 10 cm. terpaksa pulang untuk menjaga rumah dan duit habis tinggal di lokasi pengungsian,” ujarnya.

Anak-anak yang ikut mengungsi, terangnya sangat boros. Selalu meminta uang untuk jajan selama di lokasi pengungsian. Sedangkan suami tidak ada mata pencaharian akibat terkendala banjir. Sesampai ke rumah, semua barang rusak. Tidak punya bahan memasak dan tidur seadanya karena lantai masih basah dan kotor. “Kami sepakat pulang dari Al Karomah karena dua anak-anak demam tinggi. Nenek sudah tidak betah selama 8 hari di pengungsian,” ungkap Zaleha lagi.

Hal sama dialami oleh Roni dari Pekauman yang kebanjiran selama 8 hari penuh. Lantai dan dinding rumah rusak dan rapuh. Rumah papan yang ditempatinya bersama satu anak menyisakan aroma bau pasca banjir karena terendam. Selama ini, rumahnya bebas banjir sehingga tidak menyangka bakal mengungsi. Air cepat naik dibanding turun yang memerlukan waktu berminggu-minggu.

Terpisah, Camat Martapura Ramli membenarkan, pengungsi mulai kembali ke rumah masing-masing. Martapura dinyatakan Ramli kawasan yang paling terdampak. Hanya Kelurahan Sekumpul, Desa Pesayangan Selatan, dan Indrasari yang bebas Banjir. Sisanya, sebanyak 18 desa dan 6 kelurahan terendam mencapai 100 persen dan korban meninggal sekitar 5 orang.

Hal sama diungkapkan oleh Camat Martapura Barat Sumardi. Jalan tembus ke Martapura Barat hanya bisa menerobos Desa Cindai Alus atau memutar melalui Sungai Tabuk ke Jalan Martapura Lama. Sebanyak 14 desa se-Martapura Barat kebanjiran. Sampai hari ini banyak terisolir kecuali melalui jalur air.

“Wilayah kami sangat terdampak dan banjirnya masih tinggi. Bantuan mulai datang dari relawan, donatur, dan Pemkab Banjar. Tinggal menunggu 1 ton beras dari BPBD Banjar,” kata Sumardi.

Sementara itu, Bupati Banjar H Khalilurrahman mengatakan semua logistik telah disalurkan ke kecamatan. Kemudian, para kepala desa yang berkoordinasi ke kecamatan masing-masing. Bantuan untuk dapur umum saja dan menjamin logistik selama banjir aman dan terkendali. Bahkan air bersih sudah disalurkan kepada warga Kecamatan Sungai Tabuk, Astambul, dan Martapura Barat.(mam/ran/ema)

MARTAPURA – Korban banjir di Kabupaten Banjar meninggalkan masjid Al Karomah Martapura. Mereka berangsur-angsur pulang ke rumah masing-masing. Pengungsi menurun drastis dari 1.580 orang, tersisa 150-an jiwa. Angka tersebut makin menyusut karena air mulai surut kendati rumah warga masih tergenang.

Sementara, beberapa pengungsi di Aula dan Kantor Kecamatan Martapura Kota serta kantor Dinas Sosial Banjar Desa Indrasari, masih memilih bertahan karena banjir masih tinggi. Dari 640-an pengungsi, saat ini tidak lebih dari 200-an orang. Sebagian warga masih bolak balik rumah dan ke lokasi pengungsi.

Ketinggian air beberapa jalan penghubung antar desa menyusut kendati banjir tetap merendam kawasan yang biasa kering. Palung Sungai Martapura masih meluap dan relatif tinggi karena jalan-jalan di sepanjang aliran sungai masih tergenang tinggi.

Favehotel Banjarmasin

Zaleha, pengungsi dari Pekauman mengaku tidak ada pilihan lain selain pulang ke rumah dari Alkaromah. Ia bersama tetangganya memilih pulang bersama kendati beberapa rumah di sekitar tenggelam. Sehingga, memilih tempat mengungsi di rumah kerabat di desa yang sama.“Rumah saya masih tergenang sekitar 10 cm. terpaksa pulang untuk menjaga rumah dan duit habis tinggal di lokasi pengungsian,” ujarnya.

Anak-anak yang ikut mengungsi, terangnya sangat boros. Selalu meminta uang untuk jajan selama di lokasi pengungsian. Sedangkan suami tidak ada mata pencaharian akibat terkendala banjir. Sesampai ke rumah, semua barang rusak. Tidak punya bahan memasak dan tidur seadanya karena lantai masih basah dan kotor. “Kami sepakat pulang dari Al Karomah karena dua anak-anak demam tinggi. Nenek sudah tidak betah selama 8 hari di pengungsian,” ungkap Zaleha lagi.

Hal sama dialami oleh Roni dari Pekauman yang kebanjiran selama 8 hari penuh. Lantai dan dinding rumah rusak dan rapuh. Rumah papan yang ditempatinya bersama satu anak menyisakan aroma bau pasca banjir karena terendam. Selama ini, rumahnya bebas banjir sehingga tidak menyangka bakal mengungsi. Air cepat naik dibanding turun yang memerlukan waktu berminggu-minggu.

Terpisah, Camat Martapura Ramli membenarkan, pengungsi mulai kembali ke rumah masing-masing. Martapura dinyatakan Ramli kawasan yang paling terdampak. Hanya Kelurahan Sekumpul, Desa Pesayangan Selatan, dan Indrasari yang bebas Banjir. Sisanya, sebanyak 18 desa dan 6 kelurahan terendam mencapai 100 persen dan korban meninggal sekitar 5 orang.

Hal sama diungkapkan oleh Camat Martapura Barat Sumardi. Jalan tembus ke Martapura Barat hanya bisa menerobos Desa Cindai Alus atau memutar melalui Sungai Tabuk ke Jalan Martapura Lama. Sebanyak 14 desa se-Martapura Barat kebanjiran. Sampai hari ini banyak terisolir kecuali melalui jalur air.

“Wilayah kami sangat terdampak dan banjirnya masih tinggi. Bantuan mulai datang dari relawan, donatur, dan Pemkab Banjar. Tinggal menunggu 1 ton beras dari BPBD Banjar,” kata Sumardi.

Sementara itu, Bupati Banjar H Khalilurrahman mengatakan semua logistik telah disalurkan ke kecamatan. Kemudian, para kepala desa yang berkoordinasi ke kecamatan masing-masing. Bantuan untuk dapur umum saja dan menjamin logistik selama banjir aman dan terkendali. Bahkan air bersih sudah disalurkan kepada warga Kecamatan Sungai Tabuk, Astambul, dan Martapura Barat.(mam/ran/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/