alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Kisah Penyintas Banjir: Pesan Kepada Keluarga Ida

Tanpa sepengetahuan keluarganya, Ida terdampar di tempat pengungsian. Sendirian dan sakit. Dia tampak lemah ketika digotong ke ambulans.

BANJARMASIN – Perempuan 49 tahun itu satu dari ratusan korban banjir yang mengungsi ke terminal pal enam di batas kota.

Favehotel Banjarmasin

Kemarin (21/1) siang, di lorong terminal, Ida terbaring lemah. Seorang diri, tidak ada yang mendampingi.

Ida menahan sakit di perutnya lantaran komplikasi penyakit. Selain tumor perut, ia juga menderita masalah jantung dan saluran kencing.

Ida sudah mengungsi sejak 15 Januari lalu dari rumah kontrakannya di kawasan Banjarmasin Timur.

Saat mengungsi dari rumah yang terendam, kondisinya ternyata memang sudah lemah.

Dari pengungsian, Ida dirujuk ke Rumah Sakit Sultan Suriansyah. Rawat inap antara tanggal 17 sampai 20 Januari. Begitu dinyatakan stabil, dipulangkan ke terminal.

“Saya diberi obat, tapi infus sudah dilepas,” ujarnya. “Saya disuruh pulang. Mau tidak mau ya pulang,” tambahnya.

Radar Banjarmasin kemudian mengkonfirmasi Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Banjarmasin, Bandiyah Marifah.

Sepengetahuan Bandiyah, Ida memang tinggal sebatang kara. Namun, ia enggan mengomentari mengapa Ida disuruh pulang dari rumah sakit.

“Saya tak bisa mengomentarinya karena ini berkaitan dengan instansi lain,” tegasnya.

Syukur, tak lama petugas di posko kesehatan pengungsian datang. Menggotong Ida menuju mobil ambulans untuk dibawa kembali ke rumah sakit guna memperoleh perawatan intensif.

“Kasihan juga dia di sini. Jadi kami rujuk saja ke Ansari Saleh,” ujar petugas.

Sebelum pintu ambulans ditutup, Ida sempat menitipkan pesan. “Tolong sampaikan bahwa saya berada di pengungsian. Keluarga tidak tahu saya ada di sini,” ujarnya lirih.

Ketika dihubungi, Plt Direktur RSUD Sultan Suriansyah, dr Asmaul Husna membenarkan bahwa Ida pernah dirawat di sana.

“Dari keterangan dokternya, kondisinya stabil saat dipulangkan. Tapi kami tidak tahu kalau ternyata kembali ke tempat pengungsian,” jelasnya.

Lalu, di mana keluarga Ida? Salah seorang pengungsi, Gusti Winda ternyata mengenal Ida.

Ida tinggal di Kompleks Hikmah Banua, Jalan Pramuka. “Dia ngontrak di rumah saya bersama suaminya. Kemarin, suaminya sempat panik mencarinya,” ujarnya.

Setahunya, sang suami juga sakit-sakitan. Apalagi ia seorang penyandang disabilitas.

Winda mengaku buta sama sekali dengan keberadaan keluarga Ida. “Suaminya pergi entah ke mana,” tutupnya. (war/fud/ema)

Tanpa sepengetahuan keluarganya, Ida terdampar di tempat pengungsian. Sendirian dan sakit. Dia tampak lemah ketika digotong ke ambulans.

BANJARMASIN – Perempuan 49 tahun itu satu dari ratusan korban banjir yang mengungsi ke terminal pal enam di batas kota.

Favehotel Banjarmasin

Kemarin (21/1) siang, di lorong terminal, Ida terbaring lemah. Seorang diri, tidak ada yang mendampingi.

Ida menahan sakit di perutnya lantaran komplikasi penyakit. Selain tumor perut, ia juga menderita masalah jantung dan saluran kencing.

Ida sudah mengungsi sejak 15 Januari lalu dari rumah kontrakannya di kawasan Banjarmasin Timur.

Saat mengungsi dari rumah yang terendam, kondisinya ternyata memang sudah lemah.

Dari pengungsian, Ida dirujuk ke Rumah Sakit Sultan Suriansyah. Rawat inap antara tanggal 17 sampai 20 Januari. Begitu dinyatakan stabil, dipulangkan ke terminal.

“Saya diberi obat, tapi infus sudah dilepas,” ujarnya. “Saya disuruh pulang. Mau tidak mau ya pulang,” tambahnya.

Radar Banjarmasin kemudian mengkonfirmasi Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Banjarmasin, Bandiyah Marifah.

Sepengetahuan Bandiyah, Ida memang tinggal sebatang kara. Namun, ia enggan mengomentari mengapa Ida disuruh pulang dari rumah sakit.

“Saya tak bisa mengomentarinya karena ini berkaitan dengan instansi lain,” tegasnya.

Syukur, tak lama petugas di posko kesehatan pengungsian datang. Menggotong Ida menuju mobil ambulans untuk dibawa kembali ke rumah sakit guna memperoleh perawatan intensif.

“Kasihan juga dia di sini. Jadi kami rujuk saja ke Ansari Saleh,” ujar petugas.

Sebelum pintu ambulans ditutup, Ida sempat menitipkan pesan. “Tolong sampaikan bahwa saya berada di pengungsian. Keluarga tidak tahu saya ada di sini,” ujarnya lirih.

Ketika dihubungi, Plt Direktur RSUD Sultan Suriansyah, dr Asmaul Husna membenarkan bahwa Ida pernah dirawat di sana.

“Dari keterangan dokternya, kondisinya stabil saat dipulangkan. Tapi kami tidak tahu kalau ternyata kembali ke tempat pengungsian,” jelasnya.

Lalu, di mana keluarga Ida? Salah seorang pengungsi, Gusti Winda ternyata mengenal Ida.

Ida tinggal di Kompleks Hikmah Banua, Jalan Pramuka. “Dia ngontrak di rumah saya bersama suaminya. Kemarin, suaminya sempat panik mencarinya,” ujarnya.

Setahunya, sang suami juga sakit-sakitan. Apalagi ia seorang penyandang disabilitas.

Winda mengaku buta sama sekali dengan keberadaan keluarga Ida. “Suaminya pergi entah ke mana,” tutupnya. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/