alexametrics
28.1 C
Banjarmasin
Monday, 27 June 2022

Petugas Kurang, Dinkes Kewalahan untuk Melayani di Pengungsian

PETUGAS yang melayani di posko kesehatan pengungsian kewalahan. Di Terminal Tipe B Kalsel, Jalan Ahmad Yani km 6, tak sedikit pengungsi sakit yang harus dilayani.

Pantauan Radar Banjarmasin kemarin (21/1) siang, sedikitnya ada 60 pengungsi yang mengantre.

“Dua hari sebelumnya, tanggal 19 dan 20, total kami memeriksa 141 pasien,” kata anggota tim kesehatan penanganan bencana banjir Banjarmasin yang enggan namanya dikorankan.

Favehotel Banjarmasin

Memang keluhannya cuma demam, pusing, mual dan penyakit kulit. Masalahnya, cuma ada enam petugas kesehatan yang berjaga di sana.

“Kalau stok obat, aman saja. Cukup. Hanya saja kami kekurangan tenaga,” keluhnya. “Selain itu, kami di posko juga memerlukan jaminan keamanan,” lanjutnya.

Setelah dikeluhkan pengungsi, lantaran posko itu cuma buka selama dua jam (antara pukul 10.00 sampai 12.00 Wita), kini posko itu dibuka selama 24 jam.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Dinas Kesehatan Banjarmasin, Bandiyah Marifah tak menampik kekurangan SDM tersebut.

Alasannya, tak sedikit petugas kesehatan yang kediamannya juga terendam banjir. Jalan-jalan yang terendam juga menyulitkan mobilitas Dinkes.

Jadi Bandiyah terpaksa mengandalkan yang ada. Mereka dituntut berkeliling dari satu tempat pengungsian ke tempat pengungsian lainnya.

Belum lagi menyambangi permukiman, di mana ada penduduk yang masih bertahan di tengah banjir.

Apa solusinya? Dinkes akan merekrut para relawan. Mereka akan dilatih untuk membantu pelayanan di posko pengungsian.

“Sebagai tambahan, kami juga punya tim untuk kasus gawat darurat dan rujukan, PSC 119. Siaga 24 jam penuh. Bisa dikontak di nomor 0811-5033-119,” ujarnya.

Ditanya soal lain, Bandiyah mengaku khawatir dengan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang menjangkiti pengungsi.

“Apalagi masih dalam situasi pandemi. Cuma memang penambahan kasus COVID-19 tak begitu meningkat,” tutupnya. (war/fud/ema)

PETUGAS yang melayani di posko kesehatan pengungsian kewalahan. Di Terminal Tipe B Kalsel, Jalan Ahmad Yani km 6, tak sedikit pengungsi sakit yang harus dilayani.

Pantauan Radar Banjarmasin kemarin (21/1) siang, sedikitnya ada 60 pengungsi yang mengantre.

“Dua hari sebelumnya, tanggal 19 dan 20, total kami memeriksa 141 pasien,” kata anggota tim kesehatan penanganan bencana banjir Banjarmasin yang enggan namanya dikorankan.

Favehotel Banjarmasin

Memang keluhannya cuma demam, pusing, mual dan penyakit kulit. Masalahnya, cuma ada enam petugas kesehatan yang berjaga di sana.

“Kalau stok obat, aman saja. Cukup. Hanya saja kami kekurangan tenaga,” keluhnya. “Selain itu, kami di posko juga memerlukan jaminan keamanan,” lanjutnya.

Setelah dikeluhkan pengungsi, lantaran posko itu cuma buka selama dua jam (antara pukul 10.00 sampai 12.00 Wita), kini posko itu dibuka selama 24 jam.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Dinas Kesehatan Banjarmasin, Bandiyah Marifah tak menampik kekurangan SDM tersebut.

Alasannya, tak sedikit petugas kesehatan yang kediamannya juga terendam banjir. Jalan-jalan yang terendam juga menyulitkan mobilitas Dinkes.

Jadi Bandiyah terpaksa mengandalkan yang ada. Mereka dituntut berkeliling dari satu tempat pengungsian ke tempat pengungsian lainnya.

Belum lagi menyambangi permukiman, di mana ada penduduk yang masih bertahan di tengah banjir.

Apa solusinya? Dinkes akan merekrut para relawan. Mereka akan dilatih untuk membantu pelayanan di posko pengungsian.

“Sebagai tambahan, kami juga punya tim untuk kasus gawat darurat dan rujukan, PSC 119. Siaga 24 jam penuh. Bisa dikontak di nomor 0811-5033-119,” ujarnya.

Ditanya soal lain, Bandiyah mengaku khawatir dengan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang menjangkiti pengungsi.

“Apalagi masih dalam situasi pandemi. Cuma memang penambahan kasus COVID-19 tak begitu meningkat,” tutupnya. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/