alexametrics
23.1 C
Banjarmasin
Monday, 27 June 2022

Banua Kebanjiran, Harga Pangan pun Ikut ‘Pasang Surut’

BANJARMASIN – Harga bahan pangan di Banjarmasin mulai bergejolak. Banjir yang masih merendam sebagian kabupaten di Kalsel disebut sebagai penyebab.

Pantauan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Banjarmasin Senin (18/1) dan Selasa (19/1) lalu, kenaikan harga terjadi di pasar tradisonal. Sementara di level distributor masih normal.

Plt Kepala Disperindag Banjarmasin, Ichrom M Tezar memberi contoh, cabai merah yang biasanya Rp35 ribu, kini melonjak menjadi Rp50 ribu per kilogram. Sedangkan cabai merah keriting, dari Rp45 ribu sudah menjadi Rp75 ribu per kilogram.

Favehotel Banjarmasin

“Cabai rawit merah lokal mengalami kelangkaan di pasaran. Kalau pun ada, harganya sudah Rp140 ribu per kilogram. Penurunan harga justru terjadi pada cabai rawit hijau. Dari Rp90 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram,” sebutnya kemarin (20/1).

Lalu, untuk ayam potong, untuk ayam ras naik sedikit. Dari Rp33 ribu menjadi Rp34 ribu per kilogram.

Sedangkan daging sapi, stabil pada harga Rp125 per kilogram. Stoknya pun masih cukup.

Tezar meminta masyarakat jangan terjebak panic buying. Karena untuk beras, minyak goreng, tepung, gula, dan mi instan belum mengalami kenaikan harga. Stoknya juga cukup sampai sebulan ke depan.

“Sedangkan sayuran seperti kol, wortel dan kentang juga masih stabil. Sebab, distribusi melalui Pelabuhan Trisakti alias jalur laut tidak terdampak,” jelasnya.

Lantas, bagaimana dengan sayur lokal seperti terong, bayam dan kangkung?

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Seksi Monitoring dan Pengendalian Pendaftaran Perusahaan Barang dan Bahan Pokok Penting, Trisnawati menjawab, terjadi kenaikan harga hingga dua kali lipat.

“Contoh, dari seikat harga Rp2 ribu menjadi Rp4 ribu,” bebernya. Penyebabnya, karena alur distribusi hingga perkebunan sayur juga terdampak banjir.

“Yang bisa kami lakukan adalah mengamankan jalur distribusi agar lancar. Lalu mengawasi distributor dan agen agar tidak menaikkan harga,” tutup Trisnawati.

Kenaikan harga itu diakui salah seorang pedagang di Pasar Antasari, Hj Erna. Terutama pada ayam ras.

“Karena dari tempat pengambilannya sendiri dibatasi. Contoh, kami memesan 50 ekor, tapi cuma dapat 15 ekor. Ya karena banjir. Distribusinya terkendala,” ujarnya kemarin. (war/fud/ema)

BANJARMASIN – Harga bahan pangan di Banjarmasin mulai bergejolak. Banjir yang masih merendam sebagian kabupaten di Kalsel disebut sebagai penyebab.

Pantauan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Banjarmasin Senin (18/1) dan Selasa (19/1) lalu, kenaikan harga terjadi di pasar tradisonal. Sementara di level distributor masih normal.

Plt Kepala Disperindag Banjarmasin, Ichrom M Tezar memberi contoh, cabai merah yang biasanya Rp35 ribu, kini melonjak menjadi Rp50 ribu per kilogram. Sedangkan cabai merah keriting, dari Rp45 ribu sudah menjadi Rp75 ribu per kilogram.

Favehotel Banjarmasin

“Cabai rawit merah lokal mengalami kelangkaan di pasaran. Kalau pun ada, harganya sudah Rp140 ribu per kilogram. Penurunan harga justru terjadi pada cabai rawit hijau. Dari Rp90 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram,” sebutnya kemarin (20/1).

Lalu, untuk ayam potong, untuk ayam ras naik sedikit. Dari Rp33 ribu menjadi Rp34 ribu per kilogram.

Sedangkan daging sapi, stabil pada harga Rp125 per kilogram. Stoknya pun masih cukup.

Tezar meminta masyarakat jangan terjebak panic buying. Karena untuk beras, minyak goreng, tepung, gula, dan mi instan belum mengalami kenaikan harga. Stoknya juga cukup sampai sebulan ke depan.

“Sedangkan sayuran seperti kol, wortel dan kentang juga masih stabil. Sebab, distribusi melalui Pelabuhan Trisakti alias jalur laut tidak terdampak,” jelasnya.

Lantas, bagaimana dengan sayur lokal seperti terong, bayam dan kangkung?

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Seksi Monitoring dan Pengendalian Pendaftaran Perusahaan Barang dan Bahan Pokok Penting, Trisnawati menjawab, terjadi kenaikan harga hingga dua kali lipat.

“Contoh, dari seikat harga Rp2 ribu menjadi Rp4 ribu,” bebernya. Penyebabnya, karena alur distribusi hingga perkebunan sayur juga terdampak banjir.

“Yang bisa kami lakukan adalah mengamankan jalur distribusi agar lancar. Lalu mengawasi distributor dan agen agar tidak menaikkan harga,” tutup Trisnawati.

Kenaikan harga itu diakui salah seorang pedagang di Pasar Antasari, Hj Erna. Terutama pada ayam ras.

“Karena dari tempat pengambilannya sendiri dibatasi. Contoh, kami memesan 50 ekor, tapi cuma dapat 15 ekor. Ya karena banjir. Distribusinya terkendala,” ujarnya kemarin. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/