alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Sunday, 26 June 2022

Kondisi Perajin Tahu di Tengah Melonjaknya Harga Kedelai: Mau Naikkan Harga Lagi, Pabrik Lain Menolak

Kondisi sulit sedang dialami para perajin tahu. Mereka harus memutar otak agar tetap mendapatkan untung di tengah melonjaknya harga kedelai, yang merupakan bahan baku pembuatan tahu dan tempe.

— Oleh: SUTRISNO, Banjarbaru

Radar Banjarmasin, kemarin (5/1) mendatangi salah satu pabrik tahu di Jalan Angkasa, Gang Manggis, Landasan Ulin, Banjarbaru untuk melihat aktivitas mereka ketika harga kedelai sekarang sedang tinggi-tingginya.

Favehotel Banjarmasin

Pabrik tersebut milik UD Maju Lestari. Saat wartawan koran ini tiba, pemiliknya: Deni Eka menyambut dengan ramah. Dirinya pun bersedia untuk diwawancarai.

Berbeda dengan sejumlah pabrik di daerah Jawa yang memilih tutup lantaran tingginya harga kedelai, tempat ini masih beraktivitas seperti biasa. Beberapa karyawan terlihat berbagi tugas memproduksi tahu.

Deni Eka mengatakan, pabrik mereka masih bisa berproduksi karena sejak April 2020 sudah menaikkan harga tahu. “Bulan April harga kedelai juga sempat naik, dari Rp8 ribu sekilo jadi Rp9 ribu. Jadi harga tahu kami naikkan 10 persen,” katanya.

Dengan kenaikan itu, tahu mentah ukuran tebal yang sebelumnya Rp45 ribu satu papan, sekarang jadi Rp50 ribu. Sedangkan yang tipis, dari Rp20 ribu jadi Rp22 ribu. “Kenaikan harga ini hasil kesepakatan semua pabrik tahu di Banjarbaru untuk menambah untung ketika kedelai naik,” ujarnya.

Namun, dengan semakin naiknya harga kedelai saat ini menurutnya harga tahu juga perlu dinaikkan lagi. “Karena sekarang kedelai sudah Rp9.150 sekilo. Kalau harga tahu tidak dinaikkan ketika kedelai semakin melonjak, lebih baik pabrik ditutup saja,” papar perempuan 33 tahun ini.

Namun, karena menaikkan harga harus melalui kesepakatan bersama. Dia menyebut, ada beberapa pabrik lain yang menolak harga tahu dinaikkan. “Padahal kalau kompak naik, kita ada keuntungan. Tapi, ini ada yang tidak mau menaikkan harga,” sebutnya.

Saat ini, dirinya hanya bisa berharap harga kedelai tidak naik lagi. Sehingga, mereka masih bisa berproduksi tanpa harus menaikkan harga tahu. “Karena sampai sekarang peminat tahu masih banyak. Sehari kami bisa menghabiskan 500 sampai 600 kilogram kedelai,” beber Deni.

Kedelai yang mereka gunakan sendiri kedelai impor dari Amerika Serikat. Sebab, ketersediaan kedelai lokal sudah menipis. “Sulit mencari yang lokal. Yang ada cuma kedelai Amerika. Mungkin itu yang membuat harganya mahal,” tuturnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Perindustrian Provinsi Kalimantan Selatan, Mahyuni mengatakan, sudah sewajarnya pabrik tahu menaikkan harga jualnya lantaran modalnya juga naik. “Kalau tidak, bisa juga dengan mengurangi ukuran,” jelasnya.

Diakuinya bahwa Indonesia masih banyak mengandalkan impor kedelai, sebab kedelai lokal belum mampu memenuhi kebutuhan pasar nasional.

“Sebenarnya ini peluang emas bagi petani lokal untuk meningkatkan produksi. Antara lain, melalui penambahan luas lahan tanam, juga penerapan teknologi pertanian tertentu,” paparnya.

Harapannya, SKPD terkait: Dinas Pertanian Hortikultura menganalisa peluang ini, namun menurutnya harus dilihat pula kesesuaian lahan dan unsur tanah.

Di Kalsel kata Mahyuni cukup banyak industri tahu dan Tempe. Di setiap kabupaten/Kota ada sekitar 20 hingga 30 industri. Terutama di Banjarmasin, Banjarbaru dan Kabupaten Banjar. (ris/ran/ema) 

Kondisi sulit sedang dialami para perajin tahu. Mereka harus memutar otak agar tetap mendapatkan untung di tengah melonjaknya harga kedelai, yang merupakan bahan baku pembuatan tahu dan tempe.

— Oleh: SUTRISNO, Banjarbaru

Radar Banjarmasin, kemarin (5/1) mendatangi salah satu pabrik tahu di Jalan Angkasa, Gang Manggis, Landasan Ulin, Banjarbaru untuk melihat aktivitas mereka ketika harga kedelai sekarang sedang tinggi-tingginya.

Favehotel Banjarmasin

Pabrik tersebut milik UD Maju Lestari. Saat wartawan koran ini tiba, pemiliknya: Deni Eka menyambut dengan ramah. Dirinya pun bersedia untuk diwawancarai.

Berbeda dengan sejumlah pabrik di daerah Jawa yang memilih tutup lantaran tingginya harga kedelai, tempat ini masih beraktivitas seperti biasa. Beberapa karyawan terlihat berbagi tugas memproduksi tahu.

Deni Eka mengatakan, pabrik mereka masih bisa berproduksi karena sejak April 2020 sudah menaikkan harga tahu. “Bulan April harga kedelai juga sempat naik, dari Rp8 ribu sekilo jadi Rp9 ribu. Jadi harga tahu kami naikkan 10 persen,” katanya.

Dengan kenaikan itu, tahu mentah ukuran tebal yang sebelumnya Rp45 ribu satu papan, sekarang jadi Rp50 ribu. Sedangkan yang tipis, dari Rp20 ribu jadi Rp22 ribu. “Kenaikan harga ini hasil kesepakatan semua pabrik tahu di Banjarbaru untuk menambah untung ketika kedelai naik,” ujarnya.

Namun, dengan semakin naiknya harga kedelai saat ini menurutnya harga tahu juga perlu dinaikkan lagi. “Karena sekarang kedelai sudah Rp9.150 sekilo. Kalau harga tahu tidak dinaikkan ketika kedelai semakin melonjak, lebih baik pabrik ditutup saja,” papar perempuan 33 tahun ini.

Namun, karena menaikkan harga harus melalui kesepakatan bersama. Dia menyebut, ada beberapa pabrik lain yang menolak harga tahu dinaikkan. “Padahal kalau kompak naik, kita ada keuntungan. Tapi, ini ada yang tidak mau menaikkan harga,” sebutnya.

Saat ini, dirinya hanya bisa berharap harga kedelai tidak naik lagi. Sehingga, mereka masih bisa berproduksi tanpa harus menaikkan harga tahu. “Karena sampai sekarang peminat tahu masih banyak. Sehari kami bisa menghabiskan 500 sampai 600 kilogram kedelai,” beber Deni.

Kedelai yang mereka gunakan sendiri kedelai impor dari Amerika Serikat. Sebab, ketersediaan kedelai lokal sudah menipis. “Sulit mencari yang lokal. Yang ada cuma kedelai Amerika. Mungkin itu yang membuat harganya mahal,” tuturnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Perindustrian Provinsi Kalimantan Selatan, Mahyuni mengatakan, sudah sewajarnya pabrik tahu menaikkan harga jualnya lantaran modalnya juga naik. “Kalau tidak, bisa juga dengan mengurangi ukuran,” jelasnya.

Diakuinya bahwa Indonesia masih banyak mengandalkan impor kedelai, sebab kedelai lokal belum mampu memenuhi kebutuhan pasar nasional.

“Sebenarnya ini peluang emas bagi petani lokal untuk meningkatkan produksi. Antara lain, melalui penambahan luas lahan tanam, juga penerapan teknologi pertanian tertentu,” paparnya.

Harapannya, SKPD terkait: Dinas Pertanian Hortikultura menganalisa peluang ini, namun menurutnya harus dilihat pula kesesuaian lahan dan unsur tanah.

Di Kalsel kata Mahyuni cukup banyak industri tahu dan Tempe. Di setiap kabupaten/Kota ada sekitar 20 hingga 30 industri. Terutama di Banjarmasin, Banjarbaru dan Kabupaten Banjar. (ris/ran/ema) 

Most Read

Artikel Terbaru

/