alexametrics
30.1 C
Banjarmasin
Tuesday, 28 June 2022

Khawatir Terjadi Eksploitasi Anak, Badut Jalanan Ditertibkan

Menghadapi badut jalanan, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina memerintahkan Satpol PP untuk menggencarkan patroli.

BANJARMASIN – Target utamanya adalah pelajar atau anak di bawah umur yang berada di balik kostum badut. Ibnu khawatir, kalau dibiarkan, terjadi eksploitasi anak.

Favehotel Banjarmasin

“Kami akan bijaksana,” janjinya, kemarin (8/1). “Patroli ini memantau siapa badutnya, anak kecil atau orang dewasa. Kalau banyak anak-anak, maka akan ditertibkan,” tegasnya.

Pengemis berkostum tokoh kartun atau komik itu semakin marak. Mudah sekali ditemukan di pertigaan atau perempatan lampu merah.

Penyebabnya, apalagi kalau bukan pandemi. Resesi ekonomi memaksa warga mengais rezeki dengan cara apa saja.

Ibnu menduga, selama sekolah-sekolah ditutup, sebagian anak-anak tergerak untuk membantu menambah penghasilan orang tuanya. “Sebelum pandemi, mereka sibuk dengan bangku sekolah,” ujarnya.

Ibnu lalu mengutip hasil penelitian, bahwa hanya 50 persen pelajar yang mampu mengikuti pembelajaran daring.

“Sisanya belajar apa? Ya tidak belajar. Itu yang dikhawatirkan, lost learning bisa berujung lost generation,” tegasnya.

Bagi Ibnu, inilah alasan mengapa Dinas Pendidikan terus menyiapkan pembukaan sekolah. Agar anak-anak bisa kembali belajar tatap muka bersama gurunya. Tentu dengan menerapkan protokol secara ketat.

Dikonfirmasi terpisah, Plt Kepala Dinas Satpol PP dan Damkar Banjarmasin, Fahrurrazi mengaku siap menjalankan instruksi wali kota.

Dia akan mengajak Dinas Sosial dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A).

“Kemungkinan tak hanya penertiban. Perlu tindakan lain. Bisa jadi kami serahkan ke pengadilan untuk dikenai sanksi,” jelasnya.

Mengapa harus setegas itu? Diceritakannya, sudah berkali-kali Satpol PP menertibkan. Dan tak jarang ditemukan anak kecil di balik kostum badut.

Anak-anak itu kerap berdalih perlu untuk membeli gawai atau membantu kebutuhan ekonomi di rumah. Menerapkan jerat pasal eksploitasi anak menjadi tak mudah.

“Lebih 20 badut yang sudah ditertibkan. Bahkan kepala badutnya sampai kami sita. Dibuatkan surat pernyataan untuk tak mengulangi perbuatannya. Tapi tetap saja mereka kembali,” kisahnya.

“Bahkan mangkal di jalan sampai jam 11 malam. Sering kucing-kucingan sama petugas,” tutup Fahrurrazi.

Tergiur Duit 100 Ribu

TIGA badut sedang asyik bergoyang di tepi Jalan Sutoyo S, Teluk Dalam, kemarin (8/1) siang.

Mereka adalah IT, baru 11 tahun. Lalu IM yang berusia 12 tahun. Paling muda R, 10 tahun. Ketiganya mengaku tinggal di Teluk Tiram, Banjarmasin Barat.

IT mengenakan kostum Doraemon. IM mengenakan kostum Micky Mouse. Dan R mengenakan kostum Si Unyil.

Kepada Radar Banjarmasin, IT dan R mengaku masih duduk di bangku SD. Sedangkan IM sudah SMP.

Ketiganya tertarik menjadi badut jalanan karena tergiur penghasilan besar (setidaknya untuk kantong anak kecil).

“Sehari bisa dapat lebih dari Rp100 ribu,” sebut R.

R biasanya mangkal sejak jam 9 pagi dan baru pulang jam 4 sore. Uang itu kemudian dibagi dengan tempat penyewaan kostum.

Rp30 ribu untuk si pemilik kostum dan Rp70 ribu dibawa pulang ke rumah.

“Kami jadi badut karena keinginan sendiri, tidak disuruh atau didesak orang tua. Senang saja bisa dapat duit. Ketimbang bermain-main saja di kampung,” tambah siswa kelas IV itu.

Senada dengan IT. Bedanya, ia menjadi badut karena pengin membeli gawai. Agar bisa belajar daring seperti teman-temannya.

“Saya tidak punya hape, sulit belajar online. Mending ngamen jadi badut daripada dirumah tidak ngapa-ngapain,” kisahnya.

Siapa yang pernah terjaring razia Satpol PP? IT mengangkat tangan. Kostumnya disita, tapi ia tak jera.

“Diancam kalau masih menjadi badut maka dipenjara selama tiga bulan. Tapi harus bagaimana? Tak jadi badut tak punya uang,” keluhnya.

Ketiganya kian lihai dalam urusan kucing-kucingan dengan patroli petugas. “Kalau ada Pol PP kami lari, sembunyi ke gang-gang,” timpal IM kemudian tertawa. (war/fud/ema)

Menghadapi badut jalanan, Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina memerintahkan Satpol PP untuk menggencarkan patroli.

BANJARMASIN – Target utamanya adalah pelajar atau anak di bawah umur yang berada di balik kostum badut. Ibnu khawatir, kalau dibiarkan, terjadi eksploitasi anak.

Favehotel Banjarmasin

“Kami akan bijaksana,” janjinya, kemarin (8/1). “Patroli ini memantau siapa badutnya, anak kecil atau orang dewasa. Kalau banyak anak-anak, maka akan ditertibkan,” tegasnya.

Pengemis berkostum tokoh kartun atau komik itu semakin marak. Mudah sekali ditemukan di pertigaan atau perempatan lampu merah.

Penyebabnya, apalagi kalau bukan pandemi. Resesi ekonomi memaksa warga mengais rezeki dengan cara apa saja.

Ibnu menduga, selama sekolah-sekolah ditutup, sebagian anak-anak tergerak untuk membantu menambah penghasilan orang tuanya. “Sebelum pandemi, mereka sibuk dengan bangku sekolah,” ujarnya.

Ibnu lalu mengutip hasil penelitian, bahwa hanya 50 persen pelajar yang mampu mengikuti pembelajaran daring.

“Sisanya belajar apa? Ya tidak belajar. Itu yang dikhawatirkan, lost learning bisa berujung lost generation,” tegasnya.

Bagi Ibnu, inilah alasan mengapa Dinas Pendidikan terus menyiapkan pembukaan sekolah. Agar anak-anak bisa kembali belajar tatap muka bersama gurunya. Tentu dengan menerapkan protokol secara ketat.

Dikonfirmasi terpisah, Plt Kepala Dinas Satpol PP dan Damkar Banjarmasin, Fahrurrazi mengaku siap menjalankan instruksi wali kota.

Dia akan mengajak Dinas Sosial dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A).

“Kemungkinan tak hanya penertiban. Perlu tindakan lain. Bisa jadi kami serahkan ke pengadilan untuk dikenai sanksi,” jelasnya.

Mengapa harus setegas itu? Diceritakannya, sudah berkali-kali Satpol PP menertibkan. Dan tak jarang ditemukan anak kecil di balik kostum badut.

Anak-anak itu kerap berdalih perlu untuk membeli gawai atau membantu kebutuhan ekonomi di rumah. Menerapkan jerat pasal eksploitasi anak menjadi tak mudah.

“Lebih 20 badut yang sudah ditertibkan. Bahkan kepala badutnya sampai kami sita. Dibuatkan surat pernyataan untuk tak mengulangi perbuatannya. Tapi tetap saja mereka kembali,” kisahnya.

“Bahkan mangkal di jalan sampai jam 11 malam. Sering kucing-kucingan sama petugas,” tutup Fahrurrazi.

Tergiur Duit 100 Ribu

TIGA badut sedang asyik bergoyang di tepi Jalan Sutoyo S, Teluk Dalam, kemarin (8/1) siang.

Mereka adalah IT, baru 11 tahun. Lalu IM yang berusia 12 tahun. Paling muda R, 10 tahun. Ketiganya mengaku tinggal di Teluk Tiram, Banjarmasin Barat.

IT mengenakan kostum Doraemon. IM mengenakan kostum Micky Mouse. Dan R mengenakan kostum Si Unyil.

Kepada Radar Banjarmasin, IT dan R mengaku masih duduk di bangku SD. Sedangkan IM sudah SMP.

Ketiganya tertarik menjadi badut jalanan karena tergiur penghasilan besar (setidaknya untuk kantong anak kecil).

“Sehari bisa dapat lebih dari Rp100 ribu,” sebut R.

R biasanya mangkal sejak jam 9 pagi dan baru pulang jam 4 sore. Uang itu kemudian dibagi dengan tempat penyewaan kostum.

Rp30 ribu untuk si pemilik kostum dan Rp70 ribu dibawa pulang ke rumah.

“Kami jadi badut karena keinginan sendiri, tidak disuruh atau didesak orang tua. Senang saja bisa dapat duit. Ketimbang bermain-main saja di kampung,” tambah siswa kelas IV itu.

Senada dengan IT. Bedanya, ia menjadi badut karena pengin membeli gawai. Agar bisa belajar daring seperti teman-temannya.

“Saya tidak punya hape, sulit belajar online. Mending ngamen jadi badut daripada dirumah tidak ngapa-ngapain,” kisahnya.

Siapa yang pernah terjaring razia Satpol PP? IT mengangkat tangan. Kostumnya disita, tapi ia tak jera.

“Diancam kalau masih menjadi badut maka dipenjara selama tiga bulan. Tapi harus bagaimana? Tak jadi badut tak punya uang,” keluhnya.

Ketiganya kian lihai dalam urusan kucing-kucingan dengan patroli petugas. “Kalau ada Pol PP kami lari, sembunyi ke gang-gang,” timpal IM kemudian tertawa. (war/fud/ema)

Most Read

Artikel Terbaru

/